
Istanbul – Iran pada Senin mengancam akan mengerahkan ranjau laut di seluruh Teluk Persia jika Amerika Serikat dan Israel menyerang pantai atau pulau-pulau Iran, memperingatkan bahwa langkah tersebut secara efektif dapat menutup jalur perairan penting di kawasan itu. Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah AS dilaporkan mempertimbangkan operasi darat untuk merebut Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.
Dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita Fars, Dewan Pertahanan Nasional Iran mengatakan bahwa setiap upaya oleh “musuh” untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran akan menyebabkan pemasangan ranjau di jalur akses dan jalur komunikasi di seluruh Teluk. Dewan tersebut menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan mencakup berbagai jenis ranjau laut, termasuk ranjau terapung yang dapat diluncurkan dari pantai. Pernyataan itu memperingatkan bahwa dalam skenario seperti itu, seluruh Teluk Persia “akan menghadapi kondisi yang mirip dengan Selat Hormuz untuk jangka waktu yang lama,” yang secara efektif menutup jalur maritim. Tanggung jawab atas hasil tersebut akan berada pada pihak yang memulai serangan, tambah pernyataan itu.
Dewan tersebut juga mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi “negara-negara non-agresif” untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman adalah “melalui koordinasi dengan Iran.” Selat Hormuz sendiri telah terganggu secara efektif sejak awal Maret. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati jalur tersebut setiap hari, dan gangguan yang ditimbulkannya telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi. Harga minyak mentah Brent telah melonjak hingga mencapai 114,09 dolar AS per barel, memperburuk kekhawatiran inflasi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat.
Eskalasi regional terus berkobar sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatullah Ali Khamenei. Hingga pekan keempat konflik, korban jiwa di Iran dan Lebanon terus bertambah, dengan ribuan warga sipil dilaporkan menjadi korban serangan udara yang menyasar sejumlah kota besar termasuk Teheran. Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Ancaman ranjau laut Iran datang sehari setelah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan operasi militer darat untuk merebut Pulau Kharg. Seorang pejabat AS dilaporkan mengatakan bahwa militer telah mempercepat pengerahan ribuan personel Marinir dan Angkatan Laut ke Timur Tengah. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan bahwa semua opsi masih terbuka dan tidak menutup kemungkinan mengirim pasukan ke pulau strategis tersebut. Pulau Kharg merupakan lokasi vital karena menampung sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, sehingga menjadikannya target utama jika konflik terus bereskalasi.
Ketegangan di kawasan Teluk semakin memicu kekhawatiran global akan terganggunya pasokan energi dunia. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk negara-negara Asia yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, mulai bersiap menghadapi potensi krisis energi. Sementara itu, gelombang protes anti-perang terus meluas di berbagai negara, dengan ribuan warga di Spanyol, Inggris, Kanada, dan sejumlah kota besar lainnya turun ke jalan menuntut penghentian agresi militer. Di Madrid, 69 persen warga Spanyol dilaporkan menentang perang AS-Israel ke Iran, sementara demonstran di London mengecam apa yang mereka sebut sebagai “serangan brutal” yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil.
Dunia internasional pun semakin keras menyuarakan kekhawatiran. China dan Rusia secara terpisah mengecam eskalasi konflik dan mendesak penghentian segera operasi militer. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan keberatan langsung kepada mitranya dari Israel, menekankan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa konflik ini berisiko memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh. Dengan ancaman ranjau laut yang kini ditambahkan ke dalam dinamika konflik, dunia bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: penutupan total jalur minyak Teluk yang akan mengguncang perekonomian global.
Sumber: Antara



