
Koran Peneleh – Pekan ini menjadi salah satu periode paling intens bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam hitungan hari, ia melontarkan ancaman blokade militer di Selat Hormuz, melancarkan serangan pribadi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Paus Leo XIV, serta membalikkan kebijakan tarifnya yang sempat menyebabkan guncangan pasar. Berikut ringkasan agenda demi agenda Trump berdasarkan laporan media kredibel internasional.
1. Blokade Selat Hormuz: Gagal Diplomasi, Beralih ke Aksi Militer
Keputusan paling dramatis Trump pekan ini datang pada Minggu, 12 April 2026, ketika ia mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz . Pengumuman ini muncul hanya beberapa jam setelah negosiasi langsung AS-Iran di Islamabad, Pakistan, dinyatakan gagal mencapai kesepakatan .
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa pertemuan di Islamabad “berjalan baik” dengan sebagian besar poin disepakati, tetapi “satu-satunya poin yang benar-benar penting, yaitu NUKLIR, tidak tercapai”. Kegagalan inilah yang menjadi alasan utama Trump mengambil langkah drastis. “Efektif segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump .
Trump juga menginstruksikan armada AS untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar “biaya tol” kepada Iran. Ia menyebut praktik Iran yang mewajibkan kapal asing membayar untuk melintas sebagai “pemerasan dunia”. “Tidak ada seorang pun yang membayar tol ilegal yang akan mendapatkan jalur aman di laut lepas. Kami juga akan mulai menghancurkan ranjau yang dipasang Iran di Selat,” tegasnya .
Trump bahkan menambahkan ancaman yang lebih keras: “Setiap warga Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal yang damai, akan MELEDAK KE NERAKA!”. Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap impor dari China jika Beijing mencoba membantu militer Iran.
Menanggapi ancaman ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran langsung memperingatkan bahwa setiap “langkah salah” di Selat Hormuz akan menjebak musuh dalam “pusaran kematian” . Panglima Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran di Islamabad, menegaskan bahwa negaranya “tidak akan tunduk pada ancaman apa pun” dari Washington.
2. Perang dengan Paus Leo XIV: “Lemah, Buruk untuk Kebijakan Luar Negeri”
Di tengah krisis di Timur Tengah, Trump juga melancarkan serangan frontal terhadap pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Dalam unggahan panjang di Truth Social pada Minggu malam, 12 April 2026, Trump menyebut Paus Leo XIV “LEMAH dalam hal Kejahatan, dan buruk untuk Kebijakan Luar Negeri” .
Kemarahan Trump dipicu oleh kritik Paus Leo terhadap perang AS-Israel melawan Iran. Paus Leo sebelumnya menyebut ancaman Trump untuk “menghancurkan seluruh peradaban” Iran sebagai “benar-benar tidak dapat diterima” dan menyerukan de-eskalasi tanpa syarat . Dalam pandangan Trump, sikap Paus Leo sama saja dengan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. “Saya tidak ingin seorang Paus yang menganggap Iran boleh memiliki senjata nuklir,” tulis Trump .
Serangan Trump bahkan menyentuh ranah personal. Ia mengklaim bahwa Paus Leo—yang bernama asli Robert Francis Prevost, lahir di Chicago—hanya terpilih karena Gereja ingin “menghadapi Donald J. Trump.” “Dia tidak ada dalam daftar mana pun untuk menjadi Paus, dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang Amerika,” tulis Trump . “Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan” .
Trump juga membandingkan Paus Leo dengan kakak laki-lakinya, Louis Prevost, seorang penduduk Florida yang menggambarkan dirinya sebagai “tipe MAGA” (Make America Great Again). “Saya lebih suka kakaknya Louis daripada dia, karena Louis sepenuhnya MAGA. Dia mengerti, dan Leo tidak!” tulis Trump .
Ketika dimintai komentar oleh wartawan di luar Gedung Putih pada Senin malam, Trump mengulangi kritiknya. “Saya pikir dia orang yang sangat liberal. Saya bukan penggemar Paus Leo,” katanya . Ia juga menolak untuk meminta maaf. “Tidak, saya tidak merasa perlu meminta maaf karena saya mengatakan yang sebenarnya untuk rakyat Amerika. Saya sangat menghormati posisi dan Gereja, tetapi Paus membuat pernyataan tentang Iran yang sangat, sangat salah,” ujar Trump di hadapan wartawan .
3. “Kuba Berikutnya”: Ancaman Ekspansi ke Negara Lain
Tidak berhenti di Iran, Trump juga melontarkan ancaman terhadap Kuba. Dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin, 13 April 2026, Trump mengatakan: “Kami mungkin mampir ke Kuba setelah kami selesai dengan ini” . “Ini” merujuk pada perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 .
Pernyataan ini mengulangi ancaman serupa yang pernah disampaikan Trump pada akhir Februari lalu, di mana ia mengatakan “Kuba adalah negara berikutnya” namun meminta pendengarnya untuk “berpura-pura saya tidak mengatakan itu” . Trump juga mengulangi klaim sebelumnya bahwa Kuba adalah “negara yang gagal” .
Ancaman terhadap Kuba ini muncul di tengah ketegangan yang sudah berlangsung antara AS dan negara komunis tersebut. Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa untuk saat ini pemerintahannya akan fokus pada perang yang sedang berlangsung dengan Iran .
