
Malang – Dalam momentum Tahun Baru Islam, Ketua Dewan Syuro Peneleh menyerukan agar pergantian waktu tidak sekadar dimaknai sebagai seremoni atau euforia belaka. Tahun Baru Islam harus menjadi cermin dari semangat hijrah, sebuah gerakan fundamental untuk meninggalkan segala hal yang buruk menuju yang lebih baik, sebagaimana diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
“Bagi Aktivis Peneleh, momen ini harus menjadi panggilan untuk melakukan muhasabah total. Kita tidak boleh sekadar bangga dengan rutinitas gerakan, tapi harus bertanya: apakah langkah kita sudah sejalan dengan nilai-nilai dasar kepenelehan (N2DKP) dan semangat Zelfbestuur?” ujar Ketua Dewan Syuro.
Evaluasi ini dinilai krusial di tengah realitas pahit negeri ini, di mana masih banyak anak bangsa yang hidup di atas lumbung pangan tapi mati kelaparan karena infrastruktur yang hancur tak bisa menjangkaunya, seperti kasus Orong Telu, Sumbawa.
Tantangan Peradaban di Tengah Hegemoni Liberalisme
Tantangan terbesar dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai keislaman dan kebangsaan saat ini adalah hegemoni liberalisme dan praktik ekstraktif bermental AMOR (Agnostik, Materialistik, Oportunis, Rasionalitik) para pengambil kebijakan itu sendiri, yang dibungkus dalam narasi pembangunan semu.
“Reglemen Peneleh dengan tegas menolak liberalisme karena ia adalah akar ketidakadilan, di mana kebebasan hanya dinikmati oleh mereka yang punya kuasa. Saat ini, kita melihat bagaimana ambisi swasembada pangan yang diagung-agungkan justru terjebak dalam ilusi statistik dan kerentanan geopolitik,” tegasnya.
Ketergantungan struktural pada gandum impor disebut sebagai titik buta strategis yang membuat kedaulatan pangan rapuh dihantam krisis global. Birokrasi yang inkompeten dan infrastruktur yang terabaikan membuat petani di daerah seperti Sumenep semakin terpuruk.
“Tantangan kita adalah membangun kesadaran kritis bahwa pembangunan yang tidak berkeadilan sosial, yang mengabaikan nilai-nilai ketauhidan dan kedaulatan rakyat, hanyalah fatamorgana. Kita harus kembali pada amanat konstitusi dan semangat Tjokroisme yang menempatkan perlawanan atas kezaliman sebagai inti perjuangan,” ujarnya.
Perlawanan Bukan Anarki, tapi Upaya Membenahi Cara Berpikir
Perlawanan bagi Aktivis Peneleh, sebagaimana dicontohkan oleh HOS Tjokroaminoto dan Kanjeng Nabi, bukanlah anarki atau demonstrasi yang kehilangan arah, tanpa tahu tujuan jangka panjangnya secara terstruktur.
“Perlawanan dalam Tjokroisme adalah upaya membenahi cara berpikir, bersikap, dan gaya hidup yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam dan kensantaraan, sekaligus melawan struktur birokratis yang menghalangi keadilan,” jelasnya.
Di era sekarang, perlawanan itu konkret, yakni dengan mendekolonisasi sains dan teknologi melalui Paradigma Nusantara, dengan menulis gagasan tokoh dan nilai Nusantara sebagai acuan melihat dan membuat kebijakan. Di lapangan secara konkret, aktivis bisa mengembangkan komoditas lokal untuk substitusi impor, dan membangun tata kelola partisipatoris dari bawah, seperti yang diisyaratkan dalam konsep Daulat Petani dan koperasi agar berdaulat secara utuh.
“Perlawanan juga berarti konsolidasi idealisme, memastikan anak muda tidak terpecah belah oleh isu permukaan, tapi bersatu dalam agenda besar untuk mengembalikan kedaulatan rakyat. Dalam kondisi kebangsaan sekarang, para pemuda dan aktivis harus bisa melihat realitas di balik realitas agar tidak mudah ditunggangi oleh berbagai pihak yang punya kepentingan,” pesannya.
