
aktivis peneleh
Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk euforia tahun baru dan gegap gempita media sosial, sebuah gerakan kepemudaan justru memilih jalan sunyi. Aktivis Peneleh, organisasi yang mengusung jargon Zelfbestuur-Aksi, tengah mempersiapkan kader-kader tangguh untuk memimpin peradaban bangsa—bukan dengan gebyar popularitas, melainkan dengan konsistensi di jalur perlawanan terstruktur ala Nabi melawan jahiliyah.
Koordinator Nasional Aktivis Peneleh, Ahmad Tsiqqif Asyuqullah, atau akrab disapa Tsiqqif, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya sekadar menyambut tahun baru dengan seremonial. Mereka telah menyiapkan agenda roadshow untuk beberapa bulan ke depan sebagai wadah konsolidasi seluruh elemen kepemudaan dan masyarakat berbagai daerah. “Siapapun boleh berkolaborasi serta berkonsolidasi,” ujar Tsiqqif dalam wawancara eksklusif.
Namun, di balik rencana aksi itu, Tsiqqif menyoroti fenomena mengkhawatirkan di kalangan aktivis muda saat ini. Ia melihat banyak anak muda yang terjebak pada kecakapan bermedia sosial, namun justru kehilangan kepekaan terhadap realitas sosial di sekitarnya. “Aktivis muda saat ini banyak melek media sosial hingga lupa sosial terkininya. Banyak tergiring isu sana-sini hingga lupa morilnya sendiri. Lupa tanggung jawabnya sendiri,” tegasnya. Menurut Tsiqqif, peran aktivis muda seharusnya krusial untuk membangun peradaban, minimal dengan menjaga esensi moral ketimbang sekadar eksistensi moral melalui fitur media dan teknologi.
Tsiqqif mengajak generasi muda untuk menghadirkan perlawanan yang elegan. Elegan, dalam definisinya, bukanlah gemerlap atau populer, melainkan perlawanan yang terstruktur dan konsisten di tengah gonjang-ganjing masalah zaman. “Elegan sebagaimana nabi terstruktur melawan jahiliyah pada masanya. Memang agak lama, tapi setidaknya tahan banting di antara adaptasi tanpa nilai,” paparnya.
Untuk menjaga nalar kritis, Tsiqqif memberikan resep sederhana namun berat: tetap mengkaji secara eksternal dan internal agar kesadaran terjaga, menjaga kaderisasi pendidikan agar keyakinan terus menguat, dan melakukan semua itu terus-menerus walau sering digerus zaman.
Tantangan terbesar yang ia sampaikan dengan setengah bergurau adalah “kemalasan”. Namun kemalasan yang dimaksud bukanlah malas bergerak, melainkan malas berpikir karena terbiasa dengan hal-hal instan dan pragmatis. “Justru karena instan dan pragmatis, otak atau kesadaran bergerak itu semakin tergadaikan. Pikiran yang terus berkembang justru membutuhkan beban-beban kesulitan untuk dipecahkan sebagai solusi,” jelasnya. Ia mempertanyakan, maukah generasi muda menumbuhkan idealisme secara organik meski berat, atau memilih jalan instan yang mudah rapuh?
Aktivis Peneleh mengaku sedang mempersiapkan kader-kader yang tumbuh kuat di jalan sunyi. Mereka tidak mau kualitas kadernya sekadar mengulang generasi sebelumnya yang—menurut Tsiqqif—telah diketahui sendiri fenomenanya. “Memang akan sangat sulit dan tidak dilirik oleh khalayak. Tapi setidaknya nanti juga akan tiba segera waktunya untuk kader-kader Aktivis Peneleh memimpin peradaban bangsanya dengan kualitas dan kuantitas yang diimpikan,” ungkapnya optimistis.
Strategi pembinaan kader pun sudah matang: mengokohkan idealisme melalui tiga pilar utama—Tauhid, pendidikan (ilmu), dan siasah (strategi kepemimpinan). “Strategi utamanya tetap itu, untuk aksinya nanti terimplementasi dalam berbagai gerakan,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Tsiqqif menyampaikan pesan yang tak pernah lupa ia gaungkan: Zelfbestuur-Aksi. Prinsip ini menjadi jantung gerakan Aktivis Peneleh. “Di antara gaduhnya perlawanan, tetap semuanya harus jaga Kesadaran Zelfbestuur-Aksi. Zelfbestuur itu gak mungkin terasa kalau aksinya cuma sekali dua kali lalu lelah dan berhenti. Perlu seterusnya,” pesannya.
Ia pun membuka pintu bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang kesadaran Zelfbestuur-Aksi untuk bergabung dengan Aktivis Peneleh. “Untuk yang Aktivis Peneleh, teruslah aksi-aksi,” pungkas Tsiqqif dengan tegas.



