
Tinambung, 8 Juni 2026 — Udara dingin yang menyelimuti kawasan camping ground Desa Tinambung tidak mampu meredam semangat puluhan anak muda yang berkumpul untuk belajar, berdiskusi, dan merancang masa depan desa melalui riset yang berpihak kepada masyarakat. Selama tiga hari, sejak Sabtu (6/6) hingga Senin (8/6), lebih dari 30 peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan Aktivis Peneleh Jalur Relawan Riset, sebuah program kaderisasi yang memadukan pembelajaran metodologi riset dengan praktik langsung di tengah masyarakat.
Peserta yang hadir berasal dari tiga provinsi dan 12 perguruan tinggi berbeda. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Makassar, Palopo, Bone, hingga Kendari. Keberagaman latar belakang tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam memperkaya perspektif dan pengalaman selama proses pembelajaran berlangsung.
Kegiatan ini dipandu langsung oleh Dr. Ari Kamayanti, pakar riset berpihak yang telah lebih dari sembilan tahun mengembangkan pendekatan penelitian berbasis masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis mengenai riset sosial, tetapi juga diajak terlibat secara aktif dalam proses penggalian data dan pemetaan persoalan desa.
Menggunakan pendekatan Nusantara Participatory Approach (NPA), para peserta belajar memahami realitas sosial melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat. Metode ini menempatkan warga sebagai subjek utama dalam penelitian, sehingga hasil riset yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat.
Berbagai teknik partisipatif diterapkan selama kegiatan berlangsung. Melalui Transect Walk, peserta menyusuri wilayah desa untuk mengamati kondisi lingkungan, sumber daya, dan potensi yang dimiliki masyarakat. Kegiatan ini memungkinkan mereka melihat langsung dinamika kehidupan warga serta mengenali berbagai persoalan yang dihadapi desa.
Selain itu, peserta juga melaksanakan Musyawarah Terfokus, sebuah forum diskusi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat guna menggali informasi, aspirasi, dan harapan warga terhadap pembangunan desa. Forum ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan perspektif masyarakat dengan gagasan para peserta riset.
Metode lain yang digunakan adalah Sacred Framework, sebuah pendekatan yang berupaya memahami nilai-nilai, keyakinan, serta aspek-aspek budaya yang hidup dalam masyarakat. Pendekatan ini dianggap penting karena pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan fisik, tetapi juga menyangkut dimensi sosial, budaya, dan spiritual yang menjadi identitas masyarakat setempat.
Meski suhu malam di camping ground cukup menusuk tulang, suasana diskusi tetap berlangsung hangat hingga larut malam. Di bawah cahaya lampu sederhana dan ditemani secangkir kopi, para peserta terus bertukar pikiran, menganalisis temuan lapangan, serta menyusun berbagai rekomendasi yang berpotensi menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi desa.
Semangat kolaborasi menjadi salah satu nilai utama yang tampak selama kegiatan berlangsung. Para peserta dari berbagai disiplin ilmu saling berbagi sudut pandang dan pengalaman untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif. Perbedaan latar belakang justru menjadi modal penting dalam memperkaya proses pembelajaran dan pengembangan gagasan.





Hasil dari seluruh rangkaian kegiatan ini tidak akan berhenti sebagai laporan penelitian semata. Temuan dan rekomendasi yang dihasilkan akan dibahas lebih lanjut melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama aparatur desa dan pemangku kepentingan setempat. Langkah tersebut dilakukan agar hasil riset dapat diterjemahkan menjadi program pengabdian yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut panitia penyelenggara, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun tradisi riset yang tidak hanya berorientasi pada publikasi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan sosial yang konkret. Riset dipandang sebagai alat untuk mendengarkan suara masyarakat sekaligus merumuskan solusi yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Sebagai bentuk dokumentasi dan diseminasi pengetahuan, seluruh hasil pemikiran, temuan lapangan, serta refleksi peserta selama kegiatan akan dihimpun dalam sebuah buku ber-ISBN. Buku tersebut diharapkan menjadi sumber pembelajaran sekaligus inspirasi bagi generasi muda yang ingin menjadikan riset sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan Aktivis Peneleh Jalur Relawan Riset di Desa Tinambung menunjukkan bahwa penelitian tidak harus berlangsung di ruang-ruang akademik yang formal. Di tengah dinginnya alam terbuka, para peserta justru menemukan kehangatan melalui dialog, kolaborasi, dan semangat untuk menghadirkan perubahan bagi masyarakat desa. Dari Tinambung, lahir harapan baru bahwa riset dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat Indonesia.



