
Gelombang protes besar-besaran melanda berbagai negara di dunia mengecam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Hingga hari ke-24 konflik, korban jiwa di Iran dan Lebanon telah mencapai ribuan orang, dengan Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 1.444 orang tewas dan 18.551 orang luka-luka akibat serangan AS-Israel. Serangan ini juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, bersama dengan belasan pejabat keamanan dan petinggi militer Iran, menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan Timur Tengah yang terjadi tepat saat negosiasi antara Washington dan Teheran justru menunjukkan perkembangan signifikan, sehingga aksi militer tersebut mengejutkan banyak pihak dan dikritik karena mengganggu proses diplomatik yang sedang berjalan.
Di Spanyol, ribuan warga memadati ibu kota Madrid untuk menyatakan penolakan terhadap perang AS-Israel terhadap Iran. Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Tidak untuk Perang” dan meneriakkan slogan-slogan menentang intervensi Presiden AS Donald Trump serta mengecam apa yang mereka sebut sebagai “kaum fasis”. Irene Montero, anggota parlemen Eropa dari Partai Podemos Spanyol, hadir dalam aksi protes tersebut dan menyerukan pemerintah Spanyol untuk keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia memperingatkan, “Selama kita berada di NATO, kita sedang berperang, mau tidak mau. Selama pasukan Amerika berada di pangkalan-pangkalan Spanyol, kita menjadi kaki tangan dalam kejahatan Trump dan Netanyahu.” Hasil survei dari Pusat Penelitian Sosiologi Spanyol (CIS) menunjukkan 69 persen warga negara Spanyol menentang perang agresif AS dan Israel terhadap Iran.
Untuk minggu ketiga berturut-turut, ribuan aktivis anti-perang dan anggota kelompok hak asasi manusia mengadakan demonstrasi di Inggris, mengutuk agresi militer AS dan Israel terhadap Iran serta menyatakan solidaritas dengan pemerintah dan rakyat Iran. Di London, para peserta membawa bendera Iran dan spanduk bertuliskan “Hentikan Pemboman”, “Tinggalkan Iran”, dan “Hentikan Perang”, mengubah jalan-jalan London menjadi ajang teriakan anti-Amerika dan anti-Zionis. Dalam pernyataan resmi, para pengunjuk rasa menggambarkan agresi militer AS-Israel sebagai “serangan brutal” yang menewaskan sebagian besar warga sipil serta menargetkan sekolah-sekolah dan rumah sakit. Mereka juga menuntut pemerintah Inggris menghentikan dukungannya terhadap perang ini. Selain London, kota-kota Birmingham, Cardiff, dan Manchester juga menyaksikan aksi protes serupa. Perlu dicatat bahwa untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, pemerintah Inggris melarang pawai Hari al-Quds di London, dengan alasan risiko gangguan ketertiban umum terkait situasi Timur Tengah yang memanas.
Para pengunjuk rasa di Kanada juga turun ke jalan-jalan Vancouver, mendesak pemerintah Kanada untuk mengambil posisi yang lebih tegas terhadap AS dan Israel yang telah memulai serangan terhadap Teheran. Protes serupa meluas di seluruh Eropa dan Amerika Utara, dengan para demonstran di kota-kota termasuk Paris dan berbagai kota besar lainnya menyerukan gencatan senjata segera dan mendesak pemerintah mereka untuk tidak mendukung konflik tersebut. Pada tanggal 13 Maret 2026, puluhan ribu orang berkumpul di seluruh dunia dalam peringatan Hari al-Quds tahunan, sebuah acara yang menunjukkan solidaritas dengan Palestina dan oposisi terhadap pendudukan Israel, dengan unjuk rasa berlangsung di berbagai negara termasuk Iran, Malaysia, Indonesia, Kashmir, dan Yaman. Di Kashmir, para pengunjuk rasa membakar peti mati palsu bergambar Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sambil meneriakkan slogan-slogan menentang AS dan Israel, sementara di Teheran, ribuan orang berbaris meneriakkan “kematian bagi Israel” dan “kematian bagi Amerika” saat kampanye militer AS-Israel memasuki hari ke-14 konflik.
China secara terbuka melayangkan protes diplomatik keras atas serangan AS dan Israel terhadap Iran, dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyampaikan keberatan langsung kepada Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, dalam percakapan telepon. China menilai langkah militer tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas dan justru berlawanan dengan tujuan stabilitas kawasan. Wang Yi menekankan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan, melainkan berisiko melahirkan masalah baru dengan dampak jangka panjang, dan Beijing mendesak penghentian segera operasi militer guna mencegah konflik berkembang di luar kendali. Sikap serupa disuarakan Rusia, dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menilai serangan AS dan Israel justru dapat memicu efek yang ingin mereka hindari, yakni meningkatnya dorongan di Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. Lavrov memperingatkan bahwa konflik ini dapat memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah, sementara Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataan resminya menuding serangan tersebut sebagai tindakan agresi bersenjata yang dapat mendorong kawasan menuju krisis kemanusiaan, ekonomi, bahkan risiko bencana radiologis, serta menegaskan kesiapannya membantu mencari solusi diplomatik.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatullah Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya Ali Khamenei yang gugur dalam serangan awal perang, menyatakan bahwa Iran berhasil memberikan “pukulan telak” kepada AS dan Israel. Dalam pesan tertulis untuk Tahun Baru Persia, Nowruz, pada 20 Maret 2026, ia menekankan bahwa persatuan rakyat Iran menjadi kunci dalam menghadapi tekanan dari luar dan menyebut konflik melawan AS dan Israel sebagai bagian dari rangkaian perang ketiga yang dihadapi Iran dalam setahun terakhir, setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 dan gelombang protes nasional yang diklaim dipicu oleh campur tangan asing. Ketegangan terus meningkat dengan fokus perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz, di mana Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali selat tersebut, mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika ancamannya tidak dipenuhi, sementara Iran merespons dengan mengancam akan menutup jalur perairan vital itu tanpa batas waktu dan menyerang infrastruktur regional, menyebabkan harga minyak melonjak dengan minyak mentah Brent mencapai 114,09 dolar AS per barel, menambah kekhawatiran tentang inflasi global.
Dalam pertemuan luar biasa Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah, Menteri Luar Negeri Iran memaparkan sejumlah proposal untuk mendukung Palestina dan menghentikan agresi, mendesak negara-negara Muslim untuk memutus hubungan dengan Israel sebagai bentuk protes praktis terhadap kejahatan perang Israel dan meminta pengadilan kejahatan perang untuk mengadili para pelaku kejahatan perang Israel. Gelombang protes global terhadap serangan militer AS-Israel ke Iran menunjukkan bahwa opini publik di berbagai negara, baik di Eropa, Amerika Utara, maupun Asia, secara luas menentang eskalasi konflik ini, meskipun negara-negara Eropa menghadapi posisi yang sulit karena ikatan aliansi dengan Washington membatasi pilihan kebijakan mereka. Konflik ini juga menyoroti semakin terfragmentasinya tatanan global, dengan negara-negara besar seperti China dan Rusia secara terbuka menentang tindakan militer AS dan Israel, serta menawarkan jalur diplomatik alternatif untuk menyelesaikan krisis, sementara seruan untuk gencatan senjata dan solusi diplomatik semakin menguat dari berbagai penjuru dunia seiring dengan korban jiwa yang terus bertambah dan potensi konflik yang meluas ke seluruh kawasan.



