
Malang (KORAN PENELEH ID) – Gerakan Kiri Nusantara menggelar diskusi publik bertajuk “Geopolitik Ekonomi di Era Prabowo” mengulas posisi ekonomi Indonesia di tengah gejolak politik global yang terus berubah, diselenggarakan di Cafe Kampung Mahasiswa, Dau, Malang, pada Sabtu (6/6/2026).
Forum tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Assoc. Prof. Dr. Aji Dedi Mulawarman (Aktivis Intelektual Kritis) dan Andy Sayuti, S.E., MM (Praktisi Bisnis) serta dihadiri oleh puluhan pemuda dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sebagian besar terafiliasi melalui organisasi kedaerahan.
Prabowo Dipertanyakan, Geopolitik Global Jadi Sorotan
Dalam pemaparannya, Dedi (sapaan publiknya) mempertanyakan ketegasan arah kebijakan pemerintahan Prabowo di tengah polarisasi global antara Blok Timur dan Blok Barat yang kian memanas.
“Sekarang itu yang kita mau lihat: Prabowo Subianto itu salah jalan atau tidak,” ujarnya di hadapan peserta.
Dedi menyebut ambiguitas posisi geopolitik Indonesia berdampak langsung pada melemahnya daya tawar nasional di berbagai sektor strategis. Indonesia dinilai terombang-ambing di antara dua kekuatan besar dunia tanpa sikap yang jelas, sehingga rentan dimanfaatkan oleh kepentingan asing.
Di tengah pemaparannya, ia bahkan melontarkan pertanyaan mendasar yang memantik respons antusias peserta diskusi, “Indonesia ini mau hancur atau dihancurkan?” tegasnya.


Kedaulatan Pangan Dikepung Rente Politik dan Kepentingan Global
Krisis pangan nasional menjadi topik yang paling dalam dibedah dalam forum tersebut. Dedi menyebut ketergantungan impor yang terus berlangsung bukan semata kegagalan kebijakan dalam negeri, melainkan bagian dari desain kepentingan geopolitik global yang tidak menghendaki Indonesia berdiri mandiri.
“Geopolitik global itu tidak suka kita swasembada pangan,” ujarnya, seraya menggambarkan bagaimana hampir seluruh sektor pangan strategis nasional kini dikuasai produk impor.
Sebagai jalan keluar, Dedi mendorong negara untuk berpihak pada kekuatan ekonomi rakyat. “Jadi kita harus berdaulat – daulat petani, daulat koperasi,” tulisnya dalam tayangan materi yang dipaparkan.
Di waktu yang sama, Andy Sayuti memperkuat analisis tersebut dari sisi struktur ekonomi politik. Ia menyebut ketidakmandirian pangan Indonesia dipelihara secara sistematis oleh jaringan bisnis rente yang melibatkan aktor-aktor politik sebagai penerima manfaat utama.
“Kita ini tidak mandiri pangan, pasti impor. Kenapa? Karena ada bisnis rente di situ oleh politisi kita,” tegasnya dalam pemaparannya.
Ia turut menyoroti dampak nyata dari kegamangan geopolitik terhadap sektor riil, yakni pelemahan nilai tukar rupiah yang terus membebani pelaku usaha dan memperburuk daya beli masyarakat luas.
Narasi Prabowo Diminta Turun Dibaca sebagai Gejala Geopolitik
Di penghujung diskusi, Dedi menyinggung fenomena yang tengah berkembang di ruang digital. Narasi yang mendorong Presiden Prabowo untuk mundur dari jabatannya disebut mulai masif berseliweran di media sosial.
Lebih lanjut ia juga menilai gejala tersebut perlu dikritisi sebagai bagian dari dinamika chaos geopolitik yang lebih besar dan terstruktur, bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan politik biasa yang sebagian besar masyarakat terima dari pemberitaan media sosial.
Diskusi Pendidikan Alternatif Pemuda Terus Berlanjut
Presidium Nasional Gerakan Kiri Nusantara, Muh Fadhir A.I Lamase, menegaskan bahwa forum ini bagian dari upaya membangun kesadaran kritis di kalangan generasi muda di tengah situasi kebangsaan yang ia nilai kian mengkhawatirkan.
“Ini adalah ruang-ruang pendidikan alternatif untuk merawat kesadaran pemuda di tengah keterpurukan situasi dan kondisi kebangsaan yang hampir di ujung tanduk,” terangnya kepada Koran Peneleh ID.
Ia menekankan keterlibatan anak muda memantau dinamika kebangsaan bukan pilihan, melainkan keharusan. Menurutnya, generasi muda hari ini adalah penentu arah bangsa dalam satu hingga dua dekade mendatang.
“Kita tidak boleh absen untuk memantau situasi kebangsaannya, karena ini akan menentukan nasib bangsa mendatang. Karena iut kita sebagai pemimpin masa depan tidak boleh gagap dalam mengambil keputusan strategis,” tambahnya.
Di akhir ia memastikan forum ini akan terus digulirkan sebagai agenda berkelanjutan Gerakan Kiri Nusantara, “Kita akan terus bangun diskusi seperti ini, saya tegaskan bahwa tidak sampai di sini, nantikan forum lanjutan yang pastinya kami inisiasi terus,” pungkasnya. (*)



