
Oleh: Jundullah Fawwas
(Mahasiswa SKI, Semester Akhir UIN SUKA Yogyakarta)
Euforia atas kemenangan Indonesia terhadap singapura masih terasa hingga saat ini, kita tetiba teralihkan dari pembahasan yang meruncingkan kebhinekaan kita, soal ucapan selamat natal dan tidak mengucapkan selamat natal, soal politik bahkan soal hal-hal yang membuat kita beda, kalau orang-orang bilang sepak bola itu sebagai ajang pemersatu bangsa, saya sepakat dengan ucapan itu.
Terbukti kita semua fokus untuk mendukung timnas, tidak peduli warna kulit, tidak masalah dengan gaya rambut, tidak menjadi persoalan dengan logat dan asal kita. Semua bersatu dan sama-sama mendukung Timnas, dibuat deg-degan sama-sama, dibuat kecewa sama-sama dan di buat bahagia juga sama-sama. Kepala negara hingga rakyat biasa menonton dengan hati yang cemas, berdoa berharap Timnas Indonesia menang. Lagi-lagi sepak bola menyatukan kita semua.
Dari sinilah tiba-tiba saya teringat dengan salah satu sosok yang menjadi inspirasi saya dan teman-teman di Maluku, namanya om Sani Tawainella. Beliau belum pernah menjadi cover majalah terkenal, tapi sikap dan cara beliau membawa nama harum Maluku dimana-mana begitu menjadi inspirasi. Om Sani, begitu panggilan akrab beliau. Hanyalah seorang tukang ojek yang menghidupkan istri dan anak-anaknya dengan cara yang sederhana tapi bisa membuat harum seluruh masyarakat Maluku.
Maluku pernah terluka beberapa tahun lalu. Kerusuhan etnis/komunitas agama yang berawal dari sentimen agama lalu dibantu dengan beberapa provokasi oleh segelintir oknum membuat Maluku pernah memanas. Tapi, bukan ini yang akan saya tulis dalam catatan singkat ini. Sebab jika terus ditulis hanya akan menyesakkan luka saja. Semua kiprah om Sani berawal dari sini, dari kerisauan beliau melihat orang dewasa membawa parang dimana-mana, mengangkat senjata lalu saling menghabisi antara satu dan lainnya. Anak-anak dan perempuan menjadi korban.
Om Sani tidak mau ini terus-terusan terjadi, beliau kemudian berinisiatif menggerakan anak-anak korban perang itu untuk bermain bola. Beliau mengalihkan mereka dari kejar-kejaran dengan parang menjadi kejar-kejaran dengan bola. Om Sani tahu, rekam jejak yang tidak bagus ini akan menjadi hal buruk untuk mereka di kemudian hari.
Berbekal pengalaman menjadi pemain U-15 Indonesia yang dikirim mewakili Indonesia dalam ajang piala pelajar se-Asia dan pengalaman beliau berlatih dalam diklat kepelatihan di Ragunan, membuat beliau berinisiatif untuk mengajak anak-anak Tulehu berlatih bola.
Nama-nama besar semisal bang Alfin Tuasalamony (Rans Cilegon), Rizky Pellu (Bali United) dan Hendra Adi Bayauw (Mitra Kukar) adalah beberapa nama yang beliau ajak untuk berlatih bola bersama-sama. Selain tiga nama tadi, ada beberapa nama yang lain semisal Sadek Sanaky, Salim Ohorella dan Hari Zamhari.
Anak-anak ini kemudian pandangannya teralihkan, tidak lagi ikut konflik yang terjadi di Maluku khsusunya di Ambon saat itu. Mereka rutin berlatih bola, hingga terbentuklah Sekolah Sepak Bola Tulehu (SSB Tulehu) dibawa om Sani dan Om Rafi. Tetapi, Om Sani memilih keluar dari tim ini karena konflik kecil dengan Om Rafi saat itu.
Om Sani dan bola itu seperti dua sahabat yang susah lama berpisah. Cara berlatih Om Sani kemudian hari diketahui oleh SSB Passo, Om Jossef Matulessy adalah orang yang memberikan rekomendasi agar Om Sani berlatih di sana. Tetapi, beliau ditolak sebab berbeda keyakinan dengan SSB Passo, Om Sani yang Muslim dan SSB Passo yang mayoritas Kristen membuat sedikit sandungan itu terjadi. Tetapi, dengan negosiasi yang baik dari Om Jossef membuat Om Sani diberi kepercayaan untuk melatih SSB Passo.
Di kemudian hari, Alfin dan Salim yang merupakan pemain Tulehu memilih ikut membersamai Om Sani dalam SSB Passo, alasannya sedehana, mereka lebih suka Om Sani yang melatih mereka. Pertandingan Mailoa adalah pertandingan dua sahabat lama, Sani yang melatih SSB Passo dan Rafi yang melatih SSB Tulehu berjumpa di babak final. Pertandingan itu kemudian hari dimenangkan SSB Tulehu. Namun, tidak sampai di situ kepelatihan Om Sani, setelah pertandiangan tersebut PSSI Maluku mengangkat Om Sani sebagai Pelatih Kepala, alasannya sederhana sebab Om Sani bisa membangkitkan semangat para pemain.
