
Oleh: Ahmad Bagus Kazhimi
Buku Tragedi Pembunuhan Tuhan karya Aji Dedi Mulawarman berisikan tentang apa dan bagaimana Tuhan dari waktu ke waktu ‘dibunuh’ secara terstruktur, sistematis, dan masif melalui ruang-ruang pendidikan dan diseminasi keilmuan dengan balutan pakaian yang seolah-olah terkesan keren.
Berawal dari kegelisahan penulis terhadap kondisi serta praktik beragama maupun bertuhan yang tampak di kalangan mayoritas manusia hari ini, ia mengidentifikasi bagaimana agenda pembunuhan terhadap Tuhan yang semakin mengkhawatirkan dan berbahaya bagi masa depan umat manusia.
Oleh karenanya, ia menegaskan pentingnya agenda dekolonisasi pengetahuan yang bertujuan untuk mengembalikan akar jati diri kebangsaan, kebudayaan, dan kemanusiaan sesuai konteks ruang dan waktu kehidupan setiap manusia, yang dalam buku ini penulis mengambil contoh Nusantara sebagai laboratorium utamanya.
Menengok Kemanusiaan yang Hilang Arah dalam Tragedi Pembunuhan Tuhan
Dua bab pertama dari keseluruhan isi buku yang terdiri dari enam bab ini akan mengajak kita untuk merefleksikan diri dalam perspektif kemanusiaan. Tentang bagaimana manusia semakin berorientasi terhadap hal-hal yang artifisal, seperti harta, status, pangkat, dan jabatan.
Pengaruh teori Abraham Maslow tentang hierarki kebutuhan menjadi salah satu sebab utama mengapa Tuhan semakin dipinggirkan, karena ia berada dalam piramida paling akhir dari strata pemenuhan kebutuhan dasar dari setiap individu.
Tak heran kemudian jika manusia hari ini semakin kehilangan arah akibat mereka semakin berjarak dengan agama dan Tuhan dalam relung kehidupan. Barat dan Timur yang dihadirkan sebagai latar geografi lapangan dan latar perkembangan pemikiran hingga keilmuan juga menjadi elaborasi yang tak kalah menarik untuk memahami dua kutub yang seolah-olah tak pernah bisa berdampingan secara akur satu sama lainnya.
Baca juga: Resensi Buku “Paradigma Nusantara”, Ikhtiar Lepas dari Bayang-Bayang Sains Bercorak Barat
Sementara itu, pada bab ketiga dan keempat, penulis mengurai ihwal perspektif Barat dalam mendefinisikan dan memaknai Tuhan, lalu menguak seperti apa strategi untuk melakukan ‘pembunuhan’ terhadap Tuhan secara masif.
Melalui buku-buku populer yang ditulis oleh Jared Diamond, Michio Kaku, hingga Yuval Noah Harari, penulis menemukan pola bagaimana secara tersirat mereka mengajak manusia untuk perlahan-lahan hingga dalam cara yang cukup ekstrem meninggalkan Tuhan.
Agenda membunuh Tuhan itu setidaknya terekam dalam empat skema besar, yakni infiltrasi nilai dan pengetahuan Barat terhadap berbagai aspek kehidupan, menggaungkan Westphalian system ke dalam sistem pendidikan, jebakan menuju ketidaktepatan (misleading) pengetahuan, serta sikap mental agnostik, materalistik, oportunistik, dan rasionalistik (AMOR) dalam bidang sains secara khusus, serta dalam kehidupan luas secara umum.
Merancang Peradaban Masa Depan yang Bertuhan
Pada dua bab terakhirnya, penulis memberikan tawaran berupa dekolonisasi pengetahuan yang bertujuan untuk merancang peradaban masa depan manusia yang bertuhan. Reklamasi sains Nusantara adalah jalan alternatif yang dipilih untuk memerangi agenda pembunuhan Tuhan yang sedang terjadi besar-besaran hari ini melalui ketegasan untuk berkata tidak kepada empat hal, yakni tidak suka copycat, tidak bermental Westphalian, tidak melakukan misleading pengetahuan, dan tidak berkesadaran AMOR.
Buku ini ditulis oleh Aji Dedi Mulawarman yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari tentang diskursus mengenai filsafat, sains, dan agama; yang mana dari pengalaman panjangnya itu ia mengingatkan kita untuk tidak abai atas situasi hari ini di mana Tuhan dan agama semakin dipinggirkan dalam kehidupan.
Dengan cara bertutur yang personal, buku ini tergolong lebih mudah dicerna dari buku lain dengan genre serupa, karena ia ibarat sari pati dari beragam wacana yang ada dan mengemuka dalam persingunggan antara agama, sains, dan filsafat selama beberapa abad terakhir.
Sebagai buku yang mengambil tema mengenai diskursus antara agama, sains, dan filsafat, Tragedi Pembunuhan Tuhan mengandung kesan bahwa pembahasannya terkesan berat dan memusingkan. Apalagi, ditambah dengan pilihan sampul buku yang menggambarkan bagaimana masa depan peradaban manusia yang tidak lagi berdasarkan agama dan berlandaskan ketuhanan, melainkan teknologi sebagai panglimanya.
Akan tetapi, kamu tidak perlu khawatir terhadap persepsi yang mungkin secara tidak langsung terbersit dalam pikiran saat mendengar judul dan melihat sampulnya, karena pengalaman membacanya akan membuatmu mengalir begitu saja dan tak terasa sudah berada dalam halaman terakhir buku Tragedi Pembunuhan Tuhan.
Identitas Buku
- Judul : Tragedi Pembunuhan Tuhan
- Penulis : Aji Dedi Mulawarman
- Penerbit : Peneleh
- Tahun Terbit : 2023
- Tebal Buku : 127 halaman



