
Koran.peneleh.org – Ketua Dewan Syuro Aktivis Peneleh, Iskandar Eka Asmuni, mengeluarkan peringatan keras terkait potensi krisis energi dan pangan yang mengancam Indonesia di tengah gejolak global. Ia meminta masyarakat untuk mulai bersiap dari jauh hari tanpa harus panik menghadapi kemungkinan terburuk.
Pernyataan ini disampaikan menyusul rangkaian krisis yang melanda sejumlah negara dalam beberapa pekan terakhir. Kuba mengalami blackout nasional setelah pasokan minyak terhenti, memicu protes warga dan kelumpuhan total transportasi. Pakistan terpaksa menutup sekolah-sekolah dan memangkas gaji para menteri. Thailand dan Bangladesh menerapkan kebijakan kerja dari rumah serta penghematan listrik ekstrem, sementara warga Vietnam harus mengantre panjang di SPBU setelah pemerintah menghapus tarif impor.
Menurut Iskandar, situasi tersebut bukan sekadar berita mancanegara yang jauh dari realitas Indonesia.
“Jangan pernah merasa kita kebal dari krisis. Ketergantungan kita pada pasokan energi dan pangan global, ditambah dengan budaya konsumsi berlebih, membuat kita sama rentannya dengan negara-negara yang saat ini terpuruk,” ujarnya di markas saat dihubungi melalui WA oleh tim Koran.peneleh.org, Kamis (19/3).
Iskandar mengingatkan bahwa tanda-tanda krisis sebenarnya sudah muncul di permukaan. Fluktuasi harga pangan, kelangkaan minyak goreng beberapa waktu lalu, serta antrean LPG yang masih kerap terjadi adalah alarm kecil yang tidak boleh diabaikan.
“Jika krisis global semakin dalam, jangan kaget jika suatu hari kita terbangun dalam gelap seperti Kuba, atau melihat anak-anak belajar dari rumah karena sekolah tutup seperti di Pakistan. Itu bukan skenario fiksi, tapi kemungkinan nyata jika kita tidak bersiap,” tegasnya.
Namun, Iskandar menekankan bahwa persiapan menghadapi krisis harus dilakukan dengan tenang dan terencana, bukan dengan kepanikan.
“Justru jangan panik. Persiapan adalah antitesis dari kepanikan. Bersiaplah dari jauh hari, bangun kemandirian di tingkat rumah tangga. Ketika krisis datang, keluarga yang siap tidak akan ikut-ikutan panic buying atau memperburuk situasi,” jelasnya.
Aktivis Peneleh sendiri telah merancang Program Tandhim III: Panduan Zelfbestuur Menghadapi Krisis Global yang berfokus pada penguatan ketahanan individu, keluarga, hingga komunitas. Program ini mencakup disiplin konsumsi, penghidupan kembali tradisi menanam di pekarangan rumah, penyediaan cadangan logistik darurat, hingga penguatan sistem gotong royong berbasis lumbung pangan lokal.
“Krisis tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Tapi juga tidak bisa dihadapi dengan panic buying atau menimbun barang. Kuncinya adalah kemandirian kolektif dan gotong royong. Mulai dari hal kecil: siapkan cadangan air dan makanan kering, beli radio portable untuk antisipasi jika internet down, sepakati titik kumpul keluarga jika komunikasi terputus. Hal-hal sederhana ini bisa menyelamatkan,” paparnya.
Iskandar menutup pernyataannya dengan pesan optimisme yang realistis.
“Kita tidak bisa mengendalikan konflik global atau kebijakan negara lain. Tapi kita bisa mengendalikan ketahanan rumah tangga kita sendiri. Mari bersiap, bukan dengan rasa takut, tapi dengan kesadaran dan gotong royong. Insyaallah, jika kita mandiri dan kompak, kita bisa melewati badai ini.”
Sementara itu, sejumlah pengamat menilai peringatan Aktivis Peneleh ini relevan dengan kondisi ketahanan energi dan pangan nasional yang masih memiliki sektor kerentanan. Mereka mendorong pemerintah untuk lebih serius memperkuat kemandirian energi dan pangan, serta masyarakat untuk mulai membangun ketahanan dari unit terkecil, yaitu keluarga.



