
TOKYO – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Jepang mengalami lonjakan signifikan dalam sebulan terakhir. Akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah (Timteng), harga rata-rata bensin nasional kini mencapai 161,80 yen per liter, atau setara dengan sekitar Rp17.230.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Rabu (11/3/2026), melaporkan bahwa kenaikan ini merupakan yang keempat kalinya secara berturut-turut. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik di Iran, termasuk serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, yang langsung mendorong harga minyak mentah dunia melambung.
Pusat Informasi Minyak Jepang memperkirakan tekanan harga belum akan mereda dalam waktu dekat. Analis memproyeksikan harga bensin dapat menembus angka 180 yen pekan depan, atau melonjak sekitar 20 yen dari posisi saat ini, selama ketegangan di kawasan penghasil minyak tersebut masih berlanjut.
Lonjakan harga BBM ini menjadi ujian berat bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang sedang berupaya keras mengendalikan inflasi. Kondisi ini kontras dengan situasi beberapa bulan sebelumnya.
Pada pertengahan Januari lalu, harga bensin sempat berada di level terendah dalam empat setengah tahun, yaitu 154,70 yen. Saat itu, rendahnya harga energi berkontribusi pada perlambatan inflasi nasional yang turun ke angka 2,0 persen, level terendah dalam dua tahun terakhir. Momen tersebut dimanfaatkan pemerintah setelah berakhirnya pajak bensin sementara pada Desember tahun lalu.
Namun, situasi kini berbalik. Kenaikan harga bensin dipastikan akan menekan daya beli masyarakat dan berpotensi mengerek laju inflasi kembali naik. Tak hanya bensin, kementerian mencatat harga komoditas energi lainnya seperti solar dan minyak tanah juga mengalami kenaikan di seluruh wilayah Jepang pada pekan ini.



