
Koran Peneleh – Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintahan Presiden Donald Trump. Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa AS harus menentukan sikap tegas: memilih jalur gencatan senjata atau terus membiarkan konflik berkepanjangan melalui Israel. Kedua opsi itu, kata Araghchi, tidak bisa berjalan bersamaan.
Melalui unggahan di akun media sosial X pada Rabu (8/4), Araghchi menulis bahwa persyaratan gencatan senjata antara Iran dan AS sudah jelas dan eksplisit. “Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya,” tulisnya dengan nada tegas. Ia juga menyoroti memburuknya situasi kemanusiaan di kawasan yang dinilainya semakin memprihatinkan dan menjadi sorotan dunia internasional. “Bola sekarang ada di tangan Amerika, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya,” imbuh Araghchi.
Peringatan tersebut muncul di tengah eskalasi militer yang terus berlangsung di Lebanon. Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan bahwa Iran dapat menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus melakukan serangan di Lebanon. Sementara itu, militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan besar-besaran ke lebih dari 100 lokasi di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan. Operasi itu disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam eskalasi terbaru. Israel juga disebut masih melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh Hizbullah, meskipun sebelumnya telah ada perjanjian gencatan senjata sejak November 2024.
Di tengah tekanan yang terus meningkat, AS sebelumnya mengumumkan adanya gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Iran setelah mediasi yang difasilitasi oleh Pakistan. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump pada 7 April lalu. Kesepakatan tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum batas waktu yang diberikan AS kepada Iran terkait tuntutan pembukaan Selat Hormuz dan negosiasi yang sebelumnya disertai ancaman eskalasi konflik lebih besar.
Para pengamat di Istanbul menilai bahwa pernyataan Araghchi ini merupakan ujian nyata bagi komitmen pemerintahan Trump. Dunia internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari Washington: apakah akan menahan sekutunya, Israel, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, atau justru membiarkan konflik terus berdarah-darah di Lebanon. Sementara itu, warga sipil di Lebanon selatan kembali menjadi korban pertama dari kebuntuan politik dan diplomasi yang tak kunjung menemukan titik terang.



