
doom spending
Ada satu paradoks yang sedang tumbuh di kalangan anak muda Indonesia. Di satu sisi, gelar sarjana semakin banyak. Di sisi lain, mendapatkan pekerjaan yang sesuai setelah lulus tidak selalu mudah. Bahkan pada Mei 2026, lebih dari 1 juta orang dengan latar pendidikan Diploma IV hingga S3 tercatat menganggur.
Kementerian Ketenagakerjaan menyebut ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dan kebutuhan dunia kerja sebagai salah satu persoalan utama. Tetapi di tengah ketidakpastian itu, muncul fenomena lain: anak muda justru semakin sering membelanjakan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu mendesak.
Kopi mahal. Makan di restoran. Staycation. Konser. Gadget baru. Fashion. Traveling. Langganan berbagai aplikasi. Bahkan transaksi paylater. Fenomena ini belakangan populer dengan istilah doom spending, yakni menghabiskan uang hari ini karena masa depan terasa terlalu tidak pasti untuk dipikirkan.
Sekilas, keduanya seperti tidak berhubungan. Bagaimana mungkin seseorang khawatir belum mendapat pekerjaan, tetapi tetap membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan? Justru di situlah persoalan psikologisnya.
Ketika masa depan terasa tidak bisa dikendalikan, manusia cenderung mencari sesuatu yang masih bisa dikendalikan sekarang. Masa depan pekerjaan tidak bisa dipastikan. Harga rumah terasa semakin jauh. Persaingan kerja semakin ketat. Sementara media sosial setiap hari memperlihatkan teman sebaya yang sudah bekerja, menikah, membeli kendaraan, bepergian ke luar negeri, atau membangun bisnis.
Kita tidak bisa mengontrol semua itu, tetapi kita bisa membeli sesuatu. Dan untuk sesaat, membeli sesuatu memberikan perasaan bahwa kita masih punya kendali atas hidup sendiri. Masalahnya, rasa lega itu biasanya hanya sementara.
Doom spending bukan sekadar persoalan seseorang tidak bisa mengatur uang. Ia bisa menjadi bentuk coping, cara seseorang menghadapi stres atau kecemasan. ANTARA bahkan mencatat fenomena ini banyak dikaitkan dengan Gen Z yang hidup di tengah ketidakpastian masa depan dan kemudahan transaksi digital. Di sinilah media sosial ikut memainkan peran.
Anak muda bukan hanya melihat orang lain berhasil mendapatkan pekerjaan. Mereka juga melihat standar kehidupan yang harus dicapai: nongkrong di tempat tertentu, memakai barang tertentu, pergi ke tempat tertentu, dan memiliki pengalaman tertentu.
Akhirnya, konsumsi bukan lagi sekadar membeli barang. Ia menjadi cara untuk mengatakan, “Saya masih baik-baik saja.” Padahal di balik unggahan secangkir kopi, tiket konser, atau liburan akhir pekan, bisa saja ada seseorang yang sebenarnya sedang cemas memikirkan kapan mendapatkan pekerjaan tetap.
Ironisnya, semakin tidak pasti masa depan, semakin kuat godaan untuk menikmati hari ini. Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menghakimi generasi muda sebagai generasi boros. Tidak semua konsumsi adalah doom spending. Menikmati hasil kerja, pergi berlibur, membeli sesuatu yang disukai, atau makan di tempat yang nyaman bukanlah masalah.
Yang menjadi persoalan adalah ketika konsumsi digunakan untuk melarikan diri dari kecemasan, dilakukan berulang kali, dan akhirnya justru menciptakan masalah baru.
Sebab kecemasan karena belum mendapat pekerjaan tidak akan selesai setelah membeli sepatu baru. Ketidakpastian masa depan tidak hilang setelah checkout. Dan rasa tertinggal tidak benar-benar sembuh hanya karena kita bisa mengikuti gaya hidup orang lain.
Di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap masalah strukturalnya. Jika lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi masih menganggur, jawabannya tidak cukup dengan mengatakan, “Anak muda harus lebih hemat.” Ada persoalan skill mismatch, kualitas pendidikan, kesempatan kerja, upah, dan struktur ekonomi yang juga harus dibenahi.
Menurut saya, fenomena doom spending justru memberi kita cermin tentang kecemasan generasi muda. Mereka bukan tidak peduli masa depan.Mungkin justru karena terlalu memikirkan masa depan, mereka memilih mencari sedikit kebahagiaan yang bisa dibeli hari ini. Tantangannya adalah memastikan kebahagiaan itu tidak dibayar terlalu mahal oleh masa depan mereka sendiri.
Penulis: Ahmad Bagus Kazhimi



