
Jumat 10 Juli 2026, kami berenam, sampai di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, bersiap menyeberang ke Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat. Perjalanan ini adalah kegiatan rutin yang sempat berhenti sejak Juli 2023 dalam rangka membangun MKPPG (Masjid Kampus dan Pusat Pembelajaran Gratis) URUP dari Yayasan Peneleh Jang Oetama di dusun Pelitamasa, desa Kelawis, kecamatan Orong Telu, Kabupaten Sumbawa. Biasalah dinamika.
Entah seperti tertarik energi saya ke Orong Telu ya? Mengapa jadwalnya sangat pas 3 tahun. Padahal yang kami rencanakan awalnya adalah masalah hutang dakwah yang harus diselesaikan dengan mengukur seluruh potensi dan kemungkinan. Jawabannya setelah berdiskusi dengan tim, diputuskanlah Juli 2026.
Saya, pak Lalu Takdir (Koordinator Peneleh Lombok), mas Hendra Jaya (anggota Dewan Syuro Aktivis Peneleh), mas Ibnu (Sekjen Aktivis Peneleh) dan istri (mbak Rahma) serta anaknya (Nusa), dan Pak Zuhri (staf Sekolah Bani Hasyim, Singosari), memulai perjalanan naik mobil Pak Takdir menuju Kayangan. Setelah itu baru naik kapal menyeberang dari pulau Lombok ke pula Sumbawa. Kami sudah menunggu sejak pukul 12.00 dan baru bisa masuk kapal sekitar 14.00. Sampai di Pototano sekitar pukul 17.00.
Perjalanan dari Pototano pinginnya sih langsung tembus ke Orong Telu. Kenyataann lain. Kami baru sampai Sumbawa Besar pukul 21.00. Diputuskanlah menginap semalam di kota. Pagi 07.00 meluncur ke Lenangguar, yang masih normal, meski ternyata tidak sebaik 3 tahun lalu. Sampai di Lenangguar sekitar 09.00. Perjalanan dari Lenangguar ke Orongtelu ternyata tidak berbeda dengan bertahun-tahun lalu.
Masih dahsyat petualangannya, 30 km ditempuh hingga 4 jam. Sempat kami harus turun dari mobil, karena mobil tidak kuat tanjakan dengan kondisi jalan rusak parah. Seru sih hahaha.
Memasuki kecamatan Orongtelu, tak kuasa air mata berlinang, hingga byor sesenggukan. Pecah deh tangisanku. Cengeng dasar.
Entahlah. Yang jelas begitu masuk suasana desa , memori sejak 2020-2023 seperti menderukan jantung ini dan tak kuasa saya menahannya.
Alhamdulillah 13.00 sampailah kami di rumah rumah mas Hendra Jaya, yang juga jadi posko Peneleh. Di situ juga sudah ada Taman Belajar Masyarakat (TBM) Pelita Jang Oetama. Kondisinya? Membuat makin sedih.

Sejak di Malang, saya memang sudah membuat keputusan, akan rutin dua minggu di Sumbawa, dua minggu di Malang. Mengapa? Ya karena harus dijaga langsung. Tidak ada yang lebih bertanggunjawab. Ya saya ysng wajib menangggungnya. Bismillah.
Nah menariknya, mas Ibnu dan keluarganya bersedia tinggal di lokasi. Subhanallah. Allah Maha Besar. Semangat saya makin menderu.
Tak menunggu lama, setelah rehat sejenak, saya minta diantar ke lokasi Basecamp. Kondisi lahan yang masih hutan jati dan belum tersentuh kecuali sumur yang memang sudah disiapkan sejak 3 tahun lalu. Tanah ini seluas 2000 m2 di luar tanah wakaf milik Peneleh. Kami membelinya bukan hasil wakaf.

Dahsyat, begitu sampai di lokasi, ternyata pohon-pohon Jati yang sudah makin besar, berbeda dengan tiga tahun lalu yang masih banyak yang imut itu, seperti menyambut hangat penuh senyum dan mengatakan:
“Kami sudah siap untuk bersama kalian menjadi rumah dan kawasan padepokan pendukung MKPPG Urup yang jadi idealisme kita bersama di lokasi 4,5 Ha.”
Pak Rusdi yang sudah di lokasi dan sedang menyelesaikan pembuatan sumur menyambut saya dan mas Hendra. Bincang-bincang dan kangen karena lama tak berjumpa mengalir saja tak terkira.
Di sela perbincangan, Pak Rusdi yang juga ayah mas Hendra Jaya dengan bersemangat menjelaskan:
“Pak Dedi, ini sumur kok aneh, setelah minggu lalu saya coba lihat kembali dan saya finishing, lo air nya bisa mencapai 4 meter. Kondisi yang tidak biasa apalagi ini di bukit yang kering kerontang. Di Kelawis dan Pelita aja sekarang sedang kering. Bapak lewat sungai tadi kan? Ini lo airnya melimpah.”
Saya hanya dapat mengucap syukur. Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Setelah mas Ibnu, pak Zuhri, mas Jahe dan Pak Takdir datang kami survey awal dan mulai membuat kemungkinan bagaimana planning Basecamp yang akan dibangun. Sejam kemudian kami jalan ke lokasi MKPPG melihat persediaan kayu dan pondasi masjid 20×24 yang sudah berdiri. Selesai itu kami kembali ke rumah Pak Rusdi.
Malam kami berbincang untuk rencana, hingga besok paginya dilanjut dengan pembersihan lahan. Sabtu hingga Ahad ternyata banyak yang dapat diselesaikan. Alhamdulillah, menghidupkan kembali obor Peneleh agar hidup, Urip iku Urup mulai terang.
Senin kami balik ke Lombok. Nah ini yang seru. Ternyata di tiktok lama, tanggal 13 Juli 2023 kami juga balik dari Orongtelu ke Jawa bersama puluhan aktivis Peneleh, Bu Ari dan Mbak Vrida juga. Seru kan? Semua memang tidak ada yang kebetulan. Rencana Allah semoga rencana yang terbaik.
Sedangkan mas Ibnu tinggal untuk nganu gitu semacam jadi Pimpro lah hehehe. Kami juga berjanji akan kembali ke Orongtelu dua minggu lagi secara bergantian. Sedangkan di lokasi, Pak Rusdi mengerahkan pembangunan bersama mas Ibnu serta kawan-kawan yang ada di Orongtelu
Selasa kami meluncur balik ke Jawa.
Billahi fi Sabilil Haq.
Mataram, 14 Juli 2026
ADM