4. Kebijakan Dalam Negeri: Tarif yang Membingungkan dan Serangan ke Harvard
Di dalam negeri, Trump juga menciptakan gelombang kejutan. Rabu lalu, ia membalikkan kebijakan tarifnya yang baru diterapkan 13 jam sebelumnya, menangguhkan selama 90 hari pajak impor terhadap puluhan negara . Langkah ini memicu rally di pasar saham Wall Street, tetapi membuat para pelaku bisnis, investor, dan mitra dagang AS kebingungan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menggambarkan perubahan mendadak ini sebagai bagian dari strategi negosiasi yang besar. Namun, bagi banyak pengamat di luar pemerintahan Trump, langkah itu terlihat seperti mundur karena tekanan pasar dan kekhawatiran bahwa kebijakan tarif yang impulsif akan menyebabkan kerusakan ekonomi yang masif . Beberapa perusahaan bahkan terpaksa merumahkan pekerja sementara setelah tarif Trump diumumkan, sementara banyak perusahaan lain menunda perekrutan.
Di sisi lain, pemerintahan Trump terus melanjutkan pertempuran dengan universitas-elite. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mencabut kemampuan Universitas Harvard untuk mendaftarkan mahasiswa asing . Langkah ini diambil karena Harvard dinilai menciptakan “lingkungan kampus yang tidak aman” dengan membiarkan demonstran anti-Amerika dan pro-teroris menyerang mahasiswa Yahudi . Harvard, yang mendaftarkan hampir 6.800 mahasiswa asing—lebih dari seperempat total mahasiswanya—menyebut tindakan ini ilegal dan berjanji akan memberikan panduan kepada mahasiswanya .
5. Kekuasaan Presiden: Kemenangan di Mahkamah Agung
Dalam ranah hukum, Trump meraih kemenangan signifikan di Mahkamah Agung. Pada Rabu, 3 April 2026, Mahkamah Agung mengizinkan Trump untuk memecat dua anggota dewan badan independen, setidaknya untuk sementara waktu . Tindakan ini tampaknya menandakan dukungan pengadilan terhadap upaya Trump untuk menghapus pembatasan kekuasaannya dalam merekrut dan memecat .
Kepala Mahkamah Agung John Roberts, yang menangani permintaan darurat dari ibu kota negara, menandatangani perintah yang menangguhkan putusan dari pengadilan banding federal di Washington yang sebelumnya mengembalikan dua wanita tersebut ke pekerjaan mereka . Sehari kemudian, Mahkamah Agung dalam perintah yang tidak ditandatangani menyatakan bahwa Konstitusi tampaknya memberikan presiden wewenang untuk memecat anggota dewan “tanpa alasan” .
Keputusan ini berpotensi memiliki implikasi luas, meskipun pengadilan mengisyaratkan bahwa mereka dapat memblokir upaya pemecatan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang dikeluhkan Trump karena tidak agresif memotong suku bunga .
6. Serangan terhadap Firma Hukum: Kemenangan Sementara bagi Penantang
Dalam perkembangan terpisah, pemerintahan Trump terus menghadapi perlawanan hukum atas perintah eksekutif yang menargetkan firma-firma hukum besar. Pada akhir Maret, Departemen Kehakiman sempat mengumumkan akan membatalkan banding atas perintah pengadilan yang menghalangi perintah eksekutif Trump terhadap firma hukum Perkins Coie, Jenner & Block, WilmerHale, dan Susman Godfrey .
Namun, kurang dari 24 jam kemudian, DOJ membalikkan keputusannya dan memutuskan untuk melanjutkan banding . Firma-firma hukum tersebut, dalam pembelaan mereka, menyebut serangan Trump terhadap profesi hukum sebagai “ancaman berat terhadap supremasi hukum” .
Paul Clement, pengacara terkenal yang mewakili WilmerHale, mengatakan dalam pembelaannya bahwa Trump menghantam firma tersebut dengan perintah eksekutif yang “kejam” sebagai balas dendam “karena mewakili klien dan tujuan yang tidak ia sukai serta mengekspresikan sudut pandang yang tidak ia setujui” . Sidang lisan dijadwalkan pada 14 Mei 2026 di pengadilan banding DC Circuit .
Sepekan Trump Penuh Ketegangan
Dalam sepekan terakhir, Donald Trump telah menunjukkan bahwa ia tidak ragu untuk menggunakan kekuasaan presiden secara maksimal—baik di dalam maupun luar negeri. Blokade Selat Hormuz adalah eskalasi militer paling serius dalam konflik dengan Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari. Serangan terhadap Paus Leo XIV melampaui batas-batas yang biasanya dijaga oleh para pendahulunya, menunjukkan bahwa Trump tidak segan menyerang bahkan pemimpin spiritual yang dihormati sekalipun jika dianggap menghalangi kebijakannya.
Di dalam negeri, kebijakan tarifnya yang berubah-ubah menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha, sementara pertempuran melawan universitas dan firma hukum terus berlanjut di pengadilan. Satu hal yang pasti: tidak ada yang namanya “hari yang tenang” di era kepresidenan Trump kedua. Dunia dan rakyat Amerika sendiri hanya bisa bersiap menghadapi kejutan berikutnya.



