
Doc. Google
Oleh: Hendra Jaya (Gerakan Kiri Nusantara)
Saya masih belum bisa move on sekaligus tidak menerima Soeharto dijadikan pahlawan nasional. Dalam catatan saya kemarin, ada puluhan alasan mengapa Soeharto tidak layak menjadi pahlawan. Hal ini juga sudah dibahas sejak 2016 lalu. Pada akhirnya karena banyak konflik yang muncul, Soeharto tidak diberikan gelar pahlawan oleh Presiden sebelumnya.
Namun, berbeda halnya saat eks menantu naik tahta. Ia memberikan gelar pahlawan kepada sang mertua, Soeharto. Padahal dari berbagai kalangan sudah banyak yang menolak hal tersebut, tapi ya karena yang menolak adalah masyarakat dan akademisi yang tidak memiliki kekuatan politik akhirnya dipandang tidak penting.
Hasilnya, pelanggar HAM berat kini menjadi pahlawan nasional. Padahal di negeri ini, masih banyak yang berhak mendapat gelar tersebut. Sebut saja, AM. Sangaji, Jago Toea dari Maluku.
A.M. Sangaji kawan yang dijuluki Umar Bin Khottab oleh pak Tjokro karena keberaniannya. A.M Sangaji sejak muda telah menancapkan komitmen untuk memperjuangkan martabat bangsanya dari belenggu kolonial. Ia bukan hanya seorang organisator ulung, tetapi juga motor penggerak pendidikan dan perlawanan rakyat. Di masa penjajahan Belanda ketika akses pendidikan untuk pribumi sangat terbatas, Sangaji tampil sebagai jagadual—pemimpin lokal yang disegani—yang membangun ruang belajar, mendirikan forum-forum diskusi, dan memberdayakan pemuda agar mampu membaca realitas penindasan yang menjerat mereka.
Perjuangannya mencapai puncak ketika ia memimpin aksi-aksi politik menuntut persamaan hak dan mengorganisasi massa rakyat Ambon dan wilayah sekitarnya. Sangaji menjadi tokoh penting dalam pergerakan nasional dari kawasan timur Indonesia: menjembatani aspirasi rakyat Maluku dengan denyut perjuangan nasional yang lebih luas. Ia terlibat dalam konsolidasi organisasi-organisasi pergerakan pemuda, melawan politik adu domba kolonial, serta menanamkan kesadaran bahwa kemerdekaan hanya dapat diraih melalui persatuan dan keberanian.
Sikapnya yang tegas membuatnya berulang kali diawasi, diintimidasi, bahkan dihambat oleh pemerintah kolonial. Namun Sangaji tak gentar. Ia terus mengorganisir rakyat, menjaga semangat perjuangan, dan memperluas jaringan perlawanan. Dalam ingatan masyarakat Maluku, ia dikenang sebagai sosok yang tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi turun langsung, menanggung risiko, dan memberikan seluruh hidupnya bagi kemajuan bangsanya.
Melalui kiprah politik, intelektual, dan keberpihakannya pada rakyat tertindas, A.M. Sangaji telah memenuhi semua syarat sebagai pahlawan nasional: berjasa besar, berdampak nasional, bersifat visioner, dan mewariskan inspirasi perjuangan lintas generasi. Ia adalah simbol keberanian Maluku dalam panggung perjuangan Indonesia—sosok jagadual yang menyalakan bara perlawanan, hingga cahaya kemerdekaan dapat menyinari Nusantara.
Tapi negara tidak pernah benar-benar menghargai jasa pejuangnya, semua tergantung kepentingan. Termasuk A.M Sangaji yang saat ini tidak lagi memiliki kekuatan politik, dikalahkan oleh pelanggar HAM karena memiliki keluarga yang punya kekuatan politik.
So, gelar pahlawan kini jadi tanda jasa atau bergantung pada kekuatan politik keluarga?
Editor : Anik Meilinda



