
KORAN.PENELEH.ORG – Afghanistan mengatakan pihaknya menembak jet Pakistan di Kabul setelah ledakan dan tembakan mengguncang ibu kota pada hari Minggu (01/03), memperburuk ketidakstabilan di wilayah yang diguncang oleh serangan AS-Israel terhadap Iran dan serangan balasan terhadap target AS di negara-negara Teluk.
Negara yang dikuasai Taliban ini telah menderita serangan Pakistan terhadap instalasi pemerintah selama seminggu terakhir menyusul tuduhan, yang dibantahnya, bahwa mereka melindungi militan.
Pertempuran terberat dalam beberapa tahun terakhir antara kedua negara tetangga ini telah meningkatkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan di sepanjang perbatasan mereka yang sepanjang 2.600 km (1.615 mil), dengan beberapa negara termasuk Qatar dan Arab Saudi menyerukan pengekangan dan menawarkan bantuan untuk menengahi gencatan senjata.
Ledakan bergema di beberapa bagian Kabul sebelum matahari terbit, diikuti oleh rentetan tembakan, kata seorang saksi Reuters. Tidak jelas apa yang menjadi sasaran atau apakah ada korban jiwa.
Juru bicara pemerintahan Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan suara-suara tersebut merupakan hasil serangan pasukan Afghanistan yang menargetkan pesawat Pakistan di atas ibu kota. “Serangan pertahanan udara dilakukan di Kabul terhadap pesawat Pakistan. Warga Kabul tidak perlu khawatir,” kata Mujahid. Kantor perdana menteri Pakistan, kementerian informasi, dan militer tidak menanggapi permintaan komentar.
Kekerasan ini terjadi setelah serangan udara di dalam Afghanistan pekan ini yang menurut Pakistan menargetkan infrastruktur militan. Afghanistan menggambarkan serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan mengumumkan operasi pembalasan di sepanjang perbatasan bersama mereka.
Iran, yang berbatasan dengan Afghanistan dan Pakistan, telah menawarkan bantuan untuk memfasilitasi dialog sebelum kemudian diserang pada hari Sabtu oleh Israel dan AS yang berupaya mengurangi kemampuan militer Iran.
Pakistan mengatakan Afghanistan melindungi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang menurut mereka sedang melancarkan pemberontakan di dalam Pakistan.
Afghanistan membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengizinkan wilayah Afghanistan digunakan untuk melawan negara lain dan bahwa tantangan keamanan Pakistan adalah masalah internal.
Sumber keamanan Pakistan mengatakan operasi “Ghazab Lil Haq”, yang berarti “Murka untuk Kebenaran”, sedang berlangsung dan pasukan Pakistan telah menghancurkan pos dan kamp Afghanistan. Kedua pihak melaporkan kerugian besar, dengan mengeluarkan angka korban yang berbeda untuk masing-masing pihak.
Upaya diplomatik telah meningkat, dengan Arab Saudi, Rusia, Tiongkok, Uni Eropa, dan PBB mendesak pengekangan dan menyerukan pembicaraan. Amerika Serikat mengatakan mendukung hak Pakistan untuk membela diri.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menggambarkan pertempuran itu sebagai perang terbuka. Sementar itu, Menteri Dalam Negeri Afghanistan Sirajuddin Haqqani mengatakan konflik tersebut akan sangat mahal. Ia mengatakan hanya pasukan garis depan yang terlibat dalam pertempuran dan negara tersebut belum sepenuhnya mengerahkan militernya. (ABK/Red)



