
Vatikan — Sebuah benturan langka antara kekuasaan duniawi dan spiritual sedang terjadi. Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik sedunia, dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak takut terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, setelah sang presiden melancarkan serangan pribadi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap paus kelahiran Amerika pertama dalam sejarah itu .
Ketegangan ini dipicu oleh perbedaan fundamental soal perang di Timur Tengah. Paus Leo, yang naik takhta pada 8 Mei 2025, secara konsisten menyerukan perdamaian dan mengecam kekerasan di tengah perang AS-Israel melawan Iran. Sebaliknya, Trump justru mengancam akan “menghancurkan seluruh peradaban” Iran sebelum gencatan senjata dua pekan tercapai .
Puncaknya terjadi pada Minggu (12/4) ketika Trump, melalui platform Truth Social-nya, melontarkan kritik pedas. Ia menyebut Paus Leo “LEMAH dalam hal Kejahatan, dan buruk untuk Kebijakan Luar Negeri” . Trump juga mengklaim bahwa sang paus hanya terpilih karena Vatikan ingin “menghadapi Donald J. Trump” dan bahwa Leo “tidak akan berada di Vatikan jika saya tidak berada di Gedung Putih” .
Dalam komentarnya kepada wartawan, Trump bahkan mengaku lebih menyukai saudara Paus Leo yang bernama Louis. “Louis sepenuhnya MAGA (Make America Great Again). Dia mengerti, dan Leo tidak,” ujar Trump, sebagaimana dilansir Anadolu Ajansı .
Paus Leo memberikan responsnya sehari kemudian, Senin (13/4), di dalam pesawat kepausan dalam perjalanan menuju Aljazair untuk memulai tur 11 hari ke empat negara Afrika . Dengan nada tenang namun tegas, ia menegaskan bahwa ia tidak akan terprovokasi.
“Saya tidak berniat untuk berdebat dengannya. Saya bukan seorang politisi,” ujar Paus Leo kepada wartawan di dalam pesawat, seperti dilansir Kompas.com dari AFP .
Ia menambahkan, “Saya tidak memiliki rasa takut, baik terhadap pemerintahan Trump maupun untuk berbicara lantang tentang pesan Injil. Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, mempromosikan perdamaian, dialog, dan hubungan multilateral antarnegara untuk menemukan solusi yang adil atas masalah-masalah dunia” .
Paus menekankan bahwa misi Gereja bukanlah politik. “Injil mengatakan, berbahagialah para pembawa damai. Saya percaya bahwa Gereja memiliki kewajiban moral untuk berbicara dengan sangat jelas menentang perang dan mendukung perdamaian serta rekonsiliasi,” tegasnya .
Kritik Trump terhadap Paus Leo ini juga menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari musuh bebuyutan AS, Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mengutuk penghinaan tersebut. “Atas nama bangsa besar Iran, saya mengutuk penghinaan terhadap Yang Mulia,” tulis Pezeshkian di media sosial X .
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengkritik pernyataan Trump, menyebut serangan terhadap Paus sebagai “serangan terang-terangan terhadap advokasi yang bertanggung jawab untuk perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan” di tengah “gemuruh bom dan hiruk pikuk para panglima perang” .
Perselisihan publik antara presiden AS dan paus bukanlah hal baru. Trump sebelumnya memiliki hubungan buruk dengan pendahulu Paus Leo, Paus Fransiskus, yang pernah menyebut kebijakan imigrasi Trump “bukanlah tindakan seorang Kristen”. Namun, serangan Trump terhadap Paus Leo kali ini dinilai lebih personal dan sengit, termasuk klaim bahwa kepausan Leo adalah hasil dari manuver politik semata .
Paus Leo XIV, yang bernama asli Robert Francis Prevost, lahir di Chicago pada 1955. Sebelum menjadi paus, ia adalah seorang misionaris Ordo St. Agustinus yang menghabiskan sebagian besar pelayanannya di Peru. Ia dikenal sebagai sosok moderat yang fokus pada keadilan sosial, imigran, dan lingkungan .
Hingga berita ini diturunkan, Trump belum memberikan respons atas pernyataan Paus Leo yang mengaku tidak takut padanya. Namun, yang jelas, benturan antara “pedang” Trump dan “salib” Paus Leo telah menambah dimensi baru dalam perang retorika yang menyertai konflik berdarah di Timur Tengah.



