
MALANG – Aktivis Peneleh mengingatkan masyarakat Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi dampak eskalasi konflik global yang diprediksi akan berpengaruh pada energi, pangan, ekonomi, hingga psikologi sosial bangsa. Melalui Program Tandhim III yang bertajuk “Kita Selamatkan Indonesia: Menghadapi Dampak Konflik Global Berbasis Kekuatan Zelfbestuur”, Peneleh menyerukan langkah konsolidasi dan kemandirian sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakpastian global. Program ini secara resmi dibacakan dan disampaikan oleh Ketua Dewan Syuro Aktivis Peneleh, Iskandar Eka Asmuni, dalam sebuah forum konsolidasi internal yang berlangsung di Malang, Sabtu (14/3/2026).
Program yang dirilis melalui surat edaran bernomor 038/DW-SY.A/A90.04/III/2026 ini menegaskan bahwa dinamika geopolitik dunia saat ini berada di luar kendali warga negara biasa, namun selalu ada ruang ikhtiar yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Indonesia. Sejak 2015, Peneleh telah membangun semangat Zelfbestuur atau kemandirian sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan.
Dalam sambutannya saat membacakan seruan program tersebut, Iskandar Eka Asmuni menekankan bahwa eskalasi global yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan geopolitik biasa, melainkan telah memasuki fase yang mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat akar rumput. Ia mengingatkan bahwa konflik di berbagai belahan dunia, termasuk perang yang melibatkan negara-negara besar, akan berdampak langsung pada harga energi, ketersediaan pangan, stabilitas ekonomi, hingga kondisi psikologis masyarakat Indonesia.
“Program Tandhim ini bukan reaksi kepanikan, ini adalah langkah sadar upaya konsolidasi mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi untuk Menyelamatkan Indonesia. Kita tidak bisa mengendalikan kebijakan geopolitik negara-negara besar, kita tidak bisa menentukan harga minyak dunia, tapi kita bisa menentukan bagaimana kita bersikap dan bertindak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat,” ujar Iskandar Eka Asmuni di hadapan para aktivis Peneleh yang hadir.
Iskandar menambahkan bahwa sejarah telah membuktikan bangsa Indonesia mampu bertahan dalam berbagai krisis berkat kekuatan gotong royong dan kemandirian. Ia mencontohkan bagaimana pandemi beberapa tahun lalu menguji ketahanan nasional, dan saat ini tantangan serupa namun dengan wajah yang berbeda kembali hadir. “Kita tidak boleh lengah, tapi juga tidak boleh panik. Ketenangan dan kesiapan adalah kunci,” tegasnya.
Program Tandhim III berfokus pada empat ruang lingkup utama, yakni Ketahanan Diri, Ketahanan Keluarga, Ketahanan Kolektif, hingga kesiapsiagaan dalam kondisi emergensi jika situasi global benar-benar tidak terkendali. Keempat lingkup ini disusun sebagai tahapan kesadaran dan tindakan yang dimulai dari kekuatan paling mendasar, yakni individu, kemudian meluas pada keluarga, diperkuat melalui solidaritas kolektif, hingga membangun kesiapsiagaan bersama.
Pada tataran ketahanan diri, Peneleh mendorong disiplin pribadi sebagai fondasi perlawanan melalui penghematan energi dan mobilitas, gaya hidup anti-konsumtif, kedewasaan dalam menerima dan menyebarkan informasi, penguatan religiusitas, serta gerakan hidup sehat. Iskandar secara khusus menyoroti pentingnya disiplin informasi di tengah gemparan berita hoaks dan provokasi yang mudah menyebar di media sosial. Ia mengingatkan bahwa ketakutan sering kali lebih cepat menyebar dibanding fakta.
“Hari ini, media sosial dapat menjadi ruang edukasi, tetapi juga dapat menjadi ruang kepanikan. Karena itu, Peneleh menegaskan pentingnya kedewasaan dalam menerima dan menyebarkan informasi. Tidak setiap kabar layak dibagikan, tidak setiap provokasi layak ditanggapi. Aktivis Peneleh harus menjadi penjernih suasana, menghadirkan data, menghadirkan ketenangan, dan menghindari narasi yang memperkeruh keadaan. Ketahanan psikologis adalah bagian dari ketahanan nasional,” pesan Iskandar.
