
Koran.peneleh.org – Duka mendalam menyelimuti bangsa Indonesia. Tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) gugur dalam dua insiden terpisah pada Minggu (29/3) dan Senin (30/3) lalu. Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon yang gugur akibat serangan proyektil di pos UNIFIL Ett Taibe, serta dua prajurit lainnya yang tewas ketika konvoi logistik mereka dihantam ledakan di dekat Bani Hayyan, Lebanon Selatan. Duka ini semakin dalam setelah investigasi awal PBB mengindikasikan bahwa tembakan dari tank pasukan penjajahan Israel menjadi penyebab gugurnya Praka Farizal. Puing-puing proyektil tank ditemukan di lokasi kejadian.
Di tengah berkabungnya bangsa atas gugurnya para pahlawan perdamaian ini, Dewan Syuro Aktivis Peneleh melancarkan kritik tajam kepada pemerintah. Ketua Dewan Syuro, Iskandar Eka Asmuni, dengan tegas mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera menarik Indonesia dari keanggotaan Board of Peace (BoP), forum perdamaian yang diprakarsai oleh Amerika Serikat dan diketuai langsung oleh Presiden Donald Trump.
“Air mata dan darah prajurit kita telah menjadi harga yang terlalu mahal. Mereka gugur di tangan rezim yang sama yang kini duduk nyaman sebagai pemimpin dalam forum yang mengaku memperjuangkan perdamaian,” ujar Iskandar dalam pernyataan persnya di Malang, Rabu (1/4). “BoP telah kehilangan legitimasi. Bagaimana mungkin Indonesia duduk satu meja dengan negara yang peluru tanknya membunuh anak bangsa sendiri? Ini bukan sekadar kontradiksi, ini adalah penghianatan terhadap amanat konstitusi dan darah para syuhada.”
Kritik ini merujuk pada fakta bahwa hanya sepuluh hari setelah Presiden Prabowo menandatangani piagam BoP di Davos pada Januari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Ironi ini sebelumnya juga disorot oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, yang mempertanyakan kredibilitas forum tersebut. “Bagaimana bisa kita mau mengatakan ketua BoP kalau demikian? Baru ditandatangani di Davos, 10 hari kemudian Amerika menyerang Iran,” ujar JK dalam pertemuan dengan para mantan duta besar Indonesia, Kamis (12/3) lalu.
Iskandar Eka Asmuni menegaskan, insiden gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon merupakan pemakluman bahwa BoP tidak pernah mampu menciptakan perdamaian, melainkan justru menjadi tameng bagi agresi militer Israel. Ia juga menyoroti hasil investigasi PBB yang menyebut adanya peningkatan serangan terhadap pasukan UNIFIL, termasuk tembakan peringatan dan serangan langsung dari tank Israel terhadap patroli PBB di Naqoura.
“Jangan ada lagi keraguan. Dunia sudah melihat siapa agresor sebenarnya. Indonesia tidak boleh terus-menerus terjebak dalam posisi yang absurd: mengirim putra-putra terbaik untuk berjaga di bawah bendera PBB, sementara di saat yang sama pemerintah terlibat dalam forum yang dipimpin oleh aktor utama konflik ini,” tegas Iskandar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo memang sempat berjanji di hadapan para ulama bahwa Indonesia akan keluar dari BoP jika forum tersebut tidak membantu perjuangan kemerdekaan Palestina. Namun, hingga tiga prajurit gugur dan usulan penarikan diri menguat dari berbagai kalangan—termasuk para mantan duta besar yang tergabung dalam Indonesia Council on World Affairs (ICWA) serta aktivis kemanusiaan seperti Wanda Hamidah—pemerintah dinilai masih gamang mengambil sikap.
“Pemerintah harus berani. Darah tiga pahlawan ini harus menjadi titik balik. Tidak ada artinya kita terus mengirim pasukan perdamaian jika kita secara politis justru melegitimasi mesin perang. Keluar dari BoP adalah langkah pertama untuk mengembalikan martabat politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif,” pungkas Iskandar.
Hingga berita ini diturunkan, proses investigasi UNIFIL masih berlangsung untuk menentukan secara pasti pihak yang bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan tiga prajurit TNI tersebut. Jenazah Praka Farizal Rhomadhon saat ini disemayamkan di East Sector Headquarters dan dalam proses administrasi untuk dipulangkan ke Tanah Air. Namun, di tengah hiruk-pikuk protokol keprotokolan kenegaraan yang sibuk mengatur penyambutan jenazah dengan pangkat dan upacara militer, keluarga besar TNI dan masyarakat Indonesia masih terus bertanya: apakah kehormatan tiga pahlawan ini akan dibalas dengan sekadar upacara kebesaran, atau dengan keberanian politik yang nyata? Sebab, jika pemerintah masih juga bertahan dalam BoP setelah anak buahnya tewas oleh tank Israel, maka bangsa ini patut bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya selama ini prajurit-prajurit terbaik dikorbankan di tanah orang.



