
Oleh: Hendra Jaya (Dewan Syuro’ Aktivis Peneleh)
Setelah Sholat Subuh, pagi ini saya membaca al-Qur’an. Akhir-akhir ini, saya tidak lagi banyak membaca Arabnya, tapi langsung menyelami terjemahannya, sesekali jika dalam kebingungan saya membaca tafsir dari ayat-ayat tersebut. Pagi ini saya masih di seputaran surah al-Baqarah, karena memang polanya loncat sana sini, dari surah ke surah. Entah mengapa, pagi ini, surah pilihannya al-Baqarah, yang pasti saya tertegun lama saat membaca kisah Musa. Ayat 51 adalah salah satu ayat yang membuat saya merenung lama.
Mengapa tidak demikian? Ayat ini tidak hanya membawa saya memotret masa lalu, tapi juga membawa pikiran saya jalan-jalan melihat realitas masa kini.
Ayat 51, ayat yang membawa imajinasi saya membayangkan suasana di kaki gunung Sinai saat itu. Musa, pemimpin mereka, nabi mereka, pergi meninggalkan kaumnya untuk menjemput wahyu. Empat puluh malam bukan waktu yang sebentar, tapi dalam bentangan sejarah ini bukan pula waktu yang lama, pun dalam skala keimanan, seharusnya itu bukan alasan untuk tergesa-gesa. Tapi Bani Israil tidak sabar. Mereka gelisah. Mereka haus akan tuhan yang kasatmata, sesuatu yang bisa mereka lihat, raba, dan dengar di depan mata.
Lalu datanglah Samiri, seorang oportunis yang paham betul kelemahan manusia. Ia kumpulkan emas perhiasan mereka, lebur jadi patung anak sapi, dan rekayasa angin membuatnya bersuara. Dalam sekejap, mereka tersungkur. Mereka menyembah benda mati yang mereka buat sendiri. Allah menyebut mereka zalim. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka rela menipu diri sendiri. Mereka memilih ilusi yang gemerlap ketimbang sabar menunggu kebenaran yang sedang dalam perjalanan.
Saya menutup terjemahan itu dan terdiam cukup lama. Tiba-tiba saya teringat linimasa media sosial saya. Saya teringat berita-berita tentang penguasa yang menggusur rakyat demi proyek bermodal besar, tentang politisi yang saling lempar janji manis, tentang buzzer yang bersahutan di setiap platform, dan yang paling menyayat, tentang para pemuka agama yang muncul di mana-mana, di istana, di panggung kampanye, di acara-acara eksklusif tetapi nyaris tak pernah terdengar di tengah derita rakyat kecil.
Saya kembali berpikir, wah kayaknya “Sapi Samiri” tidak pernah mati. Ia hanya berubah wujud. Emasnya sekarang bernama jabatan, proyek, konsesi, dan amplop yang diantar diam-diam. Suara tiruannya adalah narasi pencitraan yang dipoles tim humas, khotbah pesanan yang dibayar mahal, dan ribuan akun anonim yang riuh tapi kosong. Manusia modern juga mengidap penyakit yang sama, ingin kaya instan, ingin populer tanpa proses, ingin menang tanpa melalui jalan yang benar. Lihat saja judi online yang merenggut jutaan rumah tangga, pinjaman online yang menjerat leher kaum miskin, hingga dinasti kekuasaan yang dipaksakan lahir dari rahim ketidaksabaran kita semua, tahukan si wapres kita?.
Tapi yang paling mengusik hati saya pagi ini, ketika saya terus merenung, adalah soal Samiri modern yang mengenakan jubah. Saya menyebut mereka demikian. Para pemuka agama yang bukan lagi pewaris nabi, melainkan pengawal istana. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka duduk manis di ruang-ruang ber-AC, memproduksi dalil-dalil instan untuk melegitimasi kezaliman. Ketika penguasa mengeluarkan kebijakan yang memiskinkan rakyat, mereka naik mimbar dan berkoar tentang “kewajiban taat kepada pemimpin” dengan dalih menjaga persatuan. Bahkan untuk melegitimasi Islamnya pemimpin, mereka menulis satu kitab utuh, berjudul Islam ala ala. Ala ini, ala itu.
