
Koran.peneleh.org – Eskalasi perang udara antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah melumpuhkan industri penerbangan dan pariwisata global. Penutupan total sejumlah hub penerbangan utama di kawasan Teluk selama empat hari terakhir membuat lebih dari 21.300 jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan, menyebabkan puluhan ribu penumpang terdampar di berbagai negara.
Bandara-bandara tersibuk di dunia seperti Dubai International, Doha Hamad, dan Abu Dhabi masih ditutup atau beroperasi dengan pembatasan sangat ketat. Berdasarkan data Flightradar24, pembatalan terjadi di tujuh bandara besar kawasan Teluk sejak serangan balasan dimulai. Situasi ini memutus jalur penerbangan vital antara Eropa dan Asia, hanya menyisakan koridor sempit yang mempersulit operasional maskapai global.
Dampak Langsung ke Warga dan Perekonomian
Pemerintah berbagai negara kini buru-buru mengevakuasi warganya. Otoritas Uni Emirat Arab melaporkan 60 penerbangan repatriasi telah beroperasi melalui koridor darurat, dan akan menyusul 80 penerbangan lagi. Amerika Serikat mengerahkan penerbangan militer dan carteran untuk mengevakuasi hampir 3.000 warganya yang berada di kawasan konflik.
“Kami tidak bisa pulang, tidak bisa kembali bekerja, dan anak-anak tidak bisa kembali ke sekolah,” keluh Tatiana Leclerc, seorang turis Prancis yang terdampar di Thailand, kepada Reuters. Rutenya yang transit di hub Timur Tengah terpaksa batal.
Kekacauan ini memicu lonjakan permintaan dan harga tiket untuk rute alternatif seperti Hong Kong-London. Para analis memperkirakan jika konflik berkepanjangan, sektor pariwisata Timur Tengah bisa kehilangan pendapatan miliaran dolar. Dampak pada kargo udara juga diperkirakan mencapai “miliaran dolar”, menurut Paul Charles, CEO konsultan perjalanan mewah PC Agency.
Saham Maskapai Terjun Bebas, Harga Minyak Melambung
Guncangan langsung dirasakan pasar saham. Saham maskapai di seluruh dunia anjlok pada Selasa (3/3/2026). Di Eropa, saham Wizz Air, IAG (British Airways), Lufthansa, dan Air France-KLM ditutup turun 5% hingga 8%. Di Asia, Korean Air Lines ambrol 10,3% (terburuk sejak Maret 2020) dan Japan Airlines terkoreksi 6,4%. Saham maskapai AS seperti Southwest sempat melemah 0,6% sebelum sedikit membaik di sore hari.
Penyebab utama selain terganggunya operasional adalah lonjakan harga minyak mentah yang sudah naik 30% sepanjang tahun ini. Kenaikan ini secara langsung mendongkrak biaya bahan bakar jet, yang merupakan beban operasional terbesar kedua setelah gaji karyawan. Analis Third Bridge, Peter McNally, mencontohkan kenaikan harga avtur 10% dapat menambah biaya hingga USD 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun) bagi laporan keuangan Delta Air Lines tahun 2026.
Meski demikian, tidak semua maskapai terdampak sama. CEO Ryanair, Michael O’Leary, mengklaim perusahaannya telah melakukan lindung nilai (hedging) harga bahan bakar setahun ke depan di level USD 67 per barel, sehingga fluktuasi terkini tak akan berdampak besar. CEO Qantas, Vanessa Hudson, juga menyebut perusahaannya memiliki perlindungan harga bahan bakar yang “cukup baik”, meski lonjakan ini tetap signifikan bagi industri.
Sinyal positif mulai terlihat dengan rencana Virgin Atlantic melanjutkan penerbangan terjadwal London-Dubai dan Riyadh pada Rabu (4/3) ini. Namun, analis J.P. Morgan, Karen Li, mengingatkan dampak finansial dan operasional akan sangat bervariasi antar maskapai, tergantung pada strategi hedging, eksposur kargo, dan kemampuan mengatur ulang rute.



