
KORANPENELEH.ID – Di tengah arus liberalisasi pendidikan yang kian masif, Peneleh Research Institute bersama JIMPITAN dan Padi Nusantara melalui agenda Padi Nusantara kembali menggelar diskusi intelektual bertema “Bangkit dari Hegemoni Liberal: Gagasan Pendidikan ‘Kiri Nusantara’ ala H.O.S. Tjokroaminoto”. Agenda ini menjadi ruang refleksi sekaligus ikhtiar meluruskan kembali arah pendidikan Indonesia yang mulai kehilangan akar nilai religius dan kebangsaan.
Diskusi ini diselenggarakan secara daring via zoom dan dihadiri langsung oleh penggagas Yayasan Peneleh Jang Oetama, seperti Ketua Dewan Pembina Yayasan Peneleh Jang Oetama (YPJO) sekaligus Chief in Editor JIMPITAN Assoc. Prof. Dr. Aji Dedi Mulawarman, Ketua YPJO Assoc. Prof. Dr. Ari Kamayanti, Direktur Peneleh Research Institute (PRI) Dr. Novrida Qudsi Lutfillah, dan Koordinator Nasional Aktivis Peneleh Ahmad Tsiqqif Asyiqulloh, M.Ag.
Kegiatan ini juga diikuti oleh lebih dari 50 peserta dari berbagai kalangan (pemuda, mahasiswa, dosen, hingga praktisi) di seluruh Indonesia. Kehadiran para pimpinan ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen Peneleh untuk terus merawat ruang-ruang intelektual religius dan kebangsaan di tengah tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Ketua YPJO, Ari Kamayanti, menyampaikan sapaan hangat dan apresiasi kepada seluruh peserta dan penyelenggara. Beliau juga memperkenalkan sekilas tentang JIMPITAN (Jurnal Ilmu Pengetahuan Nusantara), sebuah jurnal ilmiah yang menjadi wadah bagi para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk menuangkan gagasan-gagasan tentang tokoh-tokoh nasional, sejarah pemikiran Nusantara, dan konsep-konsep pendidikan berbasis kearifan lokal.
“JIMPITAN ini bukan hanya jurnal biasa, tapi bagian dari ikhtiar kita untuk merawat ruh bangsa lewat pena dan gagasan. Saya mengajak seluruh peserta, Aktivis Peneleh, dan masyarakat luas untuk tidak ragu menulis. Ceritakan kembali tentang pemikiran tokoh-tokoh Nusantara yang visioner, wariskan gagasan tentang negeri ini kepada generasi mendatang melalui jurnal-jurnal Peneleh,” tegas Dosen Politeknik Negeri Malang tersebut.
Dwi Febriana selaku moderator membuka acara malam tadi dengan menyampaikan pengantar tentang bagaimana kondisi pendidikan hari ini. Liberalisasi pendidikan telah berlangsung sejak masa kolonial, di mana sistem pendidikan didesain bukan untuk membebaskan manusia, tapi untuk mencetak tenaga kerja sesuai kepentingan penguasa.
“Arus globalisasi dan kapitalisasi pendidikan ikut mendorong pendidikan kita menjadi sekadar alat produksi tenaga kerja bagi industri global, bukan lagi ruang pembentukan karakter bangsa. Dampaknya tercermin dari pendidikan yang kehilangan jangkar dan arah. Nilai-nilai kearifan lokal, tradisi intelektual Nusantara, dan konsep moral berbasis agama semakin terpinggirkan,” jelas Dwi Febriana.
HOS Tjokroaminoto, yang merupakan tokoh besar pergerakan nasional dan guru para pendiri bangsa, pernah menawarkan konsep pendidikan melalui Moeslim National Onderwijs. Sebuah gagasan pendidikan alternatif. Gagasan “Kiri Nusantara” ala H.O.S. Tjokroaminoto bukan “kiri” dalam tanda kutip yang artinya negatif, tapi sebagai simbol perlawanan intelektual terhadap hegemoni Barat dan liberalisme pendidikan yang hanya mementingkan pasar dan kapital.
Relevansi pendidikan “Kiri Nusantara” ala H.O.S Tjokroaminoto dalam menjawab tantangan liberalisme di dunia pendidikan serta tantangan zaman ke depan itulah yang menjadi tema besar diskusi pada Rabu (11/06) malam kemarin.
Liberalisasi Pendidikan dan Tantangan Zaman

Mengawali paparannya, Hendra Jaya selaku narasumber membuka paparannya di awal dengan bahasan tantangan yang muncul akibat revolusi industri, mulai dari ndustri 1.0 tahun 1800-an yang ditandai dengan dimulainya mekanisasi produksi menggunakan tenaga air dan uap hingga industri 5.0 mulai tahun 2020-an yang bercirikan kolaborasi antara manusia dan robot, fokus ke sistem kognitif, kecerdasan buatan, dan personalisasi produk.
Setiap revolusi industri membawa tantangan tersendiri. Di balik kemajuan industri dari 1.0 ke 5.0, selalu muncul tantangan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan. Karena itu, pendidikan Kiri Nusantara ala HOS. Tjokroaminoto perlu hadir sebagai penyeimbang. Pendidikan tak boleh hanya ikut arus pasar, tapi tetap berpihak pada manusia, nilai kemanusiaan, dan religiositas bangsa.
