
Doc. Istimewa
Menceritakan kisah perempuan pada abad 19-an selalu diawali dengan keberhasilannya menembus tembok budaya patriarki. Pada masa itu, stigma bahwa perempuan adalah konco wingking (teman belakang), tidak perlu sekolah tinggi, dan makhluk lemah masih kental. Misal pun perempuan bisa menempuh pendidikan dan berdampak, itupun hanya mereka yang memiliki latar belakang bangsawan dan kaum ningrat.
Budaya patriarki yang masih melekat di masyarakat itu pada akhirnya membentuk narasi yang dilegitimasi menggunakan dalil-dalil agama. Sehingga agama sering kali dituduh ikut mendukung pembatasan ruang gerak perempuan, termasuk untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Padahal, Islam yang tidak pernah demikian.
Nyai Siti Walidah (1872-1946 M) adalah salah satu perempuan pejuang dasar persamaan hak bagi kaum perempuan dalam Islam. Ia berpesan kepada santrinya agar memiliki jiwa srikandi, bukan memiliki jiwa yang kerdil. Baginya, perempuan bukan hanya sekedar pelengkap laki-laki, tetapi perempuan juga harus turut menjadi penggerak kemajuan keluarga, bangsa, dan agama.
Biografi dan perjalanan intelektual
Nyai Siti Walidah lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1872 M. Ia adalah putri dari KH. Muhammad Fadhil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pengkol, seorang ulama dan anggota kesultanan Ngayogyakarta. Ibunya dikenal dengan sebutan Nyai Mas, yang berasal dari Kampung Kauman (Nur Hasan: 2023).
Sejak kecil, Nyai Siti Walidah tumbuh di lingkungan yang menekankan ajaran Islam dengan ketataan dan disiplin tinggi. Masa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar agama, hal ini karena pada zaman itu anak perempuan tidak lazim menempuh pendidikan formal. Selain itu, masyarakat Kauman menganggap bahwa menempuh pendidikan milik Hindia Belanda sama saja menentang ajaran Islam.
Pada 1889 M, Nyai Siti Walidah menikah dengan Muhammad Darwis, nama kecil K.H Ahmad Dahlan. Setelah menikah, wawasan Nyai Siti Walidah semakin berkembang, terutama tentang perempuan dalam perspektif Islam, keorganisasian, dan pendidikan.
Nyai Siti Walidah hidup di tengah masyarakat yang beranggapan perempuan sebagai makhluk kelas dua, anak perempuan tidak diperbolehkan menempuh pendidikan formal. Apalagi, untuk sekolah di lembaga pendidikan mikik Hindia Belanda. Hal itu menyebkan banyak generasi yang hidup sezaman dengannya tidak mengenyam pendidikan formal.
Nyai Siti Walidah, dari “Sopo Tresno” menjadi “Aisyiyah”
Sebagai bentuk aksi nyata, Nyai Siti Walidah mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan dan memperjuangkan hal dasar untuk memperoleh pendidikan. Ia ingin perempuan terbebas dari tuna aksara. Keterlibatannya itu sangat didukung oleh K.H. Ahmad Dahlan. Ia sadar betul dalam membangun bangsa ini, tentunya membutuhkan peran seluruh elemen, baik pria maupun wanita.
Akhirnya, Nyai Siti Walidah memimpin kelompok pengajian “Sopo Tresno”- tahun 1914 M, yang beranggotakan perempuan remaja hingga sudah lanjut usia. Nyai Siti Walidah dan suaminya bergantian memimpin kelompok pengajian itu dengan membaca Al Qur’an dan mendiskusikan maknanya. Nyai Siti Walidah sangat berpendapat bahwa posisi perempuan sangat pentimg untuk menciptakan generasi Islami dan memiliki nilai strategis untuk keberlangsungan dan kemajuan bangsa.
Di Sopo Tresno, anggota diajak mendalami makna al-qur’an dan hadits tentang hak dan kewajiban perempuan. Ia berharap hal ini semakin menumbuhkan kesadaran kaum perempuan tentang hak dan kewjibannya sebagai manusia, istri, hamba Allah Swt, dan warga negara. Nyai Siti Walidah percaya bahwa ibu adalah pendidik pertama dan utama.
Keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh partisipasi keluarga. Jika keluarga telah menjalankan sungsi sebagai madrasah pertama dan utama, maka akan lahir masyarakat yang memiliki karakter baik. Yang mana karakter itu akan terus tumbuh dan dibawa sebagai individu, keluarga, masyarakat, dan warga negara.
Nyai Siti Walidah tidak hanya ingin mengajak anggotanya cerdas dalam berhubungan baik dengan tuhan-Nya, namun lebih dari itu. Ia ingin mengajak angotanya untuk senantiasa belajar dan semakin cerdas dalam memecahkan masalah di sosial masyarakat.
Kelompok pengajian Sopo Tresno semakin masyhur dan berkembang. Pada 28 Jumadil Akhir 1335H, pengajian ini resmi menjadi organisasi resmi di bawah naungan Muhammadiyah yang dinamai Aisyiyah. Penamaan ini merujuk kepada Aisyah Ra. Istri tercita Nabi. Aisyah adalah lamabang wanita yang cerdas, intelek, dan dinilai cocok menjadi nafas perjuangan wanita yang ingin mengentaskan keterbelakangan dalam bidang pendidikan. Hingga sekarang, Aisyiyah terus bekembang dan memberikan dampak bagi kehidupan bangsa ini. (Red)
Penulis : Anik Meilinda ([email protected])



