
Pemerintah Korea Selatan masih mengkaji kemungkinan pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz menyusul “ajakan” Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada sejumlah negara sekutu. Keputusan akan diambil setelah berkonsultasi dengan AS dan mempertimbangkan situasi terkini di Timur Tengah.
Melalui akun media sosialnya Truth Social pada Sabtu (14/3), Trump menyerukan setidaknya enam negara—termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris—untuk mengirim kapal ke Selat Hormuz. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Korsel, Minggu (15/3), menyatakan akan mengambil keputusan setelah peninjauan saksama.
“Kami mencermati penyebutan oleh Presiden AS di media sosial. Terkait hal ini, Korsel dan AS akan terus menjaga komunikasi erat dan setelah melakukan peninjauan secara saksama akan mengambil keputusan yang tepat,” ujar juru bicara Kemlu Korsel kepada RIA Novosti.
Seoul menegaskan bahwa keselamatan jalur transportasi maritim internasional dan kebebasan navigasi merupakan kepentingan semua negara yang dilindungi hukum internasional.
Pemerintah Korsel juga terus memantau secara intensif perkembangan situasi di Timur Tengah. Berbagai langkah sedang dipertimbangkan untuk melindungi warga negaranya serta menjamin keamanan jalur transportasi energi yang vital bagi perekonomian Korsel.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai titik paling sensitif di Timur Tengah. Hampir sepertiga perdagangan minyak dunia melalui jalur sempit di lepas pantai Iran ini.



