
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang berkobar sejak 28 Februari 2026 telah mengguncang pasar energi global dengan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 50 persen dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, memaksa hampir seluruh negara di dunia menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bagi konsumen akhir. Namun di tengah gelombang kenaikan yang melanda Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Tenggara, Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mempertahankan harga BBM tetap stabil.
Berdasarkan data terbaru, harga minyak mentah Brent pada pekan keempat Maret 2026 telah menembus level 113 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 99 dolar AS per barel. Sebagai perbandingan, pada 27 Februari 2026, sehari sebelum serangan dimulai, harga Brent masih berada di level 72,48 dolar AS per barel. Artinya, dalam tempo kurang dari 30 hari, harga minyak dunia telah meroket lebih dari 50 persen. International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut krisis energi kali ini lebih parah dibandingkan krisis minyak 1973, dengan sekitar 400 juta barel minyak atau setara empat hari konsumsi global hilang dari pasokan dunia akibat penutupan Selat Hormuz dan gangguan produksi di berbagai negara penghasil minyak Timur Tengah.
Eropa menjadi salah satu kawasan yang paling terpukul oleh lonjakan harga energi ini. Di Jerman, harga bensin melonjak drastis dalam waktu singkat. Data menunjukkan harga bensin di Negeri Panser meningkat dari sekitar 1,82 euro per liter menjadi 2,16 euro per liter hanya dalam dua pekan, mencatatkan kenaikan hampir 18 persen. Dampaknya langsung terasa di kantong warga dan sektor industri. Gerhard Freitag, manajer pabrik produsen mesin pertanian Claas di Jerman barat, mengungkapkan bahwa biaya transportasi telah melonjak dan tekanan kini merambat ke sektor pertanian akibat melambungnya harga pupuk dan bahan bakar diesel. Di Portugal, harga diesel melonjak hingga 34,3 persen sejak konflik pecah, sementara Spanyol mencatat kenaikan harga diesel sebesar 17,5 persen. Pemerintah Austria pun menerapkan aturan ketat di mana stasiun pengisian bahan bakar hanya diperbolehkan menaikkan harga maksimal tiga kali dalam seminggu untuk mengendalikan gejolak.
Italia mengambil langkah unik dengan merencanakan penggunaan pendapatan pajak pertambahan nilai dari kenaikan harga BBM untuk memberikan kompensasi kepada konsumen, sekaligus mengancam akan menjatuhkan sanksi tegas kepada perusahaan yang terbukti melakukan penimbunan atau menaikkan harga secara tidak wajar. Prancis, meskipun relatif lebih berhati-hati dengan tidak langsung menurunkan pajak BBM, tetap merasakan dampak signifikan. Perusahaan energi raksasa TotalEnergies terpaksa memberlakukan pembatasan harga BBM hingga akhir Maret untuk meringankan beban masyarakat. Sementara itu, di Polandia dan Hungaria, tekanan kenaikan harga juga mulai terasa meskipun pemerintah kedua negara masih menahan diri untuk tidak mengeluarkan kebijakan stimulus besar-besaran.
Melintasi Samudra Atlantik, Amerika Serikat juga mengalami lonjakan harga BBM yang signifikan. Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan bahwa harga rata-rata nasional bensin reguler di AS pada 21 Maret 2026 mencapai 3,925 dolar AS per galon, naik tajam dari 2,929 dolar AS per galon sebulan sebelumnya. Artinya, dalam kurun waktu satu bulan, warga Amerika harus membayar hampir satu dolar lebih mahal untuk setiap galon bensin. Bahkan dalam 18 hari pertama Maret saja, harga bensin telah melonjak 90 sen, sebuah rekor kenaikan tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Tiga negara bagian, yakni California, Washington, dan Hawaii, kini mencatatkan harga BBM di atas 5 dolar AS per galon, dengan California menjadi yang termahal mencapai 5,62 dolar AS per galon. Nevada, Oregon, Arizona, Alaska, dan Illinois menyusul dengan harga rata-rata di atas 4 dolar AS per galon.
Di Asia, dampak krisis energi ini terasa sangat nyata dengan hampir seluruh negara di kawasan terpaksa menaikkan harga BBM. Korea Selatan mengambil langkah drastif dengan memberlakukan pembatasan harga bahan bakar untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun, sebuah indikasi betapa seriusnya tekanan yang dihadapi negara tersebut. Presiden Lee Jae Myung dalam pertemuan darurat menyatakan bahwa krisis ini menjadi “beban berat bagi perekonomian” Korea Selatan yang mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Jepang, yang ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah mencapai 95 persen, tengah bersiap untuk melepas cadangan minyak nasionalnya. Pemerintah Jepang juga telah mulai mengkaji kenaikan harga listrik dan gas, sementara harga BBM di dalam negeri sudah menunjukkan tren kenaikan sejak awal Maret.
