
Lombok Timur – Dialog publik bertema “Reformulasi Gerakan Pemuda NTB” sukses digelar di Auditorium IAIH NW Anjani, Lombok Timur. Kegiatan ini ditampilkan oleh pelajar, akademisi, serta berbagai elemen pemuda yang antusias mengikuti memutar diskusi.
Forum intelektual ini menghadirkan Aji Dedi Mulawarman sebagai narasumber utama, yang dikenal sebagai pelajar sekaligus pemikir di bidang sosial dan kepemudaan. Turut hadir Dekan Syariah IAIH NW Lombok Timur, Burhanuddin , yang memberikan perspektif keilmuan dan keislaman dalam pengembangan gerakan pemuda.
Dalam pemaparannya, Aji Dedi Mulawarman menekankan pentingnya pembaruan pola pikir dan strategi gerakan pemuda di Nusa Tenggara Barat agar lebih adaptif terhadap dinamika zaman. Ia menegaskan bahwa pemuda tidak cukup hanya aktif dalam gerakan sosial, tetapi juga harus memiliki kedalaman intelektual serta kapasitas inovatif dalam menghadapi tantangan global.
Lebih jauh lagi, ia menyoroti pentingnya konsolidasi pemikiran di kalangan pemuda. Menurutnya, di tengah arus perubahan yang cepat dan kompleks, gerakan pemuda kerap terfragmentasi dan hilangnya arah ideologi. Oleh karena itu, diperlukan penyatuan visi dan kesadaran kolektif agar gerakan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Pemuda harus melakukan konsolidasi pemikiran. Tanpa itu, gerakan akan mudah tercerai-berai dan kehilangan daya dorong perubahan,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya kesatuan aksi sebagai tindak lanjut dari konsolidasi tersebut. Dalam suaranya, gerakan pemuda harus diarahkan pada cita-cita besar bangsa, yakni terwujudnya Indonesia yang memiliki kedaulatan penuh atau zelfbestuur .
“Harus ada kesatuan aksi bersama untuk Indonesia yang zelfbestuur , Indonesia yang berdaulat secara politik, ekonomi, dan kebudayaan,” tegasnya.
Sementara itu, Burhanuddin menegaskan bahwa gerakan pemuda tidak boleh tercerabut dari nilai-nilai moral dan spiritual. Ia menekankan bahwa sinergi antara intelektualitas dan akhlak merupakan fondasi utama dalam membangun perubahan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Kegiatan ini juga berlangsung secara interaktif melalui sesi dialog antara narasumber dan peserta. Berbagai gagasan, kritik, serta kesepakatan solusi terkait peran pemuda dalam pembangunan daerah juga mengemuka, menjadikan forum ini sebagai ruang dialektika yang konstruktif dan reflektif.
Melalui dialog publik ini, diharapkan lahir kesadaran baru di kalangan pemuda NTB untuk membangun gerakan yang tidak hanya responsif terhadap isu, tetapi juga memiliki arah ideologis yang jelas, landasan intelektual yang kuat, serta berorientasi pada pemahaman bangsa.



