
Pemerintah Iran melalui Duta Besarnya untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan sikapnya untuk tidak akan melakukan negosiasi dengan negara yang telah menyerang wilayahnya. Pernyataan tegas ini disampaikan menanggapi pertanyaan mengenai niat Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadi mediator dalam berbagai konflik internasional.
“Tidak ada negosiasi untuk negara yang menyerang kami,” ujar Dubes Mohammad Boroujerdi dalam wawancara video yang tayang pada Senin (2/3/2026). Pernyataan diplomatik tersebut disampaikan dalam konteks meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Meski tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat, pernyataan Dubes Boroujerdi ini merespons pertanyaan wartawan terkait potensi peran mediasi Indonesia di tengah memanasnya hubungan Teheran-Washington.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat memang kembali menunjukkan eskalasi ketegangan dalam beberapa bulan terakhir. Berbagai insiden di kawasan Teluk Persia dan isu program nuklir Iran menjadi pemicu utama yang membuat situasi semakin memanas. Sikap tegas Dubes Iran ini sekaligus menegaskan kembali posisi prinsipil Teheran yang selama ini enggan melakukan diplomasi di bawah tekanan atau ancaman militer. “Kami memiliki prinsip yang jelas dalam hubungan internasional. Negosiasi hanya bisa dilakukan dalam kondisi setara dan tanpa paksaan,” tambah Boroujerdi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memang dikenal aktif menawarkan diri sebagai mediator dalam berbagai konflik global. Hal ini sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan keinginan untuk berkontribusi dalam perdamaian dunia. Pernyataan tegas dari Dubes Iran ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi upaya diplomasi Indonesia. Meski demikian, hingga saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri belum memberikan respons resmi terkait pernyataan tersebut.
Para pengamat hubungan internasional menilai pernyataan Dubes Iran ini memberikan gambaran jelas mengenai batas-batas diplomasi yang dapat diterima oleh Teheran di tengah situasi saat ini. “Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran ingin membangun posisi tawar yang kuat. Mereka tidak ingin terkesan lemah dengan langsung menerima mediasi, terutama jika datang dari negara yang mereka anggap dekat dengan AS,” ujar pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia. Diplomat Iran tersebut juga menekankan bahwa setiap upaya mediasi harus menghormati kedaulatan dan kepentingan nasional Iran. “Kami menghargai niat baik Indonesia dan negara-negara sahabat lainnya. Namun, ada prinsip yang tidak bisa kami kompromikan,” pungkasnya. Situasi ini masih akan terus berkembang seiring dengan dinamika politik global dan upaya-upaya diplomasi yang mungkin dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Indonesia. (JH/Red)



