
Jakarta – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut hingga mencatatkan rekor terburuk sepanjang masa. Pada perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,31 persen ke level Rp17.695 per dolar Amerika Serikat berdasarkan data Refinitiv, bahkan sempat menyentuh Rp17.706 menurut Bloomberg. Kondisi ini memicu gelombang kritik tajam dari Dewan Perwakilan Rakyat yang secara terang-terangan mendesak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk mengundurkan diri.
Dalam rapat kerja Komisi XI DPR dengan Bank Indonesia di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026), sejumlah anggota dewan menyuarakan tuntutan tersebut dengan nada pedas. Anggota Komisi XI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, menjadi salah satu yang paling vokal. Di hadapan jajaran petinggi bank sentral, Primus menilai bahwa di tengah mandulnya strategi moneter dalam meredam keperkasaan dolar AS, opsi pengunduran diri merupakan langkah paling ksatria yang bisa diambil. “Pak Perry yang saya hormati, kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri,” tegas Primus. Mantan bintang sinetron populer itu menambahkan bahwa langkah mundur di saat gagal menjaga stabilitas mata uang adalah potret budaya ksatria yang lumrah di negara maju, seperti di Korea dan Jepang.
Primus juga menyoroti adanya anomali besar pada struktur ekonomi makro nasional saat ini. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan performa impresif dengan tumbuh 5,61 persen secara tahunan, namun di sisi lain nilai tukar rupiah justru ambruk hingga mencetak rekor terendah sepanjang sejarah. Ia menyoroti bahwa pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap berbagai mata uang negara lain seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, hingga euro. “Ini yang menurut saya harus tajam dipertanyakan. Ironisnya, melemah terhadap semua mata uang,” kata Primus.
Kritikan tidak kalah pedas juga dilontarkan oleh Anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP, Harris Turino. Politisi tersebut menyoroti keresahan yang berkembang di masyarakat terkait dampak pelemahan rupiah terhadap harga-harga. “Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah 17.600. Bahkan muncul ejekan kalau Rp17.845 maka Indonesia merdeka katanya, 17-8-45,” ujar Harris. Ia juga menyebut bahwa intervensi BI yang sudah dilakukan besar-besaran, termasuk penggunaan cadangan devisa yang terkuras dari US$156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$146,2 miliar pada April 2026, belum mampu membendung pelemahan.
Di tengah memanasnya situasi, Gubernur BI Perry Warjiyo langsung merapat ke Istana Negara pada Senin (18/5/2026) untuk menghadap Presiden Prabowo Subianto guna melaporkan kondisi stabilitas moneter terkini. Seusai pertemuan tertutup tersebut, Perry terpantau sangat irit bicara. Ketika ditanya awak media mengenai desakan mundur dari anggota dewan, ia hanya menjawab singkat, “Yakin stabil.” Dalam rapat bersama Komisi XI DPR, Perry sebelumnya sempat menegaskan bahwa nilai tukar rupiah yang saat ini berada di atas level Rp17.600 sudah berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. BI memproyeksikan tekanan terhadap rupiah akan mulai berkurang memasuki semester II/2026.