Aktivis Peneleh juga diajak untuk memperbanyak membaca Amaliyah Aktivis Peneleh sebagai penguatan spiritual di tengah ketidakpastian. “Ketika dunia diliputi ketidakpastian, maka Menembah Gusti adalah kunci kesucian batin, kejernihan pikir, dan kekuatan tindakan,” demikian bunyi edaran tersebut yang kembali ditekankan oleh Iskandar dalam penyampaiannya.
Pada lingkup ketahanan keluarga, Peneleh mendorong penghidupan kembali tradisi menanam dan beternak skala sederhana di pekarangan rumah sebagai gerakan ketahanan pangan. Iskandar mengajak keluarga Indonesia untuk tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar yang rentan terganggu oleh gejolak global. “Menanam sayuran cepat panen, membudidayakan ikan atau ternak kecil, serta menyiapkan cadangan pangan seperlunya adalah langkah rasional. Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi bertahan yang berbasis kearifan lokal. Kemandirian pangan keluarga adalah bentuk perlawanan konkret terhadap ketergantungan total pada pasar,” jelasnya.
Baca Juga: PROGRAM TANDHIM III AKTIVIS PENELEH
Keluarga juga diminta menyusun ulang prioritas anggaran, mengurangi beban cicilan yang tidak mendesak, serta mempersiapkan dana darurat sesuai kemampuan. Pendidikan krisis bagi anak dan pemuda juga menjadi perhatian agar generasi muda tidak menjadi korban kepanikan orang dewasa. “Anak-anak dan pemuda tidak boleh menjadi korban kepanikan orang dewasa. Keluarga perlu menjadi ruang edukasi yang rasional dan menenangkan. Situasi global dapat dijelaskan dengan bahasa yang sederhana namun tidak menakutkan. Nilai hidup sederhana, gotong royong, serta empati sosial harus ditanamkan sejak dini. Generasi muda harus diwarisi ketangguhan, bukan kecemasan,” tambah Iskandar.
Sementara pada ketahanan kolektif, Peneleh mengajak seluruh regional untuk menghidupkan kembali tradisi luhur yang memperkuat kebersamaan seperti kerja bakti, solidaritas kampung, hingga pembentukan lumbung pangan komunitas model Jimpitan. Iskandar menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar dalam modal sosialnya yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. “Gotong royong, solidaritas, dan kearifan lokal adalah aset kita. Dalam situasi krisis global, kekuatan inilah yang harus dihidupkan kembali,” ujarnya.
Melalui koranpeneleh.id, Penerbit Peneleh, dan berbagai media sosial, gerakan literasi akan terus dihadirkan untuk menjaga narasi sehat di tengah publik. Iskandar menjelaskan bahwa sebagai gerakan intelektual, Peneleh memiliki tanggung jawab naratif untuk menghadirkan tulisan-tulisan ideologis berbasis nilai. “Tulisan ideologis berbasis nilai akan terus dihadirkan. Melalui koranpeneleh.id, Penerbit Peneleh, Jurnal ilmiah dan akun media sosial Aktivis Peneleh lainnya akan terus menghadirkan pemberitaan yang baik, pengetahuan yang menjaga nilai, kisah ketahanan, serta analisis berbasis data untuk memperkokoh jangkar kebudayaan dan mencegah penunggangan kepentingan. Narasi yang sehat akan meredam konflik horizontal dan menjaga kewarasan publik,” paparnya.
Penguatan jejaring internasional juga menjadi perhatian melalui peran Ambassador International Peneleh yang tersebar di Yunani, Nepal, India, Malaysia, dan Belanda. Diskusi Madzhab Nusantara dan kolaborasi riset melalui Peneleh Riset Institute terus digiatkan sebagai bentuk diplomasi intelektual dan kultural Indonesia di tengah narasi dunia yang mudah terbelah oleh kepentingan geopolitik. Iskandar menyebut bahwa di saat narasi dunia mudah terbelah oleh kepentingan geopolitik, Peneleh memilih jalur diplomasi intelektual dan kultural sebagai kontribusi moral Indonesia bagi dunia.
