
Koran.peneleh.org – Meskipun pemerintah telah memastikan tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026, antrean panjang kendaraan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Keputusan yang diambil Presiden Prabowo Subianto ini disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Selasa (31/3), menyusul koordinasi antara Kementerian ESDM dan PT Pertamina. “Bapak Presiden selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Karena itulah, Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga, baik untuk BBM subsidi maupun nonsubsidi,” ujar Prasetyo.
Namun, penegasan ini belum sepenuhnya meredam keresahan di lapangan. Isu kenaikan harga yang beredar luas di media sosial sejak pekan lalu telah memicu aksi panic buying. Di Tangerang Selatan, antrean mengular hingga 200 meter terpantau di SPBU COCO Bintaro Sektor 9, bahkan meluber hingga depan Pasar Modern Bintaro Jaya. Fenomena serupa juga terjadi di SPBU BP Bintaro, di mana warga seperti Willy (44) mengaku tetap memilih mengisi bahan bakar sebagai langkah antisipasi. “Karena banyak yang enggak percaya juga kalau 1 April enggak naik. Mending antre sebentar, kalau ternyata besok naik, ya lumayan hemat,” katanya saat ditemui Kompas.com pada Selasa malam .
Situasi yang lebih ekstrem terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Warga setempat mengeluhkan kelangkaan BBM jenis Pertalite, yang memaksa mereka mengantre sejak pukul 04.30 Wita. Seorang warga berinisial AT (33) menceritakan bahwa antrean di SPBU Balangnipa mencapai panjang 1 kilometer. Untuk mendapatkan empat liter Pertalite, ia harus menunggu hingga tiga jam. “Seandainya ada yang menjual eceran Rp15 ribu per liter, mending itu saya beli daripada antre berjam-jam,” keluhnya kepada detikSulsel, Minggu (29/3).
Di wilayah Jawa Timur, fenomena antrean panjang juga terjadi secara bertahap. Ketua Hiswanamigas Besuki, Ikbal Wilda Fardana, mengungkapkan bahwa kepanikan yang awalnya melanda Jember sejak Kamis (5/3) lalu mulai menular ke kabupaten tetangga seperti Bondowoso dan Situbondo. Di Bondowoso, antrean kendaraan roda empat bahkan sempat mengular hingga ke badan jalan raya di SPBU Grujugan. Kondisi ini dinilai berbeda dengan Banyuwangi dan Lumajang yang relatif aman tanpa antrean berarti. “Kami sudah sampaikan untuk mengedukasi masyarakat supaya tidak membeli BBM berlebihan,” kata Ikbal.
Bupati Jember, Gus Fawait, turut angkat bicara mengenai situasi ini. Ia mengapresiasi kebijakan pemerintah pusat yang tidak menaikkan harga BBM, yang dinilainya sebagai angin segar bagi stabilitas ekonomi daerah di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Meski memastikan stok BBM di wilayahnya aman, ia mengimbau warga untuk tidak terlena dan menghindari panic buying. “Saya berharap masyarakat bisa lebih bijak menggunakan BBM. Stok kita memang aman, tapi penggunaan yang terukur akan sangat membantu meringankan beban subsidi negara,” tegasnya dikutip dari detikJatim.
Menanggapi situasi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan kondisi perekonomian nasional dan stok BBM tetap aman di tengah ketidakpastian global. Pemerintah bahkan telah menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi ASN setiap Jumat serta pembatasan penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen untuk efisiensi energi. Pertamina Patra Niaga juga telah melakukan penguatan koordinasi dengan pemasok dan optimalisasi sistem distribusi. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak dan tidak mudah terpengaruh informasi yang dapat memicu kepanikan.