Rafi yang tadinya ditunjuk sebagai assisten memilih tidak bergabung dengan tim maka Om Jossef dari SSB Tulehu yang diminta untuk membersamai Om Sani dalam melatih anak-anak Maluku saat itu. Tugas Om Sani dan Om Jossef adalah membawa harum nama baik Maluku. Berat sekali bukan? Belum lagi menyatukan kedua tim yang berbeda agama dalam satu tim yang bernama tim Maluku.
Pekerjaan yang tidak mudah. Baru selesai konflik, tetapi diminta untuk menyatukan keduanya. Beban itu bertubi-tubi dipikul oleh Om Sani dan Om Jossef, tetapi lagi-lagi bola bisa menunjukan rasa persatuan dan persaudaraan. Salim, Alvin, Kasim, Rizky membersamai Pangky, Pingky dan Pando dalam satu tim yang sama, bukan lagi beta dari SSB Tulehu, SSB Passo, bukan lagi beta dari Islam atau dari Kristen tapi dari Maluku.
Piala Medco-pun digelar. Berbekal dana seadanya, Alvin CS menuju Jakarta, perlu diketahui saja dana yang mereka peroleh itu dari bantuan masyarakat, bahkan Om Sani mengorbankan 2 ekor kambing untuk menambah ongkos tim ke Jakarta bahkan sebab hal ini membuat beliau hampir cerai dengan sang istri. Jakarta itu impian dan harapan anak-anak. Bagi Sani yang pupus cita-cita menjadi pemain profesional di Ibu kota, mimpi itu akan beliau wujudkan melalui mereka.
Tim hampir kalah, sebab pengelompokan itu masih terjadi saat pertandingan. Karena agama dan asal tim yang berbeda, membuat Om Jossef dan Om Sani hampir lepas tangan untuk mereka. Tetapi, doa dan harapan datang bukan saja dari mereka yang berlaga dalam lapangan, saya tahu betul gimana perasaan ibu-ibu Tulehu yang berharap anaknya bisa membuat harum negerinya, doa dari masjid sampai gereja dilanggam betul oleh ustadz dan pendeta dari kedua agama.
Selain itu di ruang ganti, Om Sani dan Om Jossef mencoba membakar semangat mereka. “Kalo beta bilang se dari mana, se jawab apa? tanya Om Sani pada Salim. “Maluku Kaka”. “Se dari mana?” tanya Om Sani pada Pingky dan Pangky. “Maluku Kaka,” serentak dua adik kaka itu menjawab. Dibakarlah semangat perlawanan itu, bahwa keluar dari lapangan bukan lagi bawa Islam dan Kristen atau Tulehu dan Passo tapi Maluku. Tidak salah pilih, Om Sani adalah pelatih yang bisa membakar semangat perlwanan itu.
Semangat persatuan dan motivasi dari Om Sani ini membuat Maluku mampu mencapai final. Di kemudian hari, Maluku U-15 berjumpa dengan Jakarta U-15 di final dan akhirnya Maluku U-15 menang dengan skor akhir 4-3 melalui titik pinalti. Walaupun Om Sani tidak bisa menggapai mimpinya sebagai tim professional, paling tidak beliau sudah tularkan semangat itu pada generasi berikutnya.
Anak-anak yang kemudian hari beliau asuh, menjadi nama,-nama yang pernah membela Timnas Indonesia. Lihat! Betapa indahnya sepakbola itu. Dari konflik, terus diajak bermain bola, dibentuk tim sepakbola, masuk piala Medco, dan akhirnya menjuarai, padahal dulu saling serang. Dulu, saling menyalahkan bahkan saling mengambil parang. Tetapi, di sepakbola semua jadi akur, semua jadi bersaudara.
Semoga kelak kita bisa melahirkan Om Sani-Om Sani baru yang peduli pada perdamaian dan anak. Kita juga berharap Timnas Indonesia dibawa asuha Pelatih Kepala Shin Tae Yong (STY) bisa membawa Timnas Garuda juara ditahun ini, masuk final sudah sering, 5 kali masuk kita hanya sebatas Runner-up semoga di tahun ini, yang masuknya 6 kali ini bisa memecahkan kebuntuan itu, tulisan ini dibuat sebelum Thailand menjamu Vietnam di final. Antara Thailand dan Vietnam siapapun yang menang malam nanti semoga sudah ada taktik yang baik dari Coach STY untuk laga final nanti.
Intinya, jangan putus di doa, jangan kendorin di dukungan, InsyaaAllah kita bisa menang di tahun ini. Aamiin.
“Aku jatuh cinta dengan Sepakbola seperti aku jatuh cinta kepada seorang Gadis.”
(-Nick Hornby-)
Sumber gambar : Pinterest