Aktivis Peneleh di regional diminta untuk ikut aksi jika betul-betul paham peta dan kondisi sebenarnya yang tersembunyi, serta mengkaji secara matang dan objektif.
Penguatan Kapasitas Mandiri dan Konsolidasi Kader
Prioritas gerakan ke depan adalah penguatan kapasitas mandiri di daerah dan konsolidasi kader yang militan. Inisiatif kemandirian kader di regional harus semakin kuat dan aksi-aksi konkret berdampak berpihak harus semakin banyak.
Oleh karena itu, jalur pengkaderan seperti Relawan Riset Peneleh (RRP), Sekolah Aktivis Peneleh (SAP), dan Pendidikan Dasar Nasional (Diksarnas) harus lebih dimasifkan untuk mencetak periset dan aktivis yang berpihak serta mampu memunculkan realitas eksisting dan merancang solusi berbasis pemikiran dan potensi lokal.
“Selain itu, kita harus mengkonsolidasi kader di level regional untuk menjadi pengawal isu strategis. Pemuda harus menjadi pelopor dalam diversifikasi pangan lokal dan penguatan ekonomi kerakyatan, memastikan bahwa Indonesia tidak hanya ‘swasembada’ di atas kertas, tapi benar-benar berdaulat secara pangan dan energi,” tandasnya.
Bentuk Perlawanan yang Relevan
Bentuk perlawanan yang paling relevan bagi generasi sekarang adalah peneguhan jangkar nilai kebudayaan dan keberanian intelektual untuk mendobrak narasi dominan dan aksi konkret membangun tandingan.
“Seperti yang diajarkan Tjokroaminoto, kita harus berani mengkritik kebijakan yang timpang, seperti yang terjadi di Bappenas melalui RPJMN yang diduga lebih dekat dengan kepentingan IMF daripada rakyat,” ujarnya.
Perlawanan berarti berani mengaudit kebijakan, meluruskan kesalahan terjemah “mimpi” pembangunan yang ternyata hanya pro-liberalisasi. Ini juga tentang gerakan kesejahteraan, membangun koperasi yang sehat tanpa riba (tidak seperti Kopdes Merah Putih), menjadi penggerak ekonomi rakyat, dan menolak menjadi buruh dalam negeri sendiri.
“Singkatnya, perlawanan hari ini adalah tentang meneguhkan jangkar nilai kebudayaan agar anak bangsa tidak kehilangan jati dirinya, serta memperkuat ruang narasi dan ekonomi, memastikan bahwa sumber daya bangsa dikelola untuk kemakmuran rakyat, bukan segelintir oligarki yang bersekutu dengan kekuatan global,” tegasnya.
Pesan Istiqamah Menjaga Idealisme
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dan pragmatis, Ketua Dewan Syuro berpesan kepada para aktivis muda untuk memegang erat-erat dua pilar perjuangan, yaitu Religiositas dan Kebangsaan.
“Ketika dunia terus bergerak dan godaan pragmatisme semakin nyata, kembalilah pada Reglemen dan Nilai-Nilai Dasar Kepenelehan (N2DKP). Ingatlah selalu tekad Hauqalah, Billahi fi Sabilil Haq, dan ‘Isy Kariman Awmut Syahidan (Hidup Mulia atau Mati Syahid),” pesannya.
Kita bergerak bukan untuk jabatan, popularitas, atau materi, tetapi karena ini adalah bentuk ibadah dan pengabdian tertinggi kepada Tuhan dan umat.
“Jangan pernah lelah menjadi bagian dari sejarah, jadilah seperti Alif, yang berdiri tegak dan lurus tanpa takut menyuarakan kebenaran. Tetaplah belajar dari sejarah perjuangan Kanjeng Nabi dan Pak Tjokro, karena dari merekalah kita tahu bahwa jalan perjuangan memang terjal, penuh onak dan duri, tapi kemenangan pasti milik mereka yang bertakwa dan bersabar. Bergeraklah!” pungkasnya.