Saya mulai melihat pola yang persis seperti kisah Samiri. Para ulama suu’ ini ternyata memainkan dua peran sekaligus, dua sisi mata uang yang sama-sama mengerikan. Pertama, mereka berperan sebagai pembuat sapi, seperti Samiri. Mereka adalah figur yang memiliki ilmu, tetapi menggunakan ilmunya untuk memoles kebatilan agar terlihat seperti kebenaran. Dengan kepandaian mereka dalam merangkai ayat dan hadis, mereka mengemas urusan duniawi seperti politik praktis, harta, dan jabatan dengan bungkus dalil-dalil agama agar segala sesuatu yang mereka katakan terasa sakral dan layak disembah serta ditaati oleh masyarakat awam yang tidak kritis. Mereka memproduksi fatwa yang membungkam kritik, melahirkan narasi yang meninabobokan, dan menciptakan dogma yang mengikat umat pada kepatuhan buta kepada penguasa, seolah-olah itulah bagian dari ketaatan kepada Allah. Padahal Agama lahir sebagai bentuk perlawanan, bukan meninabobokan!
Kedua, dan ini yang lebih memilukan, para ulama suu’ ini tidak hanya berperan sebagai pembuat sapi, tetapi mereka juga kerap memposisikan diri mereka sebagai sapi itu sendiri, sebagai berhala yang disembah atau diikuti secara buta oleh pengikutnya. Mereka menikmati taqlid buta dari massa yang memperlakukan setiap ucapan mereka sebagai kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan. Ketika fatwa atau ucapan mereka tidak lagi bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah melainkan pada pesanan atau kepentingan politik dan ekonomi tertentu, ketika mereka berbicara bukan karena dorongan kebenaran tetapi karena bayaran dan iming-iming jabatan, maka pada saat itulah figur mereka telah menjelma menjadi patung bersuara yang sama persis dengan sapi emas Samiri. Mereka bersuara nyaring, terdengar berwibawa, tetapi di balik itu semua tidak ada ruh kebenaran yang menggerakkan. Yang ada hanya kepentingan yang dikemas dengan indah, hanya pesanan yang dibalut dengan ayat, hanya ambisi duniawi yang memakai jubah kesalehan. Mereka menjadi sapi yang disembah oleh umatnya sendiri, sementara umat tidak sadar bahwa yang mereka ikuti sebenarnya adalah patung kosong yang bersuara karena embusan angin kepentingan penguasa.
Ketika hukum dipreteli, mereka terdiam. Ketika rakyat berteriak minta keadilan, mereka memvonisnya sebagai pemberontakan. Saya bukan siapa-siapa, tapi saya muak. Saya muak melihat agama dijadikan obat bius agar orang menerima penindasan dengan senyum dan pasrah. Saya muak melihat doa dan ayat diperjualbelikan dalam kontestasi politik, seolah-olah Tuhan bisa dipartai-kan dan disetir oleh logistik.
Yang lebih parah, saya dan mungkin kita melihat ada tarian kotor di antara para Samiri berjubah ini dengan penguasa. Mereka saling memerah. Para ulama oportunis itu memeras bahkan menjilat penguasa untuk proyek, dana hibah, dan perlindungan atas skandal pribadi. Mereka menjadikan penguasa sebagai sapi perah, memanfaatkan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan duniawi sebanyak-banyaknya. Sebagai imbalannya, mereka mengajak umat menyembah penguasa sebagai berhala baru yang tak boleh dikritik. Penguasa yang cacat moralnya di mana-mana digambarkan sebagai “pemimpin pilihan langit”. Mereka mengikat umat dengan rantai takut, membuat kami menjadi domba-domba penurut yang kehilangan keberanian untuk berkata tidak.
Dan saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah saya juga bagian dari mereka? Bukankah ketika saya diam, ketika saya memilih scroll linimasa tanpa peduli, ketika saya takut bersuara karena khawatir status sosial saya terganggu, saya sedang ikut mengantre di belakang Bani Israil untuk bersujud pada sapi yang sama? Ataukah saya sedang berdiri di belakang Musa, memilih sabar dan setia pada kebenaran meskipun sunyi?



