
Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras bahwa pemimpin tertinggi baru Iran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Washington. Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah meningkatnya ketegangan usai serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei pekan lalu.
“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump dalam wawancara dengan ABC News, seperti dikutip Astro Awani. Trump menegaskan bahwa AS harus terlibat dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran. Ia bahkan menyamakan langkah itu dengan campur tangannya di Venezuela, di mana AS berperan dalam penggulingan Presiden Nicolas Maduro. “Saya tidak ingin orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.
Trump secara khusus menolak Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei yang kini resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Ia menyebut Mojtaba sebagai figur “kelas ringan” dan “tidak kompeten”. “Putra Khamenei tidak bisa saya terima. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios. Meski demikian, Trump mengaku terbuka terhadap kemungkinan kepemimpinan baru dari dalam rezim yang ada saat ini. “Ada banyak orang yang memenuhi syarat,” katanya.
Pernyataan Trump langsung mendapat respons tegas dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi adalah urusan internal Iran dan tidak ada kekuatan luar yang boleh ikut campur. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun ikut campur dalam urusan domestik kami,” kata Araghchi dalam program “Meet the Press”. Ia bahkan menuntut Trump “meminta maaf kepada rakyat kawasan ini” karena memulai peperangan. Senior ulama Ahmad Alamolhoda juga menegaskan bahwa Majelis Ahli telah memilih penerus dan keputusan itu adalah hak mutlak Iran.
Sementara perang kata-kata berlangsung sengit, konflik di Timur Tengah terus meluas hingga hari kesembilan. Militer Israel memperluas operasi dengan melancarkan serangan terhadap depot bahan bakar di sekitar Teheran serta serangan ke sebuah hotel di tengah Beirut yang menewaskan lima komandan Garda Revolusi Iran. Di Teheran, lima fasilitas minyak diserang, menyebabkan asap tebal menyelimuti kota dan kualitas udara memburuk drastis. Otoritas setempat memperingatkan warga untuk tetap di dalam rumah karena risiko toksik.
Seorang penduduk Teheran berusia 35 tahun menuturkan kesulitan yang dialaminya. “Kebakaran berlangsung lebih dari 12 jam, udara tidak bisa dihirup. Saya tidak bisa keluar untuk membeli barang kebutuhan. Sejak kemarin, orang-orang bilang tidak ada bensin di stasiun pengisian,” katanya. Di Israel, beberapa ledakan terdengar di Tel Aviv setelah peluru kendali dari Iran diarahkan ke kota itu. Enam orang dilaporkan cedera dalam serangan tersebut. Garda Revolusi Iran menegaskan mereka memiliki persediaan cukup untuk melanjutkan perang menggunakan drone dan peluru kendali hingga enam bulan ke depan.
Di dalam negeri AS, dukungan politik untuk perang Iran ternyata tipis. Dewan Perwakilan Rakyat AS menolak resolusi war powers untuk menghentikan serangan Trump ke Iran dengan hasil 219 berbanding 212. Sehari sebelumnya, Senat juga menggagalkan langkah serupa dengan hasil 53 lawan 47. Anggota DPR dari Partai Demokrat Gregory Meeks mengecam sikap Trump. “Donald Trump bukan raja, dan jika ia percaya perang dengan Iran adalah kepentingan nasional kita, maka ia harus datang ke Kongres dan menyampaikan alasannya,” katanya. Bahkan dari kubu Republik, Thomas Massie menilai pemerintah gagal memberi alasan yang jelas atas perang itu. “Pemerintahan ini bahkan tidak bisa memberi kami jawaban yang lurus tentang mengapa kami meluncurkan perang preemptif ini,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian ini, Trump tetap bersikukuh pada pendiriannya. “Saya tidak membuat prediksi. Yang bisa saya katakan adalah, dalam hal tingkat kematian dan waktu, kami berada di depan jadwal,” katanya.