Di Asia Tenggara, nyaris seluruh negara anggota ASEAN telah menaikkan harga BBM. Malaysia menjadi salah satu yang paling terdampak dengan kenaikan signifikan selama dua pekan berturut-turut. Per 23 Maret 2026, harga RON95 di Negeri Jiran melonjak menjadi 3,27 ringgit Malaysia per liter dari sebelumnya 2,59 ringgit Malaysia pada akhir Februari. Sementara itu, RON97 meroket menjadi 4,55 ringgit Malaysia dari 3,15 ringgit Malaysia, dan diesel di Semenanjung Malaysia melonjak tajam ke level 4,72 ringgit Malaysia per liter dari sebelumnya 3,04 ringgit Malaysia.
Singapura, negara kota yang selama ini dikenal dengan harga BBM kompetitif, juga tidak luput dari tekanan. The Straits Times melaporkan per 17 Maret harga bensin oktan 95 di SPBU Cnergy mencapai 2,35 dolar Singapura per liter, sementara di stasiun pengisian Caltex, Shell, dan Esso, harga bensin oktan 95 dijual seharga 3,47 dolar Singapura per liter sebelum potongan harga. Angka ini melonjak cukup tajam dari harga di akhir Februari yang hanya 2,88 dolar Singapura per liter.
Thailand juga mengalami kenaikan serentak. The Nation melaporkan harga gasohol series dan bensin naik 1 baht Thailand per liter, sementara diesel naik 0,70 baht Thailand per liter. Gasohol 95 kini mencapai 33,05 baht Thailand per liter, petrol dibanderol 41,64 baht per liter, dan diesel berada di harga 31,14 baht Thailand per liter. Pemerintah Thailand bahkan mengambil langkah ekstra dengan menghentikan sementara perjalanan dinas luar negeri bagi pejabat pemerintah untuk menghemat anggaran.
Vietnam mencatatkan kenaikan harga yang cukup mencolok. Tuoi Tre News melaporkan per 19 Maret, harga bensin E5 RON92 dibatasi sebesar 27.177 Vietnam Dong per liter, naik 4.673 Vietnam Dong. RON95-III meningkat menjadi 30.690 Vietnam Dong per liter, naik 5.115 Vietnam Dong. Diesel 0.05S naik menjadi 33.420 Vietnam Dong per liter, bertambah 6.395 Vietnam Dong. Bangladesh bahkan terpaksa menutup sementara sejumlah universitas dalam upaya menghemat konsumsi listrik dan bahan bakar.
Di tengah gelombang kenaikan harga yang melanda hampir seluruh dunia, Indonesia menjadi pengecualian yang mencolok. Hingga Senin, 23 Maret 2026, harga BBM di dalam negeri baik di SPBU Pertamina maupun swasta seperti Shell, BP, dan Vivo masih belum mengalami perubahan sejak awal Maret. Untuk wilayah Jakarta, Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter, solar subsidi Rp6.800 per liter, Pertamax Rp12.300 per liter, Pertamax Turbo Rp13.100 per liter, dan Pertamax Green Rp12.900 per liter. Di SPBU swasta, Shell Super dijual Rp12.390 per liter, BP Ultimate Rp12.930 per liter, dan Revvo 92 Rp12.390 per liter. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah belum memiliki rencana kenaikan harga BBM subsidi, meskipun skenario darurat telah disiapkan dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia mencapai 115 dolar AS per barel dan kurs rupiah di level 17.500 per dolar AS yang dapat mendorong defisit APBN hingga 4,06 persen.
Namun para analis memperingatkan bahwa tekanan terhadap perekonomian global akibat lonjakan harga energi ini baru akan terasa dalam beberapa bulan ke depan. Kelangkaan pasokan LNG yang mencapai 12,8 juta ton per tahun akibat hancurnya fasilitas Ras Laffan di Qatar, ditambah dengan terganggunya sekitar 20 persen pasokan energi global akibat penutupan Selat Hormuz, diperkirakan akan menambah 50 basis poin pada inflasi global dan berpotensi memangkas produk domestik bruto (PDB) global hingga 30 hingga 40 basis poin. Negara-negara seperti Jepang, Jerman, dan Inggris bahkan disebut-sebut berisiko mengalami resesi jika harga minyak bertahan di atas 120 dolar AS per barel dalam waktu yang panjang. Sementara bagi Indonesia, tantangan terbesar ke depan adalah menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas APBN di tengah ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.



