
Koran.peneleh.org – Indonesia berduka. Tiga putra terbaik bangsa gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian di tanah asing. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan duka mendalam atas gugurnya Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon, yang bertugas dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL). Ketiganya menjadi bagian dari 1.230 personel TNI yang selama ini ditempatkan di tengah pusaran konflik yang kian menggila di kawasan Timur Tengah. Melalui akun Instagram pribadinya, Presiden Prabowo menyebut mereka sebagai pahlawan bangsa yang telah mengemban amanah negara dengan segenap jiwa dan raga.
Gugurnya tiga prajurit ini bukan sekadar kehilangan pribadi bagi keluarga besar TNI dan bangsa Indonesia. Ia menjadi simbol betapa panasnya percikan api yang kini membakar kawasan Timur Tengah. Selama sebulan terakhir, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menjelma menjadi perang terbuka yang mengguncang stabilitas global. Jalur perdagangan minyak dunia yang melewati Selat Hormuz nyaris lumpuh, harga komoditas melonjak tak terkendali, dan ancaman resesi global kembali menghantui negara-negara berkembang. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan kerugian ekonomi negara-negara Arab akibat konflik ini mencapai hampir dua triliun dolar Amerika Serikat, dengan 400 juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan.
Indonesia, meski berada ribuan mil dari pusat konflik, merasakan getarannya langsung. Negeri yang masih menggantungkan 20 hingga 25 persen impor minyaknya dari Timur Tengah ini mendadak dihadapkan pada kenyataan pahit tentang rapuhnya ketahanan energi nasional. Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tentang cadangan BBM yang hanya cukup untuk 20 hari menjadi pemicu. Meski kemudian diklarifikasi sebagai stok sirkulasi yang terus bergerak, ia cukup meluluhlantakkan ketenangan publik. Dalam hitungan hari, antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU dari Aceh hingga Makassar, dari Tangerang Selatan hingga Bondowoso. Warga rela berjam-jam mengantre hanya untuk mendapatkan empat liter Pertalite, seolah dunia benar-benar akan kehabisan minyak keesokan harinya.
Di tengah tekanan global yang membelit, pemerintah mengambil langkah pragmatis. Mulai 1 April 2026, aparatur sipil negara diwajibkan bekerja dari rumah setiap Jumat. Kebijakan ini bukan sekadar soal efisiensi energi, melainkan pengakuan atas kenyataan bahwa Indonesia harus beradaptasi dengan dunia yang sedang terbakar. Pemerintah juga membatasi pembelian BBM subsidi untuk kendaraan pribadi maksimal 50 liter per hari, sebuah langkah yang mungkin akan terasa menyakitkan bagi sebagian masyarakat namun dianggap perlu untuk menjaga agar stok nasional tetap terjaga.
Namun di tengah duka dan kepanikan itu, ada secercah harapan yang datang dari sisi lain dunia. Pada perdagangan Selasa (31/3), bursa saham Wall Street mencatatkan kenaikan terbesar sejak Mei 2025. Indeks S&P 500 melonjak hampir 3 persen, didorong oleh spekulasi bahwa eskalasi konflik Timur Tengah mungkin akan mereda. Kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka, menjadi angin segar bagi pasar keuangan global. Dolar Amerika yang sebelumnya perkasa mulai melemah, memberikan ruang napas bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Untuk Indonesia, pertarungan belum usai. Ratusan personel TNI masih bertugas di Lebanon. Mereka tetap berada di garis terdepan, di tengah pertempuran yang tak pernah benar-benar berhenti, menjalankan amanat konstitusi untuk ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia. Kematian tiga prajurit bukanlah akhir. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia, seberapapun kecilnya peran yang dimainkan, tidak bisa menutup mata dari gejolak global. Dunia sedang berguncang, dan Indonesia, dengan duka yang dipikulnya, harus tetap berdiri.



