
Ilustrasi (Doc.Google)
Aku menulis surat ini bukan karena dunia sedang baik-baik saja. Aku menulisnya justru karena dunia kembali menunjukkan wajah aslinya: wajah yang terlalu sering melukai perempuan.
Seorang siswi SMP di Jawa Barat diperkosa oleh guru ekstrakurikulernya. Pelaku membungkus kekerasan itu dengan kata-kata manis: suka, janji menikahi, hadiah-hadiah kecil yang seolah romantis. Di Sukabumi, seorang perempuan lain diperkosa oleh ayah tirinya sendiri—di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman.
Berita seperti ini tidak lagi mengejutkan. Dan justru itu yang paling mengerikan. Di tengah kabar buruk itu, aku tiba-tiba ingin menulis surat untukmu. Padahal, sampai hari ini aku belum menikah. Kamu belum lahir. Aku bahkan belum tahu siapa ayahmu kelak.
Namun, barangkali beginilah cara perempuan bertahan: menyiapkan kewaspadaan bahkan sebelum anak perempuannya hadir ke dunia.
Aku akan memanggilmu A.
Aku tidak menulis surat ini sebagai seorang ibu yang sudah tahu segalanya. Aku hanya seorang perempuan biasa yang sedang belajar memahami dunia, sambil diam-diam takut. Takut karena menjadi perempuan di negeri ini sering kali berarti hidup dengan kewaspadaan yang diwariskan, bukan pilihan.
A, kamu harus tahu: kekerasan terhadap perempuan bukan kebetulan. Ia bukan insiden tunggal. Ia bukan “kasus.” Ia adalah pola.
Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) tahun 2021 mencatat bahwa sekitar 33,4% perempuan Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Sebanyak 7,7% pernah mengalami kekerasan seksual.
Dan angka itu mungkin hanya permukaan. Karena banyak perempuan tidak melapor. Karena takut. Karena malu. Karena tidak dipercaya. Karena sistem sering kali lebih cepat mengadili korban daripada pelaku.
Mengerikan, bukan?
Aku berharap kamu membaca surat ini saat berusia 17 tahun, usia ketika kamu mulai merasa hidup adalah milikmu sendiri.
Namun aku harus jujur, kekerasan ini mungkin masih ada di masamu nanti. Bahkan bisa lebih rumit. Lebih modern. Lebih halus. Teknologi bisa membuat kekerasan hadir dalam bentuk baru: dari layar ponsel, dari pesan singkat, dari ancaman yang tidak selalu meninggalkan bekas di kulit, tapi meninggalkan luka di kepala.
Aku tidak menulis ini untuk menakutimu. Aku menulis ini agar kamu sadar: dunia tidak selalu ramah pada perempuan. Lalu mengapa semua ini terjadi? Salah satu jawabannya bernama patriarki.
Patriarki bukan sekadar teori. Ia hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Ia hadir ketika laki-laki dianggap pemimpin alami, sementara perempuan dianggap pelengkap.
Ia hadir ketika ayah diperlakukan seperti raja di rumah. Ketika perempuan diminta patuh, diam, dan melayani. Ketika anak perempuan dibesarkan untuk mengurus dapur, sementara anak laki-laki dibebaskan dari pekerjaan domestik karena dianggap “bukan tugasnya.” Padahal memasak, mencuci, dan membersihkan rumah bukan soal gender. Itu soal bertahan hidup.
Patriarki juga hadir dalam pendidikan: ketika anak laki-laki diprioritaskan karena dianggap calon pencari nafkah, sementara perempuan dianggap cukup pandai mengurus rumah dan menyenangkan suami.
Dan patriarki hadir dalam negara: ketika perempuan dianggap tidak layak memimpin, ketika tafsir agama tertentu dijadikan alasan untuk mengunci perempuan dalam batas-batas sempit.
Namun A, aku harus mengatakan ini: aku tidak membenci laki-laki. Aku masih percaya laki-laki bisa menjadi baik. Aku masih berdoa semoga kelak aku bertemu pasangan yang setara, bukan penguasa.
Tetapi aku juga harus jujur: perempuan pun bisa menyakiti perempuan lain. Di duniaku hari ini, perempuan saling menghakimi karena pilihan hidup. Ibu pekerja dianggap egois. Ibu rumah tangga dianggap tidak produktif. Ibu yang memberi susu formula dihina oleh mereka yang merasa paling benar.
Kadang luka perempuan bukan hanya datang dari tangan laki-laki, tetapi juga dari mulut sesama perempuan. Karena itu, A, aku ingin kamu tumbuh dengan kesadaran: jangan menjadi korban, tetapi juga jangan menjadi pelaku.
Kekerasan bukan hanya tamparan atau pukulan. Kekerasan bisa berupa kata-kata yang merendahkan. Kekerasan bisa berupa manipulasi. Kekerasan bisa berupa kontrol yang dibungkus cinta.
Dan aku ingin kamu mengingat satu hal yang paling penting, Tubuhmu adalah otoritasmu.
Tidak seorang pun berhak menyentuh tubuhmu tanpa persetujuanmu. Tidak seorang pun berhak memaksamu diam ketika kamu tidak nyaman. Kamu berhak berkata tidak. Kamu berhak pergi. Kamu berhak melawan. Kamu berhak meminta bantuan.
Dan kamu juga wajib menghormati tubuh orang lain. Utamakan kenyamananmu, tetapi jangan melukai kenyamanan orang lain.
A, pada akhirnya aku ingin kamu menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Kita melawan dominasi laki-laki bukan untuk mendominasi balik. Kita melawan agar dunia menjadi ruang yang lebih setara, lebih aman, lebih manusiawi. Laki-laki dan perempuan tidak seharusnya saling melukai. Mereka seharusnya saling menjaga.
Dan jika suatu hari kamu merasa dunia ini terlalu berat, ingatlah. Kamu tidak dilahirkan untuk menjadi penonton dari kekerasan yang diwariskan. Kamu dilahirkan untuk memutus rantainya.
Aku menyayangimu, A.
Penulis : Anik Meilinda



