
KORANPENELEH.ID – Gereja Mar Elias di Damaskus, Suriah mendapatkan serangan bom bunuh diri pada Minggu (22/60/). Ledakan itu menewaskan setidaknya 25 orang dan melukai puluhan lainnya menurut keterangan Kementerian Kesehatan Suriah.
Pelaku bom bunuh diri melakukan aksinya di gereja yang terletak di timur Damaskus itu saat jemaat tengah melakukan misa. Dilansir dari The Associated Press, seorang saksi mata melihat pelaku mendatangi gereja bersama dua orang lainnya. Pelaku kemudian menembaki gereja, masuk, dan meledakkan diri di dalamnya.
Kementerian Dalam Negeri Suriah mengklaim pelaku berasal dari kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), sebagaimana keterangan dari sejumlah saksi mata. Namun, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri yang menyasar gereja ini.
Di sisi lain, Menteri Informasi Suriah Hamza al-Mostafa mengecam serangan terhadap gereja Mar Elias dan menyebutnya sebagai serangan teroris. “Aksi pengecut ini bertentangan dengan nilai-nilai sipil yang mempersatukan kita,” ujarnya di platform media sosial X.
Baca juga: Iran Lancarkan Serangan Balasan terhadap Israel yang Mulai Konfrontasi terhadap Lokasi Nuklir
Beberapa negara turut mengecam serangan ini, termasuk Turki yang menyebutnya sebagai upaya untuk mengganggu pencapaian stabilitas dan keamanan di Suriah. Hal ini merupakan bentuk dari serangan untuk memicu potensi kekacauan yang lebih besar.
Serangan ini menjadi yang pertama di Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa pekan sebelumnya, Kemendagri Suriah telah menggerebek sel-sel milik ISIS di pedesaan Damaskus dan menyita sejumlah senjata yang menjadi amunisi untuk melancarkan serangan.
Semenjak kejatuhan rezim Assad, ISIS kerap menodong kelompok Islamis pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang kini menguasai Suriah atas moderasi politik mereka. Salah satunya ketika presiden Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Donald Trump, yang disebut sebagai pengkhianatan terhadap gerakan jihad.
Meski saat ini berkuasa atas sebagian besar Suriah, pemerintahan yang baru masih kesulitan mengontrol kelompok militan dan radikal bawah tanah yang masih banyak tersebar di seantero negeri.
HTS sendiri telah menyebarkan propaganda anti-ISIS sejak pertama kali menduduki puncak kepemimpinan, serta melakukan penggerebakn markas-markas ISIS di sejumlah titik. (ABK/Red)



