
Militer Israel dikabarkan meminta bantuan teknologi persenjataan kepada Pemerintah Ukraina untuk menangkal drone-drone penyerbu asal Iran yang digunakan dalam konflik saat ini. Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kepada Duta Besar Ukraina untuk Israel, Yevgen Korniychuk.
Media Israel, Ynetnews, melaporkan bahwa Netanyahu menyampaikan permohonan itu melalui percakapannya dengan Dubes Korniychuk. Netanyahu meminta agar permohonan tersebut diteruskan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. “Israel meminta keahlian persenjataan Ukraina untuk menangkal drone-drone Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah meminta untuk melakukan panggilan darurat dengan Presiden Zelensky atas kebutuhan Israel yang ingin memperdalam kerja sama militer dalam menangkal drone-drone Iran,” demikian laporan Ynetnews, Sabtu (14/3/2026).
Ukraina disebut-sebut memiliki teknologi yang mampu menangkal pesawat nirawak Iran yang digunakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk membombardir wilayah-wilayah pendudukan Israel. Drone-drone tersebut juga diketahui digunakan oleh militer Rusia dalam perangnya melawan Ukraina.
Dubes Korniychuk membenarkan laporan tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa Netanyahu memang telah menyampaikan permohonan itu baru-baru ini. Menurutnya, Zelensky dalam beberapa kesempatan juga telah menyatakan kesiapan untuk membantu Israel dalam peperangan melawan Iran. Namun demikian, Korniychuk mengungkapkan bahwa pembicaraan langsung antara Netanyahu dan Zelensky belum terlaksana. “Permintaan Israel tersebut telah disampaikan, tetapi percakapan (langsung antara Netanyahu dan Zelensky) belum terjadi,” kata Korniychuk. Ia menjelaskan kemungkinan terkendala jadwal menjadi penyebab belum terlaksananya komunikasi langsung antara kedua pemimpin tersebut, baik secara tatap muka maupun melalui sambungan telepon. “Saya berharap, pembicaraan keduanya dapat terjadi dalam pekan-pekan ini,” ujarnya.
Meskipun belum ada kesepakatan resmi, Dubes Korniychuk menegaskan posisi politik Ukraina yang berada di pihak Israel dalam konflik dengan Iran. Ia menyebut Israel sebagai mitra penting bagi Ukraina di kawasan. “Kami selalu mendukung semua mitra-mitra kami,” kata dia. Posisi tegas Ukraina terhadap Iran, menurut Korniychuk, juga dilatarbelakangi oleh insiden penembakan pesawat penumpang Ukraina International Airlines pada tahun 2020 yang diduga dilakukan oleh Iran. Insiden tersebut menewaskan 176 warga Ukraina tanpa adanya kompensasi atau pengakuan dari Tehran. “Iran pernah menembak jatuh pesawat penumpang Ukraina tanpa kompensasi atau pengakuan,” ujar Korniychuk.
Selain itu, Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia menempatkan Iran sebagai negara yang membantu Presiden Vladimir Putin melalui pasokan drone-drone penyerbu untuk membombardir Kiev. “Bahwa Iran adalah pemasok teknologi drone untuk Rusia dalam menginvasi Ukraina,” kata Korniychuk. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya tidak takut pada Iran dan akan selalu berada di sisi yang benar. “Kami mendukung mitra-mitra kami, seperti Israel dalam peperangan ini,” ujarnya.
Di tengah upaya diplomatik tersebut, Israel dilaporkan menghadapi krisis persenjataan pertahanan. Sejumlah pejabat AS mengungkapkan kepada media Semafor bahwa Israel memberitahu Amerika Serikat pada pekan ini bahwa jumlah pencegat rudal balistiknya sudah sangat tipis. Kondisi ini diperparah dengan serangan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti, ditambah dengan keterlibatan kelompok Hizbullah dari Lebanon dalam konflik tersebut. Sistem pertahanan jarak jauh Israel dilaporkan semakin kewalahan. CNN melaporkan bahwa Iran kini menambahkan munisi tandan ke dalam rudalnya, yang kemungkinan memperburuk penipisan stok pencegat Israel.
Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Washington telah menyadari rendahnya kapasitas Israel selama berbulan-bulan. “Ini adalah sesuatu yang kami perkirakan dan antisipasi,” ujarnya. AS diketahui telah memasukkan aset pertahanan rudal dalam pemberian bantuan militer kepada Israel di masa lalu. Namun pejabat AS tersebut menegaskan bahwa Israel harus “menemukan solusi untuk mengatasi” kekurangan mereka sendiri.
Sementara itu, The Jerusalem Post melaporkan bahwa sistem pertahanan udara laser berenergi tinggi Iron Beam milik Israel tak mampu menghalau drone di langit utara Israel. Sejak Hizbullah bergabung dalam pertempuran, puluhan pesawat nirawak telah berhasil menembus perbatasan. Di wilayah Kiryat Shmona dan Kibbutz Dafna, tercatat delapan belas peringatan UAV, dan beberapa drone terbang tanpa gangguan hingga akhirnya ditembak jatuh dengan cara konvensional. Padahal sistem laser tersebut dinyatakan beroperasi pada akhir tahun 2025 dan unit awalnya telah dikirim ke IDF. Namun penggunaannya dalam kampanye saat ini dinilai minim, dan juru bicara IDF menolak mengomentari kontribusi sistem tersebut dalam pertempuran di utara. Fakta ini kontras dengan ekspektasi tinggi terhadap sistem tersebut dan investasi miliaran shekel di dalamnya. Pada akhir tahun 2024, Kementerian Pertahanan Israel bersama Rafael (perancang sistem) dan Elbit (pengembang) menandatangani kesepakatan senilai NIS 2 miliar untuk perluasan produksi dan pengadaan sistem Iron Beam.
Sumber: Republika



