
Jakarta, 22 Agustus 2026 – Dewan Pimpinan Pusat Partai Syarekat Islam Indonesia (DPP PSII) menggelar acara Mudzakah yang berlangsung khidmat hari ini. Forum yang dihadiri oleh seluruh pengurus pusat ini mengusung tema besar mengenai praksis pemikiran HOS Tjokroaminoto dalam politik dan kebangsaan.
Dalam acara yang menjadi ruang dialektika kebangsaan tersebut, hadir sebagai pembicara Aji Dedi Mulawarman. Ia dikenal sebagai penggagas Tjokroisme, sebuah gagasan yang ia kenalkan sebagai antitesis dari isme-isme yang lahir dari kebudayaan Barat seperti sosialisme dan kapitalisme, bahkan antitesis dari Madilog-nya Tan Malaka.
“Sosialisme, kapitalisme, dan isme-isme lain, terlalu rendah jika harus disandingkan dengan Islam sebagai isme. Karena Islam itu adalah Dien (Agama), maka cukup Tjokroisme saja yang bisa menjawab seluruh persoalan,” ujar Aji Dedi dengan tegas di hadapan para peserta.
Lebih jauh, Aji Dedi mengajak semua pihak untuk tidak hanya melihat sejarah masa lalu, tetapi juga memiliki peta masa kini. Namun, sebelum memasuki praktik politik yang lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya memahami gagasan besar HOS Tjokroaminoto yang tertuang dalam karya monumental “Memeriksai Alam Kebenaran”.
“Gagasan pak Tjokro itu bukan sekadar Islam sosialisme, pemikiran puncaknya ada tiga hal fundamental: menembah Gusti atau sholat, budi dan rasa atau akhlak, dan syiasah atau politik,” jelasnya.
Aji Dedi menekankan bahwa konsep ini memberikan pesan mendalam bagi para kader. “Artinya, kamu boleh berpolitik, tapi sholatmu dan akhlakmu harus bagus dulu, harus selesai dulu, baru berpolitik,” tegasnya.
Sebagaimana disampaikan oleh HOS Tjokroaminoto, “Politiek adalah amal perboeatan… Dengan hal jang demikian itoe, maka orang Islam jang tidak bertjita-tjita dan beramal politik, itoelah artinja mereka tidak berboeat menghendaki kedjadiannja ‘oemat islam’ sedangkan oemat islam itu bisanja hidoep sebagai soeatoe Oemat islam sedjati kalau mereka ada hak mengoeroes dan memerintah dirinja sendiri” (MAK hlm 50-51) .
Di akhir acara, Ketua Dewan Pusat PSII menyampaikan harapan besar atas digelarnya forum ini. Beliau berharap agar semangat Tjokroisme dan pesan moral dari “Memeriksai Alam Kebenaran” dapat menjadi landasan bagi kader PSII dalam berpolitik. “Kami berharap PSII ke depan tidak hanya menjadi partai yang memperjuangkan kepentingan umat, tetapi juga menjadi teladan dalam menjunjung tinggi ibadah dan akhlak mulia sebagai prasyarat utama dalam berpolitik,” ujarnya .
Dengan adanya penguatan ideologi berbasis ketauhidan dan akhlak, PSII optimis dapat membawa perubahan politik yang lebih beradab dan berkeadilan bagi Indonesia.


