
Koran Peneleh – Iran menyatakan tidak akan tinggal diam menghadapi blokade yang diberlakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Para pejabat tinggi Tehran secara terbuka mengancam akan membalas dengan kekuatan militer, menyerang pelabuhan negara-negara tetangga di Teluk, dan menjadikan selat tersebut sebagai “pusaran kematian” bagi musuh.
Ancaman balasan ini disampaikan secara berlapis oleh berbagai institusi kekuasaan Iran, mulai dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Angkatan Laut, hingga para pembicara parlemen dan penasihat militer pemimpin tertinggi, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4) bahwa AS akan memblokade semua kapal yang mencoba masuk dan keluar dari selat strategis tersebut.
Pernyataan paling keras datang dari komando angkatan laut IRGC. Dalam sebuah unggahan di media sosial X, mereka memperingatkan bahwa “musuh akan terperangkap dalam pusaran kematian di selat tersebut jika mereka melakukan satu langkah yang salah.” Peringatan ini disertai dengan rekaman video drone yang menunjukkan bidikan bidik (crosshair) membidaki kapal-kapal laut, sebagai demonstrasi kemampuan serangan nyata yang siap dilancarkan kapan saja.
Ancaman Iran tidak hanya terbatas pada kapal perang AS. Juru bicara IRGC menyatakan bahwa keamanan pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah “untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun.” Jika keamanan pelabuhan Iran terancam oleh blokade, maka “tidak ada satu pun pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman.” Ancaman ini secara langsung menyasar negara-negara tetangga seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Kuwait yang selama ini menjadi sekutu atau mitra dagang AS.
“Setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz dengan dalih apa pun akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak dengan tegas,” demikian pernyataan resmi IRGC. Sementara itu, kapal-kapal non-militer yang ingin melintas diperbolehkan, tetapi harus tunduk pada peraturan khusus yang ditetapkan oleh Tehran.
Di ranah politik, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang baru saja memimpin delegasi negosiasi di Islamabad, bersikap tegas. “Jika mereka melawan, kami akan melawan. Jika mereka maju dengan logika, kami akan merespons dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji kehendak kami sekali lagi sehingga kami bisa memberi mereka pelajaran yang lebih besar,” ujarnya kepada wartawan usai kembali dari Pakistan.
Sementara itu, Panglima Angkatan Laut Iran, Laksamana Shahram Irani, justru meremehkan ancaman Trump. Ia menyebut ancaman blokade tersebut sebagai tindakan yang “sangat konyol dan menggelikan.” Irani menegaskan bahwa prajurit angkatan lautnya terus memantau dan mengawasi semua pergerakan armada AS di kawasan tersebut dan dalam kondisi siaga penuh.
Meskipun bersikap keras, Iran membuka sedikit ruang diplomatik. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengisyaratkan keterbukaan terhadap diplomasi dengan syarat AS mengubah sikapnya. “Jika pemerintah AS meninggalkan totalitarianisme dan menghormati hak-hak bangsa Iran, jalan menuju kesepakatan pasti akan ditemukan,” katanya. Namun ia juga memuji tim negosiatornya yang telah berusaha keras meski gagal di Islamabad.
Para penasihat militer senior juga ikut angkat bicara. Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, mengingatkan bahwa AS pernah mengalami kekalahan bersejarah di masa lalu ketika mencoba membuka Selat Hormuz. “Iran tidak akan membiarkan AS melakukannya,” tegasnya seraya menyatakan bahwa Iran memiliki “kartu-kartu kuat” untuk melawan blokade tersebut.
Di tengah ketegangan ini, AS telah mengerahkan lebih dari 15 kapal perang, termasuk kapal perusak Aegis, ke Selat Hormuz untuk memulai operasi blokade pada Senin pukul 14.00 GMT. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mempertanyakan logika di balik eskalasi ini melalui media sosial. “Bisakah ‘perang pilihan’ yang ilegal dimenangkan melalui ‘balas dendam pilihan’ terhadap ekonomi global? Apakah pernah ada gunanya memotong hidung sendiri untuk menampar wajah sendiri?” tulisnya, mengkritik tindakan AS yang dinilai merugikan perekonomian dunia hanya untuk menekan Iran.
Dengan kedua pihak sama-sama telah menyatakan kesiapan untuk bertempur dan menolak mundur, dunia kini menunggu detik-detik pertama pemberlakuan blokade. Jika kapal perang AS dan kapal cepat IRGC bertemu di perairan sempit Selat Hormuz, ancaman “pusaran kematian” bisa menjadi kenyataan. Satu-satunya penghalang adalah gencatan senjata dua pekan yang masih tersisa, namun dengan retorika yang memanas, gencatan senjata itu tampaknya hanya menunggu waktu untuk benar-benar runtuh.



