
KORAN PENELEH – Serangan rudal dan drone Iran terhadap fasilitas gas alam cair (LNG) di Ras Laffan Industrial City, Qatar, telah mengguncang pasar energi global dengan hilangnya 12,8 juta ton pasokan LNG per tahun, atau sekitar 17 persen dari total kapasitas ekspor Qatar. Kerugian tahunan diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS, dengan perbaikan infrastruktur yang rusak diperkirakan memakan waktu tiga hingga lima tahun ke depan, menciptakan krisis energi terbesar dalam satu dekade terakhir.
QatarEnergy, perusahaan energi milik negara Qatar, mengonfirmasi bahwa serangan yang terjadi pada 18 dan 19 Maret 2026 telah merusak dua unit produksi LNG, yaitu Train 4 dan Train 6, yang merupakan usaha patungan dengan raksasa energi Amerika Serikat, ExxonMobil. Train 4 adalah kerja sama antara QatarEnergy dengan porsi 66 persen dan ExxonMobil 34 persen, sementara Train 6 dimiliki bersama dengan porsi 70 persen untuk QatarEnergy dan 30 persen untuk ExxonMobil. Selain kedua unit LNG tersebut, fasilitas Pearl Gas-to-Liquids (GTL) yang dioperasikan oleh Shell juga menjadi sasaran serangan, dengan satu dari dua unit produksinya dipastikan akan berhenti beroperasi setidaknya selama satu tahun untuk menjalani perbaikan menyeluruh.
Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad Sherida Al-Kaabi, menyatakan bahwa pihaknya terpaksa akan memberlakukan force majeure pada sejumlah kontrak jangka panjang pasokan LNG. Dampak ini akan langsung dirasakan oleh sejumlah negara pembeli utama, seperti China, Korea Selatan, Italia, dan Belgia. “Perbaikan fasilitas LNG yang rusak akan memakan waktu tiga hingga lima tahun. Ini berdampak pada China, Korea Selatan, Italia, dan Belgia. Kami akan terpaksa menyatakan force majeure hingga lima tahun untuk beberapa kontrak LNG jangka panjang,” ujar Al-Kaabi dengan nada penuh kekhawatiran.
Dampak serangan ini tidak hanya berhenti pada LNG. Qatar juga akan kehilangan produksi produk-produk turunan dalam jumlah signifikan. Akibat penutupan Train 4 dan Train 6, Qatar diperkirakan akan kehilangan 18,6 juta barel kondensat yang setara dengan 24 persen ekspor, 1,281 juta ton LPG atau 13 persen dari total ekspor, 0,594 juta ton nafta atau 6 persen, 0,18 juta ton belerang atau 6 persen, serta 309,54 juta kaki kubik per tahun helium yang mencapai 14 persen dari ekspor global. Kehilangan helium ini berpotensi mengganggu pasokan untuk industri medis dan teknologi tinggi di seluruh dunia.
Krisis ini telah menciptakan skenario terburuk bagi pasar gas global. Anne-Sophie Corbeau, mantan kepala analisis gas di BP yang kini menjadi peneliti di Columbia University’s Center on Global Energy Policy, menyebut serangan ini sebagai “skenario mimpi buruk, skenario Armagedon” yang paling ditakuti oleh para analis energi. “Ini selalu menjadi skenario mimpi buruk saya, skenario Armagedon yang tidak ingin terjadi. Ketika infrastruktur LNG di Teluk menjadi sasaran, seluruh dunia merasakan getarannya,” ujarnya kepada Financial Times.
Harga gas di Eropa melonjak 30 persen saat pasar dibuka kembali setelah serangan dan telah berlipat ganda sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu. Harga minyak juga melonjak 10 persen hingga mendekati 119 dolar AS per barel karena kekhawatiran serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk yang masih membara. Analis memperingatkan bahwa kelangkaan LNG ini dapat menambah 50 basis poin pada inflasi global dan berpotensi memangkas produk domestik bruto (PDB) global hingga 30 hingga 40 basis poin, dengan Asia dan Eropa menjadi wilayah yang paling terdampak akibat ketergantungan tinggi mereka pada pasokan LNG Qatar.
Bagi para pemain besar industri energi, ketidakpastian kini membayangi masa depan mereka. ExxonMobil menghadapi risiko besar karena sekitar dua pertiga volume LNG dalam portofolionya terkait dengan Qatar, menjadikan perusahaan asal Amerika ini sebagai salah satu yang paling rentan terhadap dampak jangka panjang konflik. Sementara itu, Shell tidak hanya terdampak pada fasilitas Pearl GTL yang menjadi kebanggaan teknologi mereka, tetapi juga harus menghadapi potensi penundaan proyek ekspansi North Field East (NFE) yang dijadwalkan mulai beroperasi pada November 2026. Penundaan proyek-proyek besar ini dapat menciptakan kesenjangan signifikan dalam portofolio produksi perusahaan-perusahaan mitra seperti TotalEnergies dari Prancis dan Eni dari Italia dalam beberapa tahun ke depan, memaksa mereka untuk mencari sumber pasokan alternatif di tengah pasar yang semakin langka



