
Anggota Majelis Pengambil Keputusan Kepentingan Sistem dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Iran, Mohsen Rezaei, mengaitkan hasil perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dengan pemilihan presiden Amerika Serikat yang akan datang. Melalui sebuah postingan di akun media sosial X pada Selas (11/3/2026), Rezaei menegaskan bahwa akhir dari perang ini akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan dan sistem internasional demi kepentingan Iran. Lebih jauh, ia mengancam bahwa Presiden AS Donald Trump bakal mengalami nasib yang sama seperti mantan Presiden Jimmy Carter, meskipun Trump saat ini sedang menjalani masa jabatan keduanya.
Peringatan Rezaei akan nama Jimmy Carter menegaskan bahwa Teheran masih memandang masalah sandera dan krisis regional sebagai alat yang efektif untuk mengalahkan presiden Amerika Serikat dalam pemilihan umum. Ia merujuk secara jelas pada tahun 1980, ketika krisis sandera di kedutaan Amerika di Teheran menyebabkan popularitas Carter merosot dan berujung pada kekalahannya dalam pemilihan umum dari Ronald Reagan. Krisis tersebut berlangsung selama 444 hari, setelah sekelompok mahasiswa revolusioner menyerbu gedung kedutaan AS di Teheran pada 4 November 1979 dan menahan 52 pegawai serta diplomat Amerika. Alasan yang tampak saat itu adalah untuk menghukum Amerika Serikat karena memberikan suaka kepada Shah yang digulingkan, Mohammad Reza Pahlavi. Carter terlihat lemah di mata publik setelah misi penyelamatan militer yang ia perintahkan pada 1980 berakhir dengan kegagalan dan menewaskan delapan tentara Amerika dalam kecelakaan pesawat. Dengan menurunnya popularitasnya, Ronald Reagan memanfaatkan situasi tersebut untuk memikat para pemilih, dan berhasil memenangkan pemilihan presiden yang diselenggarakan pada 4 November 1980, satu tahun setelah krisis tersebut meletus. Para sandera akhirnya dibebaskan bertepatan dengan pelantikan Reagan sebagai presiden pada 20 Januari 1981.
Serangan bersama Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran sendiri telah dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan suara ledakan terdengar di ibu kota Teheran dan sejumlah kota lain termasuk Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj. Presiden Donald Trump mengumumkan serangan tersebut sebagai operasi militer berskala besar di Iran, dengan tujuan melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang akan datang dari rezim Iran. Trump juga menyebut rezim Iran sebagai kelompok jahat yang terdiri dari orang-orang kejam dan buruk, serta menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Menteri Pertahanan Israel menyatakan bahwa Tel Aviv telah melancarkan serangan kedua terhadap Iran, sementara seorang pejabat Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa pasukan Amerika Serikat turut serta dalam serangan tersebut yang diperkirakan akan berskala besar dan tidak terbatas pada serangan terbatas. Jaringan berita Amerika Serikat CNN mengutip dua sumber yang mengatakan bahwa militer AS berencana untuk melanjutkan serangan selama beberapa hari. Kantor berita Iran Mehr melaporkan bahwa layanan seluler terputus di beberapa wilayah di ibu kota Teheran akibat serangan tersebut.
Meskipun Trump telah memenangkan masa jabatan kedua dalam pemilihan November 2024 dan konstitusi AS tidak mengizinkannya mencalonkan diri untuk periode berikutnya, hasil perang tersebut diperkirakan tetap dapat memengaruhi Partai Republik dalam pemilihan sela yang dijadwalkan pada November 2026, serta dapat membayangi warisan politik Trump secara keseluruhan. Rezaei dalam unggahannya menuliskan dalam bahasa Persia yang diterjemahkan, “Akhir dari perang ini, di titik mana pun, akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan dan sistem internasional demi kepentingan Iran Islam. Ini juga akan memainkan peran yang menentukan dalam pemilihan umum AS yang akan datang. Nasib Carter akan terulang kembali.” Pernyataan ini menjadi peringatan keras dari Teheran bahwa konflik berkepanjangan dengan Iran dapat menjadi bumerang politik bagi Trump dan partainya, sebagaimana krisis sandera empat dekade lalu menghancurkan reputasi dan kursi kepresidenan Jimmy Carter. Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman prediksi dari eks komandan Garda Revolusi Iran tersebut.



