
Oleh: Firda Wulandari
Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda masih diwarnai dengan kesenjangan sosial ekonomi yang sangat signifikan antara penjajah Belanda, serta elite pribumi yang bekerja sama dengan kolonial. Sistem kolonial mengeksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja pribumi sehingga menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan pada masa itu.
Kebijakan politik yang diterapkan oleh pemerintah kolonial meskipun memiliki dampak yang positif dalam bidang pendidikan, namun juga menimbulkan kesadaran politik bagi kalangan elite pribumi terpelajar.
Mereka mulai kritis terhadap ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh para koloni. Mulai dari keresahan atas apa yang terjadi pada anak negeri di hadapan H.O.S. Tjokroaminoto setiap harinya, seperti cengkeraman fisik, psikis, sumber daya, hingga apa pun itu yang terjadi di bumiputera ditanggapi beliau dengan bagaimana mendorong penyatuan semangat bebas dari Belanda melalui gerakan nasionalisme bergaya Islam.
Berdasarkan jejak-jejak itulah kemudian Pak Tjokro melakukan gerakan perlawanan di seluruh Hindia Belanda dengan menggunakan alat perlawanan modern berupa organisasi Sarekat Islam.
Dalam buku Memeriksai Alam Kebenaran selaku magnum opus pemikiran Pak Tjokro tergambar sebuah perjalanan menuju puncak kesadaran yang dicita-citakan beliau untuk para intelektual muslim.
Bahwa tidak hanya cukup dengan mengutamakan rasional-empiris saja, tetapi harus memiliki rasa menembah kepada Gusti yang sangat melekat erat dalam ruang sosial, hingga menuju kesadaran profetik untuk membawa nilai dan kebenaran untuk ummat demi peradaban yang dicitakan Islam.
Di sisi lain, kondisi aktivis dan para intelektual hari ini sudah mulai luntur akan nilai- nilai agamanya yang mengakibatkan mereka terdampak virus Agnostik, Materialistik, Oportunistik, dan Rasionalistik (AMOR).
Tak ayal, sebagian gerakan hari ini terjebak dengan paradigma Antroposentrisme yang menjadikan manusia sebagai titik pusat kehidupan sehingga arah gerakan pemuda yang materialistik menjadi satu-satunya jalan.
Lantas apa yang terjadi kemudian? Nilai-nilai islam mulai terkikis, setiap langkah yang dilakukan tidak lagi melibatkan Tuhan, tapi melibatkan ego dan nafsu syahwat atas kepentingan pribadi bukan bersama.
Baca juga: Pendidikan Kita Telah Usang
Merespons hal ini, Pak Tjokro menuliskan dalam bukunya Memeriksai Alam Kebenaran sekaligus menekankan pada pentingnya wajib ‘amali (practische plichten) serta harga dan kepentingan Shalat, Qur’an dan Agama.
Pengalaman intuitif makrifat memang tidak bisa dilalui tanpa terkoneksi dengan inti kepercayaan dan menjalani syariat itu sendiri, sebab kita tahu bahwa refleksi historis kenabian selalu jadi siklus pengingat setelah tanda- tanda mukjizat terjadi.
Harga dan kepentingan shalat, qur’an, serta agama menerjemah pada sikap kemanusiaan di mana diri dikuatkan melalui laku batin dan mendorong pada sikap keyakinan. Dengan kita mengedepankan hal-hal di atas, sudah merupakan langkah bagi kita untuk tidak lagi menjadi korban dari AMOR serta bisa menjadi insan kamil seperti yang dicita-citakan oleh Pak Tjokro dan agama itu sendiri.
Oleh karena itu, jika kita tinjau dari masa lalu hingga masa kini, yang menjadi tantangan utama bangsa ini bukan hanya ketimpangan ekonomi saja, tetapi krisis nilai juga menjadi pemerhati kita bersama.
Maka dari itu, penting bagi setiap orang memiliki mental Prawireng Djoerit (pemimpin besar) sebagaimana yang diutarakan oleh Pak Tjokro sebagai modal untuk menuju apa yang dicita-citakan oleh nilai Islam itu sendiri, yakni dengan disiplin wajib ‘amali serta mengedepankan harga dan kepentingan Shalat, Qur’an, dan Agama, di mana ketiga hal itu mengintegrasikan aspek spiritual dalam satu kesatuan yang utuh.
Tak hanya itu, Pak Tjokro hadir dalam karya Memeriksai Alam Kebenaran dengan gagasannya yang bertuliskan ‘Islam Mewadjibkan Adanja Pemerintahan Ra’jat’, yang mana Islam memberi hak kepada seorang hamba-rakyat yang termiskin pun akan didengar suaranya dalam perkara-perkara yang mengenai urusan serta hak akan memilih orang-orang yang menjadi pemerintahnya, sebab pemerintahan tersebut bukan kepemilikan suatu kelas atau golongan, tetapi kepemilikan semua rakyat.
Mirisnya, pemerintahan hari ini nyaris atau bahkan sudah kehilangan konsep pemerintahan rakyat, sehingga permasalahan-permasalahan yang terjadi banyak merugikan rayat dan menguntungkan para pemiliki bangku kebijakan. Disini bisa kita tarik benang merahnya bahwa gagasan yang diberikan oleh Pak Tjokro masih relevan untuk kita terapkan, mulai dari konsep pendidikan, sosial, hingga ranah politik.
Dengan demikian, karya Memeriksai Alam Kebenaran hadir bukan semata mempopulerkan pidato yang disampaikan oleh Pak Tjokro saja, tetapi sebagai tawaran gagasan yang melekat kuat pada nilai-nilai profetik (kenabian) sejati serta menjadikan aktivis dan intelektual muslim sejati yang mengutamakan tazkiyah an-nafs sekaligus tazkiyah ummah dengan titik tumpu menembah kepada Gusti.
Editor: Ahmad Bagus Kazhimi



