
Kairo/Washington – Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Israel mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur energi mereka. Ultimatum ini diberikan Trump dalam waktu 48 jam, sementara Israel menyatakan telah siap menyerang fasilitas energi Iran dan tinggal menunggu izin dari AS.
“Ingat saat saya memberi Iran waktu sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ. Waktu hampir habis – 48 jam lagi sebelum neraka benar-benar menimpa mereka. Maha Suci Tuhan!” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Ketegangan ini terjadi ketika pasukan Iran dan AS terus mencari satu awak pesawat tempur AS yang hilang. Pesawat tempur dua-kursi jenis F-15E ditembak jatuh oleh Iran pada Jumat lalu, dan satu awak pesawat telah berhasil ditemukan, namun satu orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya. Dua helikopter Black Hawk yang dikerahkan untuk mencari awak pesawat yang hilang juga terkena tembakan Iran, tetapi berhasil keluar dari wilayah udara Iran.
Menanggapi tekanan tersebut, Iran memberikan peringatan keras. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengirim surat kepada PBB yang memperingatkan bahwa serangan di sekitar pembangkit listrik Bushehr menciptakan “situasi yang tidak dapat ditoleransi yang menimbulkan risiko serius pelepasan radiasi.” Ia juga membuka peluang untuk perundingan damai melalui mediasi Pakistan, namun tidak memberi tanda-tanda kesediaan Tehran untuk tunduk pada tuntutan Trump.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pakistan atas upayanya. Yang kami pedulikan adalah syarat-syarat untuk mengakhiri perang ilegal yang dipaksakan kepada kami,” ujar Araqchi di media sosial X.
Iran juga memamerkan sistem pertahanan udara barunya. Militer Iran mengaku berhasil menggunakan sistem baru tersebut pada Jumat lalu untuk menargetkan jet tempur AS, tiga drone, dan dua rudal jelajah. “Musuh harus tahu bahwa kami mengandalkan sistem pertahanan udara baru yang dibangun oleh anak-anak muda, berpengetahuan, dan bangga dari negara ini,” kata juru bicara komando militer gabungan Khatam al-Anbiya.
Konflik ini telah berlangsung selama enam minggu, dimulai sejak pemboman gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Iran secara virtual telah menutup Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima dari minyak dan gas alam cair dunia. Hal ini telah memicu krisis energi dan mengancam perekonomian global.
Ribuan orang telah tewas, dan serangan terus berlanjut. Pada Sabtu ini, Iran meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel, dan juga menyerang instalasi radar AS di Uni Emirat Arab serta markas militer AS di Kuwait. Sementara itu, Israel mengaku menyerang zona petrokimia di barat daya Iran dan target-target militan Hizbullah di Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa Israel telah menyerang pabrik yang memproduksi bahan peledak dan rudal.
Pencarian prajurit AS yang hilang masih terus dilakukan, namun ancaman dari Iran yang menjanjikan penghargaan bagi siapa pun yang menangkap atau membunuh “pasukan musuh yang bermusuhan” menambah bahaya dalam situasi yang sudah rumit ini.