Mengenai liberalisasi pendidikan, Hendra Jaya menyampaikan bagaimana sistem pendidikan kita sejak awal kemerdekaan hingga kini terus mengalami adaptasi mengikuti arus globalisasi dan standar internasional, yang akhirnya masuk dalam jebakan liberalisasi pendidikan.
“Ada empat dampak dari liberalisasi pendidikan, yaitu 1) Rasionalisasi cara berpikir, 2) Industrialisasi, 3) Sekulerisasi, dan 4) Kapitalisasi. Pendidikan diposisikan sekadar alat untuk memenuhi ukuran modernitas dan ekonomi dunia, bukan membangun karakter bangsa,” ungkap pria kelahiran Sumbawa tersebut.
Akibatnya pendidikan jadi tunduk pada nilai-nilai neoliberal, antroposentris (manusia pusat segalanya), materialis, dan sekuler, meninggalkan nilai-nilai religiusitas, kebangsaan, dan kearifan lokal Nusantara.
Pendidikan kita telah dikendalikan oleh standar global yang liberal sehingga kehilangan ruh nilai kebangsaan dan keislaman ala Nusantara dan inilah yang hendak dibangkitkan kembali lewat gagasan pendidikan kiri Nusantara ala H.O.S. Tjokroaminoto.
“Pondasi Pendidikan itu ya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan anasir kebudayaan. Bukan hal-hal yang sifatnya duniawi,” lanjut Kepala Sekolah SMAI Bani Hasyim Malang itu.
Moeslim Natioonal Onderwijs: Dari Teori hingga Praktik

Dalam forum ini, gagasan pendidikan ala H.O.S. Tjokroaminoto melalui Moeslim Nationaal Onderwijs (MNO), yaitu dengan gerakan media, gerilya, konsolidasi, mengembalikan nilai Islam dan Nusantara, lembaga pendidikan, dan kaderisasi.
Adapun landasan berpikir dari konsep MNO, Islam adalah suatu anasir kebudayaan, kemerdekaan rakyat, dan Islam adalah asas demokrasi dan sosialisme. Dengan cara pengajaran yang tidak boleh ada diskriminasi, semua orang harus tahu Islam, dan tidak hanya ilmu agama saja yang diajarkan.
Tujuan dari ini semua yaitu benih kemerdekaan, benih keikhlasan, kecintaan pada kebenaran yang hakiki, benih peri kebatinan yang halus, dan benih kehidupan yang saleh. H.O.S. Tjokroaminoto mengkritik keras pendidikan yang “siang-malam” hanya mempelajari ilmu agama tanpa mengerti seluk beluk ilmu duniawi, terutama urgensi negeri dan bangsa sebaliknya hanya mempelajari ilmu duniawi tanpa paham kewajiban sebagai umat.
Baca juga: Fadli Zon Terima Rekomendasi Kebudayaan yang Diusung Yayasan Peneleh Jang Oetama
Adapun dalam konteks Peneleh, konsolidasi umat sebagai pusat hijrah untuk negeri sebagai desain strategis, taktis, dan praktis. Kemudian desain ideologisnya ialah hijrah, makrifat, kebudayaan, dan beragama. Sementara itu, desain konstruktifnya hijrah makrifat syuro dan hijrah makrifat ekonomi berbagi.
Hendra Jaya juga memetakan aktivitas strategis Aktivis Peneleh sebagai gerakan kaderisasi intelektual kebangsaan dan keislaman berbasis nilai-nilai Nusantara yang terdiri dari 6 pilar utama, yakni Paradigma Nusantara, Masjid Kampus UruP, Kaderisasi, Media Online dan Jurnal, Upgrading dan Safari Regional, serta Konsolidasi secara berkala.
“Membangun peradaban harus dimulai dari kerja reflektif atas sejarah. Lalu dituangkan menjadi nilai yang didesain dalam program keumatan dan diaksikan secara konkret. Menjadi aktivis bukan sekedar untuk menguatkan eksistensi diri, aktivis ialah mereka yang bergerak tanpa jeda untuk umat dan semesta,” ujarnya.
Hal itu juga diterapkan di sekolah SMA Islam Bani Hasyim. Model kurikulum khas yang diterapkan SMA Islam Bani Hasyim bernama The Living School, yakni sekolah berbasis kehidupan nyata dengan program pembentukan karakter siswa/santri.
Program ini menekankan pendidikan karakter Islami berbasis proses bertahap, dari penyucian diri (tazkiyah), penguatan kualitas ibadah dan sosial (khalaqa), hingga kepemimpinan (waliul amri) sebagai wujud implementasi pendidikan berbasis nilai hidup.
Adapun beberapa progam dan aktivitas rutin harian atau mingguan yang dilakukan oleh siswa/santri SMA Islam Bani Hayim di antaranya shalat dhuha berjamaah, tahsin Qur’an, hafalan doa-doa, kultum, pengembangan potensi, ngaji kitab, olahraga, ziarah, kelas keterampilan tematik, kajian kemuslimahan, outing class, pondok karakter, bakti sosial, seminar internasional, living mentory ke berbagai SMP, multimedia, pertanian, sastra dan literasi, seni musik, seni rupa, hingga digital entrepreneur. (Dwi Febriana/Red)



