
Kuala Lumpur – Dunia Islam kehilangan salah satu pemikir terbesarnya. Cendekiawan Muslim terkemuka, Royal Professor Tan Sri Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas, wafat pada Ahad (8/3/2026) pukul 18.47 waktu setempat di usia 95 tahun.
Kabar duka ini disampaikan Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama) Dr Zulkifli Hasan melalui akun Facebooknya. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada malam ke-19 Ramadan, meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademik dan intelektual Islam.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam pernyataannya menggambarkan al-Attas sebagai “salah satu pemikir terhebat di era kontemporer.” Anwar menyebut al-Attas bukan sekadar filsuf, tetapi sosok yang menantang masyarakat untuk mengevaluasi tujuan hakiki dari pengetahuan.
“Melalui karya-karya monumentalnya seperti ‘Islam and Secularism’ dan magnum opus-nya ‘Prolegomena to the Metaphysics of Islam’, beliau menantang sekularisasi pengetahuan dan membangun fondasi intelektual bagi pandangan dunia Islam. Malaysia mendengarnya. Dunia Muslim mendengarnya,” ujar Anwar dalam postingan Facebooknya.
Dr Zulkifli Hasan menyebut kepergian al-Attas sebagai padamnya permata ilmu bagi umat. “Almarhum dikenal sebagai mujaddid, pemikir dan sarjana yang menyalakan kembali obor ilmu dan adab di dunia Islam,” katanya.
Jejak Intelektual dan Warisan Abadi
Syed Muhammad Naquib al-Attas lahir di Bogor, Indonesia, pada 5 September 1931. Karier intelektualnya dimulai sebagai perwira kadet di Resimen Tentara Melayu, sebelum kemudian berkarier di dunia akademis sebagai Kepala Divisi Sastra, Jurusan Pengajian Melayu, Universitas Malaya pada 1965.
Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Malaya (1968-1970) dan kemudian mendirikan Institut Bahasa, Kesusastraan dan Kebudayaan Melayu (IBKKM) di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 1973.
Puncak kontribusinya adalah sebagai pendiri dan direktur International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC), yang menjadi pusat studi peradaban Islam terkemuka di dunia.
Warisan intelektualnya turut berkontribusi dalam pendirian institusi-institusi penting, termasuk Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dan Institute of the Malay World and Civilisation (ATMA).
Penghormatan Tertinggi
Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan Islam, Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menganugerahkan gelar Royal Professor of Islamic Education kepada al-Attas pada 23 Oktober 2024. Gelar ini merupakan jabatan profesor tertinggi dan paling terhormat di Malaysia.
Sepanjang hidupnya, al-Attas juga menerima berbagai penghargaan internasional, termasuk Medali Peringatan Seratus Tahun Iqbal dari Presiden Pakistan Jenderal Muhammad Zia Ul-Haq, Tokoh Melayu Terbilang 2011, dan Merdeka Award untuk Prestasi Akademik Luar Biasa pada 2012.
Almarhum meninggalkan istri tercinta, Latifah Abdullah, dan empat orang anak: Sharifah Faizah Al-Attas, Datuk Dr Syed Ali Tawfik Al-Attas, Sharifah Shifa Al-Attas, dan Syed Haidar Al-Attas.
Jenazah almarhum disemayamkan di Masjid al-Taqwa, Taman Tun Dr Ismail, sebelum dikebumikan di Pemakaman Islam Bukit Kiara.
“Kepergian seorang sarjana besar tidak pernah mengakhiri perjalanan ilmu yang ditinggalkannya. Selama gagasan ilmu, adab dan peradaban yang diperjuangkannya terus difahami, diajarkan dan dihayati dalam kehidupan umat, legasi intelektualnya akan terus menerangi masa depan dunia Islam,” demikian pernyataan Angkatan Belia Islam Malaysia.



