
Teheran – Pemerintah Iran secara resmi menolak ultimatum 48 jam yang diberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menyebut ancaman tersebut sebagai tindakan “tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh.” Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, dari markas pusat komando militer Khatam al-Anbiya, menyatakan bahwa “pintu neraka akan terbuka untuk Anda” sebagai balasan atas nada religius yang digunakan Trump dalam peringatannya di Truth Social.
Penolakan keras ini muncul saat militer Iran terus memburu satu awak pesawat tempur AS yang hilang di wilayah barat daya Iran. Jenderal Aliabadi juga mengejek klaim Trump bahwa banyak pemimpin militer Iran tewas dalam “serangan besar-besaran” di Teheran, seraya menegaskan bahwa sistem pertahanan udara baru buatan dalam negeri telah berhasil menembak jatuh jet tempur F-15, A-10, serta drone dan rudal jelajah musuh.
Meskipun menolak tekanan AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi masih membuka peluang diplomatik melalui mediasi Pakistan. Namun, ia menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk pada tuntutan yang bersifat memaksa. Dalam suratnya kepada PBB, Araqchi memperingatkan bahwa serangan keempat di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr menciptakan “situasi yang tidak dapat ditoleransi” yang berisiko menyebabkan kebocoran radiasi yang dapat “mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC).”
Kekhawatiran akan bencana nuklir memaksa Rusia mengevakuasi 198 pekerjanya dari fasilitas Bushehr. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi belum ada peningkatan radiasi, namun menyatakan keprihatinan mendalam karena ini adalah serangan keempat dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah kebuntuan ini, konflik semakin meluas ke sektor-sektor ekonomi vital. Iran melaporkan serangan udara Israel-AS di Zona Petrokimia Mahshahr menewaskan lima orang dan melukai 170 lainnya. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengaku menyerang kapal komersial di Bahrain dan meluncurkan drone ke arah instalasi radar AS di Uni Emirat Arab. Sementara itu, kebakaran dilaporkan terjadi di kompleks minyak Kuwait, yang oleh analis dikaitkan dengan serangan tidak langsung dari pihak yang terlibat dalam konflik.
Pencarian awak pesawat AS yang hilang masih terus berlangsung, dengan pasukan Iran dan warga bersenjata setempat dikerahkan untuk menangkap atau membunuh “pasukan musuh.” Video yang beredar di media sosial menunjukkan polisi Iran menembaki helikopter AS yang mencoba mendarat untuk mencari pilot yang hilang. Dengan waktu yang terus berdetak menuju tenggat waktu 48 jam, ketegangan di kawasan Teluk diprediksi akan semakin memuncak dalam hitungan jam.



