
Koran Peneleh – Harga minyak global melonjak 8 persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz, menyusul kegagalan negosiasi dengan Iran di Islamabad, Pakistan, akhir pekan lalu.
Berdasarkan data perdagangan yang dilaporkan ANTARA News, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melonjak ke 102,59 dolar AS per barel pada Minggu malam (12/4/2026), sementara harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 8,2 persen menjadi 104,51 dolar AS per barel. Ini adalah lonjakan harga terbesar dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan kepanikan pasar atas kemungkinan terganggunya pasokan minyak dunia.
Krisis ini dipicu oleh pengumuman Wakil Presiden AS J.D. Vance pada Minggu pagi bahwa negosiasi langsung AS-Iran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Tim AS pulang dengan tangan kosong. Vance, yang memimpin delegasi AS, mengatakan bahwa Iran “bergerak ke arah kami, tetapi tidak cukup jauh.”
Gagal negosiasi ini sebenarnya terjadi hanya sehari setelah kedua belah pihak menyetujui gencatan senjata selama dua pekan. Namun dalam waktu kurang dari 24 jam, gencatan senjata itu praktis runtuh.
Trump kemudian bereaksi dengan mengumumkan bahwa AS akan memblokade Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, ia menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat semua kapal yang mencoba masuk dan keluar dari selat tersebut, terutama kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintas.
Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung bersumpah akan memulai blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Blokade itu dijadwalkan mulai berlaku pada Senin, 13 April 2026, pukul 14.00 GMT atau pukul 21.00 WIB.
Iran sendiri sejak awal perang pada 28 Februari lalu telah menutup Selat Hormuz untuk semua kapal kecuali kapal mereka sendiri. Iran mewajibkan kapal asing untuk berada di bawah kendali mereka dan membayar biaya jika ingin melintas. Kini AS membalas dengan blokade total.
Ancaman Trump ini langsung mendapat respons keras dari Iran. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, memperingatkan bahwa upaya militer asing untuk mengamankan selat justru akan memperburuk krisis dan ketidakstabilan keamanan energi global. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati selat akan dianggap melanggar gencatan senjata.
Bahkan lebih tegas lagi, seorang juru bicara militer Iran menyebut pembatasan AS terhadap pelayaran internasional sebagai “pembajakan.” Iran mengancam bahwa jika pelabuhan mereka terancam, maka tidak ada satu pun pelabuhan di Teluk atau Teluk Oman yang akan aman. Ancaman ini secara langsung menyasar negara-negara tetangga Iran seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.
Yang menarik, sekutu-sekutu AS sendiri menolak untuk terlibat. Negara-negara NATO seperti Inggris dan Prancis menyatakan bahwa mereka tidak akan ikut serta dalam blokade tersebut. Mereka justru menekankan perlunya membuka kembali jalur pelayaran. Ini melemahkan posisi AS secara diplomatik karena blokade laut yang efektif biasanya membutuhkan kekuatan koalisi.
Trump, bagaimanapun, tampak tidak terpengaruh. Dalam cuitannya di media sosial, ia mengklaim bahwa angkatan laut Iran telah “dihancurkan sepenuhnya” selama perang dan hanya tersisa kapal-kapal kecil. Ia memperingatkan bahwa jika kapal-kapal itu mendekati blokade AS, mereka akan “dieliminasi segera.”
Di tengah semua ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan bahwa upaya untuk menyelesaikan konflik masih terus dilakukan. Namun dengan blokade yang sudah dijadwalkan mulai berlaku dan harga minyak yang sudah menembus 100 dolar AS, harapan akan solusi diplomatik terasa semakin tipis.
Dampak dari blokade ini tidak hanya dirasakan di pasar minyak. Iran, melalui surat kepada PBB pada Senin, bahkan menuntut ganti rugi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania karena dinilai telah mengizinkan wilayah mereka digunakan dalam perang AS-Israel melawan Iran.
Dengan semua perkembangan ini, dunia kini berada di ambang krisis energi dan konflik militer terbuka di Selat Hormuz, jalur air yang menjadi urat nadi ekonomi global. Sementara harga minyak terus bergerak naik, masyarakat dunia bersiap menghadapi dampak inflasi yang hampir pasti mengikuti.



