
MALANG — Kuliah Berseri Mazhab Nusantara edisi ke-27 mengangkat tema “Perempuan Nusantara dalam Perspektif Jawa dan Malaysia”. Dalam kesempatan tersebut, Keynote Mazhab Nusantara, Assoc. Prof. Dr. Aji Dedi Mulawarman, mengajak peserta untuk menengok kembali akar spiritual dan kebudayaan Nusantara dalam memahami posisi perempuan sebagai salah satu fondasi utama peradaban.
Dalam paparannya, Aji Dedi mengawali pembahasan dengan mengajak peserta menembus batas waktu dan menggali kembali memori kolektif peradaban Nusantara. Ia menggunakan perspektif archetype of unconscious culture yang dikaitkan dengan pemikiran Carl Gustav Jung, sebagai pendekatan untuk membaca jejak spiritual dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, dalam konteks Nusantara, terdapat jalinan spiritual yang panjang dan tidak terputus. Jejak tersebut tidak hanya berbicara tentang kebudayaan, tetapi juga berkaitan dengan mata rantai kenabian dan konsep Nur Muhammad sebagai bagian dari pemahaman spiritual tentang asal-usul peradaban manusia.
Dari perspektif tersebut, perempuan ditempatkan bukan sekadar sebagai bagian dari struktur sosial, tetapi sebagai ibu, ummi, pengayom, sekaligus penjaga keberlangsungan peradaban.
Aji Dedi juga menyoroti makna kebudayaan dari istilah “perempuan” yang dikaitkan dengan kata empu, yakni sosok yang memiliki kehormatan, pengetahuan, dan otoritas dalam menciptakan serta menjaga kehidupan. Ia kemudian menghubungkannya dengan istilah umm dan ummah dalam khazanah Qur’ani, yang menurutnya memberikan gambaran bahwa peradaban memiliki hubungan erat dengan fungsi pengasuhan dan pengayoman.
“Peradaban yang beradab tidak pernah dibangun di atas dominasi yang merusak, melainkan memancar dari rahim pengayoman dan daya asuh seorang ibu,” demikian gagasan utama yang ditekankan dalam keynote tersebut.
Dalam perspektif sejarah Nusantara, Aji Dedi kemudian menghadirkan sejumlah figur perempuan yang menunjukkan kekuatan kepemimpinan, keteguhan, kecerdasan, dan daya pengayoman. Ia menyebut Ratu Shima, Tribhuwana Tunggadewi, Tjoet Nyak Dhien, dan R.A. Kartini sebagai bagian dari jejak panjang perempuan Nusantara dalam membentuk arah sejarah.
Ia juga mengangkat sosok Rustina, istri HOS Tjokroaminoto, sebagai contoh perempuan yang bekerja melalui ruang pengasuhan dan keluarga. Menurutnya, rumah bukan sekadar ruang domestik, tetapi dapat menjadi rahim pergerakan dan tempat lahirnya gagasan serta kepemimpinan.
Namun, pembahasan tidak berhenti pada romantisme sejarah. Aji Dedi membawa perspektif tersebut untuk membaca kondisi Nusantara hari ini.
Menurutnya, perempuan Nusantara saat ini sedang berhadapan dengan persoalan besar berupa krisis ekologis, korupsi, eksploitasi sumber daya alam, serta erosi mental dan spiritual masyarakat. Tanah, air, dan udara yang semestinya dijaga justru mengalami eksploitasi akibat orientasi kekuasaan dan akumulasi material.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk luka terhadap “Ibu Nusantara”.
“Ketika tanah dianggap sekadar komoditas, hutan digunduli tanpa rasa takzim, dan kekayaan alam dikeruk demi akumulasi materi segelintir pihak, di situlah jiwa keperempuanan Nusantara—yang bertugas menjaga, memelihara, dan menumbuhkan—mengalami penistaan yang amat dalam,” tegasnya.
Lebih jauh, Aji Dedi memandang bahwa persoalan yang dihadapi Nusantara bukan hanya persoalan politik, ekonomi, atau lingkungan, tetapi juga merupakan krisis kerohanian. Hilangnya semangat ngopeni atau mengasuh sesama dinilai sebagai tanda semakin rapuhnya ikatan sosial dan spiritual masyarakat.
Ia mengkritik cara pandang peradaban yang menempatkan kekuasaan dan dominasi sebagai pusat kehidupan. Dalam pandangannya, pendekatan semacam itu berpotensi melahirkan kerusakan ekologis sekaligus krisis kemanusiaan.
Karena itu, perempuan masa kini, menurut Aji Dedi, memiliki posisi strategis dalam proses pemulihan peradaban. Perempuan tidak hanya ditempatkan dalam ruang domestik, tetapi juga sebagai penjaga ekologi, ilmuwan, pemikir, penenun kebudayaan, dan penggerak perubahan sosial.
“Yang bergerak membesarkan nama Nusantara bukan sedang meniru peradaban luar, melainkan sedang membangkitkan kembali kekuatan aslinya,” ujarnya.
Melalui Kuliah Berseri Mazhab Nusantara edisi ke-27 ini, Aji Dedi mengajak peserta untuk melihat kembali identitas Nusantara dengan perspektif yang lebih holistik. Kebangkitan Nusantara, menurutnya, harus diarahkan pada pemulihan keseimbangan antara manusia, alam, kebudayaan, dan spiritualitas.
Pada akhirnya, ia menegaskan pentingnya menghidupkan kembali daya Empu dan kepemimpinan berwatak Umm sebagai bagian dari upaya membangun peradaban yang berkesucian, berkeadilan, dan membawa rahmat bagi semesta.
Dalam kerangka itulah, perempuan Nusantara tidak hanya dipandang sebagai subjek sejarah, tetapi sebagai salah satu kunci untuk memulihkan kembali wajah peradaban Nusantara yang berakar pada pengayoman, kesetiaan, keikhlasan, dan keseimbangan.



