
Koran.peneleh.org – Krisis Timur Tengah yang memanas sejak sebulan terakhir kini mulai menunjukkan dampak nyata pada sektor riil Asia. Data terbaru yang dirilis Rabu (1/4) menunjukkan aktivitas pabrik di sejumlah negara Asia melambat tajam pada Maret 2026, dengan lonjakan harga energi akibat perang Iran menjadi biang utamanya. Laporan dari S&P Global yang dikutip Reuters mengungkapkan, tekanan biaya produksi yang meroket telah memaksa banyak industri mengurangi aktivitas dan menahan ekspansi.
Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia anjlok drastis ke level 50,1 pada Maret 2026, turun tajam dari posisi 53,8 pada Februari lalu. Angka ini nyaris menyentuh ambang batas kontraksi (50,0), mengisyaratkan bahwa sektor manufaktur nasional berada di ujung pertumbuhan. Perlambatan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Vietnam mencatat PMI turun dari 54,3 menjadi 51,2, sementara Taiwan dan Filipina juga mengalami pelemahan serupa.
“Kenaikan biaya input terjadi pada tingkat tercepat sejak Agustus 2024 karena perang Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dan bahan baku,” tulis laporan S&P Global untuk Jepang, yang PMI-nya turun dari 53,0 menjadi 51,6. Jepang juga dibebani oleh pelemahan yen dan kekurangan tenaga kerja yang memperparah tekanan biaya.
Annelabel Fiddes, Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, menjelaskan bahwa konflik bersenjata ini telah menciptakan ketidakpastian global yang luar biasa. “Perang juga telah memicu ketidakpastian yang lebih besar tentang prospek ekonomi global, menekan kepercayaan bisnis dan mengakibatkan aktivitas perekrutan serta pembelian yang lebih berhati-hati,” ujarnya dalam laporan yang dirilis Rabu (1/4).
Kerentanan Asia terhadap guncangan energi ini bukan tanpa alasan. Kawasan ini membeli sekitar 80 persen minyak yang diangkut melalui Selat Hormuz, jalur vital yang saat ini menjadi pusat konflik dan praktis lumpuh akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sementara itu, Korea Selatan menjadi satu-satunya pengecualian dengan PMI yang melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun, didorong oleh lonjakan permintaan semikonduktor global.
Bagi Indonesia, laporan ini menjadi alarm paling keras atas rapuhnya struktur ekonomi nasional di tengah gejolak geopolitik. Sebagai negara pengimpor minyak bersih dengan ketergantungan impor 20 hingga 25 persen dari Timur Tengah, lonjakan harga energi langsung menekan biaya produksi industri. Hal ini terjadi di saat pemerintah justru memberlakukan kebijakan penghematan anggaran dan pembatasan BBM bersubsidi yang dinilai akan semakin menekan daya beli masyarakat.
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, sebelumnya telah memperingatkan bahwa kombinasi tekanan eksternal dan kebijakan fiskal yang kontraktif dapat memicu efek berantai. Ketika biaya produksi naik sementara konsumsi dalam negeri ditekan, maka dunia usaha akan terjepit dan berpotensi melakukan efisiensi tenaga kerja. “Tanpa stimulus yang memadai, perlambatan ini bukan sekadar angka, tapi bisa menjadi awal dari pelemahan yang lebih dalam,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Indonesia belum memberikan respons resmi terkait memburuknya data aktivitas manufaktur nasional. Namun, pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya yang mengklaim program mandatori B50 akan menciptakan surplus stok gasoil dalam negeri seolah berbenturan dengan kenyataan di lapangan: industri sedang berjuang di bawah tekanan biaya yang terus meninggi. Sementara pertarungan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Indonesia—dan Asia pada umumnya—kini harus bersiap menghadapi musim semi yang kelam bagi sektor riilnya.



