
Malang – Kegiatan Pendidikan Dasar Nasional (Diksarnas) 30 Aktivis Peneleh berlangsung penuh semangat dan refleksi perjuangan. Dalam momentum baiat kader tersebut, para peserta meneguhkan komitmen untuk menjadikan Cakrawangsa sebagai poros penggerak gerakan kaderisasi dan pengabdian sosial di berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Miftah selaku Koordinator Fasilitator Diksarnas 30 menegaskan pentingnya menjaga semangat perjuangan setelah proses pendidikan selesai dilaksanakan. Ia mengingatkan bahwa kaderisasi bukan sekadar agenda seremonial, melainkan titik awal untuk membangun gerakan yang berkelanjutan.
“Terus jaga semangat, jaga komunikasi, dan yang paling penting realisasikan seluruh program yang sudah disepakati bersama,” ujarnya di hadapan peserta.
Sementara itu, Ketua Rumah Kader Jang Oetama, Maula Atqiya, menyambut para peserta sebagai bagian dari rumah gerakan yang terus hidup dan bergerak. Ia menekankan bahwa Aktivis Peneleh memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat.
“Selamat datang di rumah gerakan, rumah yang terus bergerak untuk menzelfebstuurkan Indonesia, Aktivis Peneleh,” katanya.
Ola juga mengingatkan bahwa kesadaran intelektual dan sosial tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Menurutnya, kader harus mampu menjadi penyala semangat di lingkungan masing-masing.
“Kesadaran itu harus terus didakwahkan. Jangan hanya kita yang memiliki kesadaran, tetapi nyalakan api di seluruh tempat yang teman-teman pijaki,” tambahnya.
Koordinator Nasional Aktivis Peneleh, Ahmad Tsiqqif Asyiqullah, turut memberikan motivasi kepada peserta. Ia menyebut para peserta Diksarnas 30 sebagai cahaya baru yang diharapkan mampu membawa perubahan di tengah masyarakat.
“Teman-teman adalah cahaya baru, tugasnya menerangi ruang-ruang gelap yang ada di tempat teman-teman,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses kaderisasi merupakan ruang pembelajaran yang tidak pernah selesai. Karena itu, setiap kader diminta untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu menghadapi tantangan zaman.
“Ini adalah proses belajar. Terus bangun diri, upgrade diri agar berkembang sepanjang masa,” lanjutnya.
Perwakilan peserta, Hikam, menyampaikan kesan mendalam selama mengikuti Diksarnas 30. Ia merasa proses kaderisasi telah memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran yang membangun semangat kebersamaan antar kader.
“Sebagai peserta dan kader baru, saya merasa menjadi lebih baik selama di tempat ini. Teman-teman harus tetap semangat dan menjaga kekompakan, jangan sampai hilang,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, para peserta juga menyepakati sejumlah program kerja yang akan dijalankan bersama, baik secara online maupun offline. Program-program tersebut diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat gerakan Aktivis Peneleh di berbagai daerah serta memperluas ruang pengabdian sosial, intelektual, dan kaderisasi di tengah masyarakat.



