
Koran Peneleh – Rencana rahasia Amerika Serikat untuk mencairkan ketegangan dengan Iran melalui perundingan di Islamabad, Pakistan, berakhir dengan kegagalan total pekan lalu. Yang lebih menyakitkan bagi Washington, kegagalan itu terjadi setelah delegasi AS menyadari bahwa semua data ekonomi yang mereka bawa sudah kadaluwarsa, sementara Iran justru datang dengan informasi yang lebih akurat.
Perundingan tertutup itu berlangsung selama empat hari, dari 12 hingga 15 April 2024. Pakistan bertindak sebagai mediator. Ini adalah upaya serius pertama AS dalam enam bulan terakhir untuk membahas kembali program nuklir Iran dan sanksi minyak.
Hari pertama berjalan tanpa insiden berarti. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Victoria Taylor tiba di Islamabad dengan keyakinan tinggi. Mereka membawa data intelijen yang menunjukkan ekonomi Iran sedang sekarat. Inflasi diprediksi 45 persen. Ekspor minyak disebut turun drastis.
Namun masalah mulai terlihat pada hari kedua, 13 April. Saat pembicaraan dimulai, delegasi Iran yang dipimpin Ali Bagheri Kani langsung mengoreksi angka-angka AS. Menurut Kani, Iran justru mencatatkan kenaikan ekspor minyak menjadi 1,7 juta barel per hari pada kuartal pertama 2024. Angka itu, klaimnya, adalah yang tertinggi sejak 2018.
Delegasi AS awalnya meragukan klaim tersebut. Mereka meminta tim pendukung di Washington untuk memverifikasi. Hasilnya mengejutkan. Data satelit dan laporan pelayaran internasional membuktikan bahwa Iran benar. Selama berbulan-bulan, Iran berhasil menjual minyak ke China melalui sistem pembayaran digital yang tidak terdeteksi sistem keuangan global. AS terlambat mengetahui.
Pada hari ketiga, 14 April, situasi semakin memburuk. Di tengah perundingan, delegasi Iran menerima kabar bahwa sekutu mereka di Yaman, kelompok Houthi, berhasil menembak jatuh drone M-9 Reaper milik AS. Kabar itu belum sampai ke Washington saat itu. Namun Iran sudah tahu lebih dulu.
Kani langsung menyampaikan informasi itu di meja perundingan. Ia mengatakan bahwa setiap tekanan AS di meja hijau akan dijawab dengan tekanan di lapangan. Delegasi AS terdiam. Mereka meminta jeda dan mengadakan pertemuan internal selama satu jam.
Setelah jeda, AS mencoba menyelamatkan situasi. Taylor menawarkan pencairan aset Iran senilai 2 miliar dolar AS yang dibekukan di Korea Selatan. Sebagai imbalannya, Iran diminta menghentikan pengayaan uranium di atas 5 persen. Namun Kani menolak. Ia mengatakan angka itu terlalu kecil.
Pakistan kemudian mencoba menjadi penengah. Pada hari keempat, 15 April, Perdana Menteri Shehbaz Sharif secara langsung mengusulkan formula kompromi. Iran menghentikan pengayaan 60 persen selama 90 hari, dan AS mencairkan 2 miliar dolar. Kani menyetujui dengan satu syarat: AS harus mengakui secara tertulis bahwa mereka yang memulai perang ekonomi terhadap Iran.
Taylor menolak mentah-mentah. Baginya, pengakuan semacam itu akan menjadi senjata hukum bagi Iran di masa depan. Sesi penutupan berlangsung hanya tujuh menit. Kedua delegasi keluar tanpa pernyataan bersama.
Yang membuat kegagalan ini begitu pahit bagi AS terungkap setelah perundingan usai. Seorang pejabat Pakistan yang tidak mau disebut namanya mengatakan kepada media bahwa selama empat hari, ruang perundingan telah dipasangi alat penyadap canggih. Tidak diketahui siapa pemasangnya, apakah Iran atau pihak lain. Namun yang jelas, setiap kata yang diucapkan delegasi AS terekam.
Dua hari kemudian, rekaman itu muncul di saluran Telegram yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran. Isi rekaman itu belum bisa diverifikasi secara independen, tetapi keberadaannya saja sudah cukup untuk mempermalukan Washington.
Analis hubungan internasional dari Universitas Islamabad, Dr. Farhan Ahmad, mengatakan kegagalan ini bukan hanya tentang ketiadaan kesepakatan. Menurutnya, ini adalah kegagalan intelijen. AS datang dengan data yang salah, sementara Iran datang dengan informasi yang lebih mutakhir dan koneksi lapangan yang lebih cepat.
Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi mengenai bocoran rekaman tersebut. Namun juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, John Kirby, hanya mengatakan bahwa AS selalu terbuka untuk diplomasi, tetapi tidak akan berunding di bawah tekanan.
Iran sendiri merayakan hasil ini sebagai kemenangan moral. Media lokal Iran memberitakan bahwa delegasi AS “pulang dengan tangan hampa” sementara Iran berhasil mempertahankan seluruh posisinya tanpa memberikan konsesi berarti.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada rencana untuk putaran perundingan berikutnya. Islamabad menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi lagi, tetapi kedua pihak belum memberi respons. Diplomasi AS-Iran kembali memasuki fase dingin, dengan satu pelajaran baru: di meja perundingan, data basi bisa lebih mematikan daripada rudal.



