
MALANG — Kuliah Berseri Mazhab Nusantara edisi ke-27 menghadirkan pembahasan mengenai “Perempuan Nusantara: Konsepsi dan Laku Perempuan Jawa”. Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Fadjar Setiyo Anggraeni dari Universitas Wahid Hasyim, dengan mengajak peserta melihat kembali posisi perempuan Jawa bukan sekadar sebagai pelengkap sejarah, melainkan sebagai salah satu pilar utama keberlangsungan peradaban.
Dalam pemaparannya, Bunda Eni sapaan akrabnya, menegaskan bahwa sejarah besar sering kali lebih banyak mencatat nama raja, pemimpin, peperangan, dan perubahan politik. Sementara itu, terdapat “sejarah kecil” yang kerap luput dari perhatian, yakni ruang domestik dan spiritual tempat nilai, karakter, serta kebudayaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurutnya, perempuan Jawa memiliki posisi penting dalam ruang tersebut. Perempuan dipahami sebagai sumber nilai, rahim peradaban, sekaligus penjaga keseimbangan kosmis. Rahim tidak semata-mata dipahami sebagai fungsi biologis, tetapi sebagai ruang spiritual pertama tempat lahirnya tatanan moral dan peradaban.
Perempuan sebagai Penjaga Nilai
Bunda Eni menjelaskan bahwa kekuatan perempuan Jawa tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan yang tampak di ruang publik. Sebaliknya, kekuasaan tersebut sering bekerja secara halus melalui keteladanan, pengasuhan, pendidikan, dan pengambilan keputusan dari balik ruang domestik.
Perempuan menjadi “guru tanpa kelas” yang menanamkan budi pekerti melalui tindakan nyata. Dari ruang keluarga, perempuan menjadi mata rantai yang menghubungkan kearifan leluhur dengan generasi berikutnya sekaligus membentuk karakter calon pemimpin masa depan.
Kekuatan tersebut oleh Bunda Eni disebut sebagai bentuk silent influence, yakni pengaruh yang tidak selalu tampil di panggung depan tetapi memiliki daya menentukan terhadap arah keluarga, komunitas, bahkan sejarah. Dalam berbagai kisah babad Jawa, legitimasi raja dan keberlangsungan dinasti bahkan kerap dikaitkan dengan restu dan wahyu perempuan.
Laku Sunyi sebagai Kekuatan
Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam materi tersebut adalah “laku sunyi” atau silent agency. Kesunyian, menurut Fadjar, bukan berarti pasif atau tidak berdaya. Kesunyian dapat menjadi tindakan yang dilakukan dengan kesadaran penuh.
Dalam konsep tersebut, perempuan Jawa memiliki strategi untuk menghadapi persoalan tanpa harus selalu menggunakan konfrontasi. Prinsipnya adalah menang tanpa merendahkan, dengan mengedepankan kecermatan, pengendalian diri, serta kemampuan menjaga relasi.
Hal tersebut kemudian terlihat dalam konsep ngemong, yaitu kemampuan untuk mengayomi dan merawat perbedaan agar tetap berada dalam ikatan harmoni sosial. Laku ngemong juga menjadi salah satu fondasi keberlanjutan kebudayaan Jawa karena nilai-nilai tersebut diwariskan melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Tirakat, Prihatin, dan Pasrah-Bener
Konsepsi perempuan Jawa juga tidak dapat dilepaskan dari askese batin. Bunda Eni menjelaskan bahwa tirakat, sabar, dan nrima tidak semestinya dipahami sebagai bentuk ketundukan pasif. Sebaliknya, ketiganya merupakan bentuk penguasaan diri dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Laku prihatin menjadi mekanisme untuk menata batin sekaligus menjaga keluarga dari keretakan. Dalam situasi krisis ekonomi maupun sosial, perempuan ditempatkan sebagai salah satu benteng ketahanan keluarga.
Sementara itu, prinsip “alon-alon waton kelakon, pasrah-bener” dipahami sebagai strategi ketenangan batin. Ketenangan bukan berarti menghindari tanggung jawab, melainkan menghindari konfrontasi yang terburu-buru, melakukan perhitungan secara matang, kemudian menyerahkan hasil akhir kepada kebenaran ilahi setelah kewajiban moral dan martabat dijalankan.
Ken Dedes dan Rahim Arah Zaman
Salah satu simbol penting yang dibahas adalah Ken Dedes. Dalam materi tersebut, tubuh Ken Dedes dibaca bukan semata-mata sebagai tubuh seorang tokoh sejarah, tetapi sebagai simbol kesucian dan legitimasi takdir politik Singhasari hingga Majapahit.
Rahim Ken Dedes ditafsirkan sebagai “rahim arah zaman”, karena dari rahimnya lahir raja-raja besar Nusantara. Dengan demikian, perempuan ditempatkan sebagai pemegang salah satu kunci penting dalam perjalanan politik dan kebudayaan Nusantara.
Namun, kisah Ken Dedes sekaligus memberikan pelajaran tentang bahaya penyalahgunaan nilai sakral perempuan. Tragedi Ken Arok dan Mpu Gandring dipandang sebagai gambaran ketika nilai-nilai feminin yang sakral dimanipulasi untuk memenuhi hasrat kekuasaan. Penyelewengan tersebut kemudian melahirkan bencana yang dampaknya menjalar lintas generasi.
Relevan untuk Masa Kini
Bunda Eni menilai konsepsi dan laku perempuan Jawa memiliki relevansi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman modern. Di tengah krisis nilai, konsep ketahanan keluarga berbasis kearifan batin dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun kembali daya tahan sosial.
Lebih jauh, nilai-nilai tersebut juga dapat dikembangkan menjadi paradigma kepemimpinan etis yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan keberlanjutan moral. Perspektif perempuan Nusantara juga dapat menjadi dasar bagi wacana kesetaraan dan pemberdayaan yang berangkat dari akar budaya Nusantara sendiri.
Materi tersebut kemudian ditutup dengan sebuah refleksi yang merangkum keseluruhan gagasan tentang posisi perempuan dalam perjalanan peradaban:
“Sejarah besar ditulis oleh raja. Masa depan ditenun oleh perempuan.”
Melalui materi “Konsepsi dan Laku Perempuan Jawa”, Mazhab Nusantara edisi ke-27 tidak hanya mengajak peserta membaca kembali sejarah perempuan, tetapi juga menempatkan pengalaman, nilai, dan laku perempuan sebagai bagian penting dalam memahami bagaimana sebuah peradaban dibangun, dirawat, dan diwariskan.



