
banjir bandang himalaya
KORAN.PENELEH.ORG – Tim penyelamat menyisir lembah dan lereng bukit Himalaya pada hari Kamis (27/08) setelah banjir bandang menewaskan sedikitnya 359 orang dan menyebabkan hampir 1.000 orang hilang. Sementara itu, Nepal dan Tiongkok memperingatkan adanya risiko banjir susulan akibat penumpukan air di dua danau.
Kedua negara menyatakan bahwa runtuhnya gletser pada Rabu pagi memicu aliran deras berupa batu, es, lumpur, dan puing yang meluncur melalui sistem sungai pegunungan Himalaya.
Aliran tersebut menerjang desa-desa dan infrastruktur penting di sepanjang jalur yang ramai dilalui pendaki serta peziarah, yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa di Tibet. Dari jumlah orang yang hilang, setidaknya 540 di antaranya adalah warga negara asing.
Otoritas Nepal mengerahkan helikopter untuk mencari korban selamat dan menjatuhkan bantuan darurat bagi ribuan orang yang terisolasi di berbagai kota dan lembah, sementara tim layanan darurat mengevakuasi puluhan jenazah yang terbawa arus hingga ke dataran rendah.
Besarnya volume air dan puing yang terbawa arus kini berisiko memicu bencana lanjutan. Badan penanggulangan bencana Nepal memperingatkan bahwa permukaan air di danau yang terbentuk akibat penyumbatan Sungai Bhotekoshi oleh puing-puing di lokasi banjir terus meningkat dan berisiko jebol.
Di sisi lain perbatasan, Tiongkok menyatakan bahwa sekitar 3 juta meter kubik air, setara dengan kapasitas sekitar 1.200 kolam renang ukuran Olimpiade, diperkirakan akan mengalir masuk ke danau yang telah terbendung itu dalam tiga hari ke depan.
Terdapat risiko tinggi danau tersebut akan jebol, dengan puncak aliran diperkirakan terjadi sekitar tanggal 1 September, demikian laporan media pemerintah Tiongkok yang mengutip keterangan kementerian sumber daya air.
“Volume air terus meningkat, begitu pula risikonya,” ujar Zhu Jinfeng, seorang peneliti di departemen hidrologi kementerian tersebut, kepada penyiar negara CCTV.
Laporan media pemerintah menunjukkan bahwa hingga Kamis malam, tim penyelamat Tiongkok belum mencapai wilayah yang paling parah terdampak di sisi perbatasan Tiongkok, yakni pos lintas batas Gyirong, sementara petugas berupaya menyingkirkan puing-puing dari jalan akses utama menuju lokasi tersebut.
Pos lintas batas Gyirong memegang peranan penting dalam jaringan Belt and Road Tiongkok yang menghubungkan negara itu dengan Asia Selatan, dengan adanya pembangunan zona logistik dan area parkir di sana selama satu dekade terakhir.
Rekaman dramatis pada hari Rabu memperlihatkan derasnya aliran air berlumpur dan puing-puing yang menghantam serta menghancurkan berbagai bangunan di kawasan perbatasan tersebut dalam hitungan detik, sekaligus menerjang orang-orang yang sedang berusaha melarikan diri. (ABK/Red)



