
Oleh: Hadi Irfandi
Popular Forces adalah milisi kriminal lokal yang dibentuk di Rafah, selatan Gaza. Sekitar 100 anggota diberi seragam baru dan senjata lengkap milik Israel dan mengendalikan beberapa wilayah Rafah.
Kehadiran milisi boneka di tengah aksi genosida di Jalur Gaza Palestina yang semakin berat, mengagetkan dunia Islam International. Pasalnya, aktor kelompok ini, namanya Popular Forces, Yasser Abu Shabab, merupakan tokoh lokal dari klan Rafah.
Kemunculan kelompok ini menjadi sorotan global, bahkan di kalangan penduduk haram Israel yang menduduki tanah Palestina sendiri, karena ia disewa penjajah untuk melawan semua pejuang pembebasan Palestina, termasuk Hamas. Lantas, ibrah apa yang kita temukan disana?
Bukan Barang Baru Israel
Dulu, Balfour berjanji mendirikan entitas Yahudi di negeri kaum Muslim. Tujuannya antara lain untuk menjadi pangkalan terdepannya dalam invasi salibis terhadap umat Islam. Tujuan lainnya adalah untuk menghalangi persatuan umat Islam dan memisahkan bagian timur dari bagian baratnya.
Karenanya, dua garis biru pada bendera Israel bukan tanpa alasan. Menggenggam sungai Nil dan Efrat adalah agenda jangka panjang mereka. Hal itu merupakan batas Tanah Perjanjian menurut pada Kitab Kejadian. Kabarnya di sana akan menjadi tempat penyambutan Ratu Adil mereka nantinya. Segala cara pun harus mereka tempuh.
Seiring dengan itu, dilakukan pula usaha pelebaran sayap. Sejak Khalifah Utsmaniyah telah runtuh dan Turki telah menjadi Republik agar diterima serta sejajar dengan Barat, militer mereka menjalankan agenda yang menyuburkan paham salibis.
Termasuk menyatukan semua kurikulum Madrasah dibawah kementrian pendidikan lewat Undang Undang Penyatuan Pendidikan pada 3 Maret 1924. Secara perlahan, nantinya semua madrasah Islam akan dihapus. Akibatnya, Syaikh Sulaiman Hilmi Tunahan dan madrasahnya sering diawasi saat ceramah atau melakukan kegiatan pendidikan agama.
Baca juga: Islam Menjawab Krisis Eksistensi
Terkadang, beliau ditahan dalam sebuah tempat yang dinamakan tabutluk, karena terlalu buruknya tempat tersebut, serta mengalami penyiksaan di sana. Kata pepatah, lain ilalang lain pula belalangnya.
Kini, di Palestina, dihadirkan pula milisi boneka untuk menghambat warga Palestina hidup tenang di tanah air mereka. Bukan tanpa alasan, Popular Forces dibentuk khusus untuk menjarah truk bantuan kemanusiaan dan monopoli distribusi makanan.
Di sisi lain, Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, kembali meluncurkan narasi yang memihak Yahudi, dengan menyuruh kelompok Hamas segera menyerahkan semua pucuk senjata mereka kepada pasukan keamanan Palestina.
Tindakan represif terhadap umat Islam di Turki era Republik dan di Palestina, hingga kini, tergolong dalam strategi politik belah bambu. Lembaga riset bernama Rand Corp lewat bukunya berjudul Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies mengabadikan taktik licik Israel ini dalam poin nomor 2, yakni mendukung kaum tradisionalis melawan kaum fundamentalis. Buku tersebut berisi metode yang telah terbukti berhasil dimasa lampau untuk melemahkan gerakan kebangkitan umat Islam.
Wahyu Tetaplah Relevan
Dalam menghadapi Yahudi Madinah, Rasulullah saw. pun membutuhkan petunjuk wahyu. seperti yang terekam berikut ini:
“Seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Tuhanmu yang menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong (QS Al-Furqan: 31).
Kalimat “Wa kafâ bi Rabbika hâdiyan wa nashîran (Cukuplah Tuhanmu yang menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong)” mengisyaratkan solusi menghadapi para penjahat yang memusuhi Rasulullah saw dan para pewarisnya dari masa ke masa, yakni semata-mata kembali pada petunjuk dan pertolongan Allah.
Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya (VI/99) menafsirkan: Maknanya, bagi siapa saja yang mengikuti Rasul-Nya dan mengimani Kitab Suci-Nya, maka Allah adalah Pemberi Petunjuk dan Penolongnya di dunia dan akhirat. Dikatakan, “Cukuplah Tuhanmu yang menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong” karena kaum musyrik dulu menghalang-halangi manusia dari perbuatan mengikuti al-Quran.
Lewat wahyu Allah swt., umat Islam mengenal dengan baik pola sifat Yahudi dan Nasrani, misalnya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin kalian. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain” (QS Al-Maidah: 51).
Dalam ayat yang lain disebutkan: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah: 120).
Membangun kekuatan sendiri sekaligus membaca peta politik global, khususnya pola berulang Yahudi dan Nasrani, memanglah kita perlukan. Namun, wahyulah pedoman utama kita. Mustahil meminggirkan teks teks suci sebagai sumber rujukan. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt.
“Lalu Kami menjadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, juga agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Baqarah: 66). Billahi fi sabilil haq.
Editor: Ahmad Bagus Kazhimi