“Melalui Ambassador International Peneleh di Yunani, Nepal, India, Malaysia, dan Belanda, diskursus internasional rutin diselenggarakan untuk mempertemukan para akademisi, aktivis, dan tokoh lintas negara dalam suasana ilmiah dan persaudaraan. Diskusi Madzhab Nusantara terus digiatkan untuk mengembangkan paradigma Nusantara sebagai tawaran pemikiran yang berakar pada religiositas dan kebudayaan Nusantara. Melalui Peneleh Riset Institute, kolaborasi riset lintas negara akan terus diperluas sebagai bentuk solidaritas epistemik dan kerja ilmiah bersama,” ungkap Iskandar.
Dalam menghadapi kemungkinan kondisi emergensi, Peneleh juga mengimbau masyarakat untuk menyiapkan tas emergensi keluarga berisi salinan dokumen penting, obat-obatan pribadi, perlengkapan P3K dasar, senter dan baterai cadangan, powerbank yang terisi, air minum, makanan tahan lama, masker, peluit darurat, serta uang tunai secukupnya. Rumah juga perlu memiliki standar minimum kesiapan seperti cadangan air bersih dan makanan kering. Untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan internet, radio portable dengan baterai cadangan disarankan sebagai alternatif sumber informasi.
“Tas emergensi ini bukan untuk membayangkan skenario terburuk, tetapi untuk memastikan bahwa keluarga tidak panik ketika harus bergerak cepat. Rasa siap akan melahirkan ketenangan, dan ketenangan adalah separuh dari keselamatan,” pesan Iskandar.
Ia juga menyinggung pentingnya kesepakatan keluarga mengenai titik kumpul dan pola komunikasi manual apabila konektivitas digital terputus. Menurutnya, kesiapan komunikasi adalah bagian penting dari ketahanan sosial yang sering kali diabaikan. “Ketergantungan pada internet membuat masyarakat rentan bila jaringan terganggu. Karena itu, radio portable dengan baterai cadangan dapat menjadi alternatif sumber informasi yang lebih stabil. Selain itu, keluarga perlu menyepakati titik kumpul dan pola komunikasi manual apabila konektivitas terputus. Kesepakatan sederhana semacam ini akan mencegah kebingungan dan kepanikan,” terangnya.
Di akhir penyampaiannya, Iskandar Eka Asmuni menegaskan bahwa seluruh ikhtiar dalam Program Tandhim III ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual sebagai warga bangsa. Ia mengajak seluruh aktivis Peneleh dan masyarakat Indonesia untuk tidak larut dalam kecemasan, namun tetap waspada dan siap siaga. Ia juga memanjatkan doa agar situasi global segera membaik dan Indonesia senantiasa berada dalam lindungan Tuhan.
“Pada akhirnya, seluruh ikhtiar Tandhim ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual kita sebagai warga bangsa. Kita berharap situasi global kembali stabil, kehidupan berjalan dalam kedamaian, dan masyarakat dapat beraktivitas tanpa bayang-bayang ketidakpastian. Semoga setiap langkah kesiapsiagaan dan penguatan diri ini menjadi sebab turunnya ketenangan, serta kita semua senantiasa berada dalam perlindungan Allah SWT, dijauhkan dari segala mara bahaya, dan dipersatukan dalam kebaikan serta keselamatan bersama. Billahi Fii Sabilil Haq, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,” tutup Iskandar Eka Asmuni.
Para aktivis yang hadir dalam forum tersebut menyambut baik seruan Program Tandhim III dan berkomitmen untuk menyebarluaskan nilai-nilai kemandirian ini ke komunitas masing-masing. Beberapa perwakilan regional juga menyampaikan rencana aksi lanjutan seperti pembentukan posko ketahanan pangan di tingkat komunitas, pelatihan kesiapsiagaan darurat, serta penguatan diskusi-diskusi publik tentang dampak konflik global terhadap kehidupan sehari-hari.
Program Tandhim III ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global dengan tetap berpijak pada nilai-nilai kemandirian, gotong royong, dan spiritualitas yang telah lama menjadi akar budaya bangsa.



